
Tiga hari bisa menerima perawatan pasca bunuh diri nya, Adnan sungguh tidak bisa jauh dari istri nya, terhitung dua bulan mereka berpisah,
Nisa akan di bawa pulang ke rumah sang ibu,
Riana dan Tama menyetujui itu,
namun entah dengan Yoga, dia tidak muncul ke rumah sakit sejak malam Adnan pulang.
" Adnan, maaf karna dulu kakak pernah bilang ingin mengambil bayi jika nisa sudah melahirkan, namun setelah kejadian ini, kakak baru sadar bahwa kakak ada di pihak yang salah,
aku ga akan ragu dengan siapa Nisa dan cucu ku hidup, tapi aku sebagai kakek nya, janji, akan selalu memberikan apa yang menjadi hak nya, walaupun aku tau kamu mampu"
Tama menyeruput kopi nya,
ia dan Riana langsung datang ke rumah sakit karna tau Nisa akan di bawa pulang
"kak, Adnan menyayangi Nisa, walaupun saat bertemu kondisi dia berbeda dengan wanita lain, Adnan menyayangi Razky juga sebelum dia lahir, kakak tau, bagaimana merasakan gerakan nya masih dalam perut, itu membuat Adnan menyayangi Nisa berkali kali lipat,
inshaAllah Adnan ga akan menyakiti mereka"
Tama mengangguk yakin, ia percaya adik nya itu
"kakak hanya minta, jangan putus komunikasi,
Riana pun pasti senang melihat perkembangan cucu nya walau lewat HP "
Adnan mengangguk,
ia melirik jam di tangan nya, mungkin Nisa dan keluarga nya sudah siap,
Adnan dan Tama bangun, berjalan beriringan menuju ruang rawat Nisa,
Ratih melihat Tama dan Adnan datang,
Ratih memeluk Adnan.. menangis di sana, bagaimana pun ia saksi kedekatan nya dengan Nisa,
"kembalikan Nisa yang dulu Mas, aku percaya sama kamu kamu pasti bisa,
aku pasti akan merindukan kalian, terutama bunga, ia merasa kehilangan kakak nya pasti"
"apa yang bisa Adnan bilang selain terimakasih bu, berkat pertemuan kita di warung ibu kita jadi menikah"
"hidup lah dengan bahagia,
itu sudah cukup buat ibu, "
Nisa sudah siap, Adnan mendorong kursi roda Nisa menuju mobil nya,
bang Rendi menjadi sopir seperti biasa,
mereka akan pulang dengan satu mobil saja, Adnan biar bisa sambil istirahat duduk di belakang dengan ibu dan Nisa,
kembali menempuh perjalanan kurang lebih 3jam,
mereka sampai,
Nisa tersenyum melihat rumah masa kecil nya..
untuk ke dua kali nya datang dengan drama yang berbeda.
"mas gimana sama kerjaan mas nanti? " Nisa membelai rambut suami nya yang sedang merebahkan diri dengan putra nya,
"kamu jangan khawatir sayang.. mas akan mendapatkan kucuran hasil setiap bulan walau tidak bekerja.. mas punya 50% saham di Pratama"
Nisa tersenyum
"jadi mas ga akan buru buru pulang lagi kan? “
" engga dong sayang.. mas kangen kalian "
Adnan beralih, tidur di pangkuan sang istri,
istri nya mulai memiliki kecerahan di wajah nya, Nisa sering tersenyum lagi,
"aku takut kamu ga pulang mas,
berat rasa nya menghadapi semua nya tanpa kamu"
mendekatkan bibir ke kening sang istri, Adnan menciumi wajah istri nya yang berakhir ciuman di bibir.
waktu nya makan malam,
rumah hangat lagi, ramai lagi, bahkan kini ada suara tangis bayi yang meramaikan rumah ini,
ibu memberikan Nisa makanan lengkap, ia ingin putri nya kembali mendapat tubuh nya yang dulu, bukan hanya Adnan mungkin yang aneh dengan bentuk tubuh Nisa yang baru, ibu pun merasa kasihan..
Nisa sangat lahap makan,
ibu sengaja memasak makanan kesukaan nya.. rasa lelah nya kembali dari rumah sakit tidak ia hiraukan.. hati nya kini senang dan tenang ini cukup membuat nya bahagia..
hari semakin cepat berlalu,.
Razky sudah semakin besar usia nya 5 bulan,
pipi chubby dan tubuh montok nya membuat siapa pun yang melihat ingin mencium nya,
wlau waktu sudah bergulir cukup lama,
Adnan terus waspada, ia masih menghawatirkan tentang yoga, tidak mau sesuatu terjadi lagi dengan anak istri nya,
kehidupan mereka seperti orang orang lain nya,
Adnan berniat membeli rumah di dekat rumah ibu Nisa, namun sang ibu melarang nya,
mereka tidak mau berpisah lagi,
ayah dan bang Rendy pun tidak masalah dengan itu.
"aku ga enak sebener nya tinggal di sini, kita sudah ber rumahtangga sayang" kata Adnan pada istri nya
"ya bagaimana lagi mas, ibu ga ngijinin kita pindah" Nisa tersenyum.
"coba nanti aku pelan pelan obrolin sama ibu ya"
Adnan tersenyum.
mereka bahkan sering kehilangan putra mereka..
mentang mentang Razky minum susu formula, ia jadi sering di culik ibu dan calon istri bang Rendi kalau berkunjung,
seperti malam ini,
Adnan membelai rambut istri nya,
menatap wajah nya setiap inci,.
Nisa tersenyum,
sejak ia sudah pulih, Adnan baru mau menyentuh nya untuk berhubungan suami istri,
sungguh lelaki yang sabar bukan? menunggu Nisa yang sudah halal selama ini..
"mass" Adnan sedang terpejam mata nya, menerima usapan lembut tangan istri nya di dada,
"apa sayang"
Nisa bangkit, tubuh nya masih rebahan.. namun satu tangan nya menjadi tumpuan,
menghadap pada Adnan Nisa menciumi pipi suami nya,
bergerak ke telinga, lalu leher, Adnan paling tidak bisa mendapatkan sentuhan di daerah itu, hasrat nya seketika naik,
Nisa tersenyum puas melihat suami nya bergidik kegelian,
"kamu nakal ya? “ Adnan tertawa,
seketika mengangkat tubuh nya membalikan ke adaan, Nisa kini yang berada di bawah nya,
Adnan memandangi wajah istri nya.. pipi Nisa mulai ter isi, wajah nya bersinar, memancarkan kebahagiaan..
Adnan menyerang nya, tidak akan melepaskan Nisa malam ini, mumpung Razky pun di culik oleh nenek nya,
biasa nya mereka akan terganggu saat kegiatan malam nya karna Razky bangun meminta susu.