Annisa

Annisa
berduka



Nisa menyalakan HP nya, ia juga mencari kabar berita itu melalui laptopnya,


Beny yang sudah melihat salah satu berita melalui HP nya mendekat,


dia sedikitnya tau, kalau kabar ini akan membuat nona muda nya tertekan..


Nisa menggelengkan kepala,


itu benar benar pesawat yang Yoga tumpangi,


pesawat jatuh ke laut setelah mengalami kendala pada mesin, menurut nelayan di sekitar terdengar dentuman keras di dalam laut yang menyebabkan gelombang ke dasar laut.


Nisa tersenyum kecut,


membuat Dian bingung dengan ekspresi nya


"dia sangat senang sekali pergi.


sampai berapa kali aku mencegah nya pun tidak berpengaruh"


Beny mendapat telpon dari keluarga Doni sang IT yang ikut bersama Yoga.


"bu, saya ijin ke bandara, untuk mendapatkan informasi terupdate"


"pergilah ben, bawa pulang bos mu, ia janji akan menikahi ku kan? undangan baru selesai di sebar"


Dian menunduk, ia menangis mendengar itu.


Beny pun tidak menjawab.. ia tentu bingung harus mengatakan apa..


"Dian temani ibu"


"iya mas"


mata Nisa menerawang memandang layar laptop nya, HP nya berdering entah untuk yang ke sekian kali, pesan pun begitu banyak masuk di WA nya,


Nisa menerima panggilan,


"Nisa... hickkk"


"kenapa Papa tugasin Yoga pergi?


bukan kah kalian tau kita akan menikah?


bukan kah Mama yang antusias ingin secepat nya kami menikah????


Mama pasti tau kan kalo calon pengantin itu ga boleh bepergian jauh kan?? “


Nisa meluapkan amarah nya, ia tau itu tidak baik, tapi entah lah dia ingin sekali marah


" maaf Nisa,


Mama udah bilang sama Papa agar jangan Yoga yang pergi, tapi memang tidak ada yang bisa karna ini masalah tertutup perusahaan "


"lihatlah, bagaimana urusan perusahaan lebih penting daripada kehidupan putra nya,


maaf mah, Nisa lagi ga mau di ganggu, assalamu'alaikum"


"hickkk.. waalaikumsalam"


Nisa menangis, melipat kedua tangan nya di meja,, wajah nya ia sembunyikan di sana..


Dian pun tak tahan.. ia hanya bisa mengusap punggung bos nya sambil menangis.


bang Rendy datang ke kantor Nisa, ia khawatir pada adik nya, setelah mendengar kabar dari ibu ia langsung menuju ke mari,


"dek.. kita pulang ya. tunggu kabar di rumah oke? “


" bang, apa salah Nisa? sampai sampai Allah ngasih cobaan begitu terus menerus sama Nisa bang? “


Rendy memeluk adik nya, tangis Nisa pecah.


"Allah tau kamu kuat dek"


"Nisa ga se kuat itu bang, Nisa ga sekuat kelihatan nya, kalian ga tau hati Nisa bagaimana... luka kehilangan mas Adnan aja masih begitu terasa untuk Nisa"


Rendy berhasil membujuk adik nya pulang,


Nisa di sambut ibu dan ayah di rumah.. ayah sengaja pulang mendengar kabar itu.. ibu pun tau kabar dari Mama Riana,


Nisa di sambut tangisan dari ibu,


ibu menciumi wajah putri nya,


"Nisa, istirahat lah" ucap Ibu


"bagaimana Nisa bisa istirahat bu Yoga entah ada dimana"


ibu semakin menangis, dalam hati nya bertanya,


"ya Allah.. apa lagi ini?? “


Razky menangis karna melihat Mama nya, minta di gendong, Nisa menggendong nya.. memeluk putra nya erat,,


kenapa harus aku,, kenapa selalu aku, apa salah ku ya Allah"


semua orang menangis, ibu hanya bisa mengusap kepala putri nya memberikan kekuatan...


malam datang,


tadi sore Beny memberi kabar bahwa belum ada keberhasilan dari team evakuasi,


Nisa merasa kepala nya sakit, ia masih menggunakan mukena, berkumpul di ruang keluarga memantau perkembangan melalui TV.


Nisa memejamkan mata saat melihat tanyangan beberapa puing pesawat yang di temukan sore tadi, dari Indonesia mengirimkan penyelam untuk mencari di manakah pesawat itu berada..


"ya Allah, jika engkau tidak ridho dengan hubungan kami, aku ikhlas...


tapi tolong kembalikan Yoga dalam keadaan apa pun, aku dan Razky ingin melihat nya mungkin untuk terakhir kali"


hati nya bergejolak, Nisa menangis tanpa berkedip, ibu mulai khawatir dengan kondisi Nisa.. wajah nya pucat, ia bahkan tidak makan atau minum dari tadi.


"Nisa, " ayah duduk di sebelah putri nