Annisa

Annisa
pertemuan tak terduga



di depan nya kini ada Riko dan keluarganya, ayah nisa pun ada di sana ikut menyambut nya,


"mass (wanita mana yang tak akan luluh melihat ini)


Riko mendekat, ia hampir tak berkedip melihat pujaan hati nya tampil beda malam ini, nisa pandai memadu madan kan penampilan nya di tambah hijab yang ia kenakan sangat rapih,


" kamu cantik sekali dek, "


pipi nya merona, mendapat pujian itu, Riko menyalami calon ibu mertua nya dan calon abang nya itu,


kedua keluarga saling berkenalan,


ibu nisa dan mamah Riko sangat bahagia,


"mas ga bilang apa apa sama nisa? " (ia merasa di bohongi)


"kan namanya juga kejutan, ga akan seru lah kalo di kasih tau"


mereka melempar senyum, jujur nisa bahagia, namun tetap sudut hati nya begitu ngilu melihat senyuman yang terpancar dari semua keluarga yang datang hari ini,


kenapa secepat ini mas? bagaimana dengan hubungan kita kedepan nya nanti nisa ga tau, mereka akan semakin terluka, mengetahui kebenaran nya nanti, namun nisa sudah di sini ia tak tau rencana ini, mungkin jika ia tau nisa akan menolak nya


nisa dan keluarga nya duduk di sebelah kanan, dan Riko juga keluarga nya duduk di sebelah kiri, saling berhadapan,


tanpa nisa ketahui, Riko pernah datang ke rumah nya. dengan serius, meminta pada ayah dan ibu nya untuk ia jadikan istri. ya Riko penuh kejutan..


nisa tertunduk, tangan nya saling memilin di bawah meja sana, ia grogi.


perwakilan dari keluarga Riko memulai acara nya, sambutan, basa basi dan tujuan mereka datang di utarakan,


kini giliran keluarga nisa, bang Rendy bangun,mewakili keluarga juga memberikan sambutan, namun lebih singkat, dan inti nya keluarga nisa menerima dengan senang hati maksud baik keluarga Riko,


bang Rendy bertanya pada adik semata wayang nya itu, ia menatap sang adik sendu, tak menyangka gadis kecil nya ini kini akan di ambil orang,


"Annisa riani adik abang semata wayang, maaf abang mungkin terlalu posesif menjaga mu, itu karena abang sayang sama kamu dek,


(ibu sudah terisak, ayah pun menundukan kepala nya meresapi kata demi kata yang diucapkan si sulung)


mata nisa tertuju pada sang abang,


Rendy menjeda ucapan nya, ia menahan getaran yang timbul karena menahan emosi nya,..


" kini, sudah waktu nya kami melepas kewajiban kami, ayah ibu dan abang akan kehilangan gadis kecil di rumah kami,


(air mata nisa meluncur juga)


kini, kami serahkan semua nya pada mu dek, mau kah kamu menerima lamaran dari Riko dan keluarga nya?? "


nisa menyeka air mata nya, di tatap lagi sang abang


"Tuhan aku harus bagaimana?? nisa bergumam dalam hati"


bang rendy mempersilahkan adik nya untuk menjawab,


menarik nafas dalam, nisa mengangguk


"nisa mau bang"..


"alhamdulillah" (Rendy berucap syukur, di barengi keluarga yang lain)


kini momen paling di nanti semua orang terlebih Riko, ia ingin cepat menyematkan cincin yang sudah ia siapkan, mengikat nisa dengan hubungan yang lebih serius, tinggallah nanti keluarga menentukan hari baik untuk pernikahan mereka.


Riko bangkit dari duduk nya, nisa pun demikian,


menoleh pada ayah dan ibu nya,


ibu tersenyum senang, ayah pun demikian. mereka menganggukan kepala tanda setuju.


"mari dek, mendekat pada abang" (ucap Rendy menggapai tangan adik nya, Riko datang dari lawan arah)


"Bismillahirrahmanirrahim, dengan ijin Allah, semoga kalian selalu di lindungi nya, tak ada halangan apa pun sampai nanti waktunya janji suci "


amiiiiinnnn


"Riko silahkan.. ( bang rey mundur beberapa langkah memberi ruang lebih untuk adik adik nya,


tangan Riko bergetar, keluarga melihat itu, dan mereka menertawakan nya, itu membuat Riko tambah grogi, namun akhir nya tersemat juga cincin di jari manis nisa Riko mencium jari tangan nisa yang sudah terhias cincin bermata satu itu, sangat indah..


keluarga bersorak, mereka semua bahagia.


tanpa mereka, terlebih nisa sadari,


seseorang di ujung ruangan sana terbakar hati nya melihat momen itu berlangsung,


klien yang berhadapan dengan nya menjadi bingung, dan ketakutan, apa yang terjadi??


beni mendekat, ia tau apa yang bos nya lihat, karna ia juga melihat nya, beny dapat menarik kesimpulan bahwa tuan nya menyukai gadis itu, gadis yang sama, walaupun beny tak mengetahui apa yang terjadi malam itu,


yoga bangkit, meninggalkan meja nya, ia meninggalkan klien nya begitu saja, cemburu nya menuntun ia untuk mendekat ke arah nisa.


begitu ingin nya ia membawa nisa ke pelukan nya, memberi tahu semua orang bahwa nisa hanya milik nya,


para pelayan sedang menghidangkan makanan spesial di meja, sebentar lagi acara jamuan makan di mulai,


bang Rendy baru selesai menerima telpon ketika ia berbalik, yoga sudah ada di hadapan nya,


Rendy sedikit terkejut ia tau siapa yang ada di hadapan nya kini


"pak yoga? anda di sini juga? “


yoga tersenyum dan mengangguk, mengulurkan tangan nya, mereka berjabat tangan.


" apa kabar ren, saya perhatikan dari tadi, tapi saya takut salah orang, dan ternyata benar"


"ah, maaf saya tidak memperhatikan bapak"


"ga masalah, apa sedang ada acara? (yoga bertanya pura pura tidak tau)


" iya betul, adik saya nisa sedang lamaran, mari pak, saya kenalkan anda ke keluarga saya.. “


"dengan senang hati Ren"


ada senyum tersampir di sudut bibir yoga, ia ingin tau apa reaksi nisa melihat kedatangannya,


"ayah, ibu, kenalkan ini bos Rendy namanya pak yoga"


(deg, nisa mendengar itu, apakah itu yoga yang sama dengan yang ada di pikiran nya, dengan keraguan yang sangat amat dalam, nisa menoleh benar dia yoga yang sama, sedang bersalaman dengan ayah dan ibu nya)


" apa lagi ini Tuhan, bang Rendy mengenal yoga? nisa membatin"


"dan ini adik saya nisa.. (Rendy mempertemukan mereka, mata nisa menyorot tajam pada mata yoga, yoga tersenyum manis menjabat tangan nisa yang begitu lembut,


" Annisa riani (yoga menyebut nama lengkap nisa)


Riko mendengar nya, Rendy pun terkejut..


"kalian saling kenal?? (Rendy bertanya)


" kami baru saja bekerja sama, kantorku mengajukan perkreditan untuk karyawan "


"wahh kebetulan sekali ya" (Rendy menimpali)


nisa tertunduk, Riko melihat wanita nya itu sedikit pucat


"sayang.. (Riko mendekatkan wajah nya, berbisik di telinga nisa, itu semakin menyayat hati nya)


nisa menoleh, Riko tersenyum, malu sendiri dengan ucapan nya


" apa kamu baik baik saja? ko jadi pucat begitu? "


yoga mendengar itu, ia memperhatikan nisa,


"aku dari pagi memang sedikit pusing, tapi ga apa apa mas"


"kamu yakin, atau mau mas antar pulang biar istirahat"


"ga usah mas, makasih"


yoga dan Rendy berbincang,


"pak, Mari ikut kami makan, ini hari bahagia saya anda harus ikut merayakan nya"


"mohon maaf Ren bukan saya menolak, namun saya juga sedang bersama klien saya di sana (yoga menunjuk sudut ruangan yang ia tempati tadi)


benar Rendy melihat assisten pak yoga di sana,


" sayang sekali pak, kita harus sengaja bertemu untuk makan makan lain kali"


"saya tunggu undangan nya Ren"


yoga pamit, pada semua nya, nisa tidak ingin melihat nya ia cukup muak, bukan kah ini jadi semakin rumit???


mengapa kini ia sering bertemu dengan yoga?? entah lah...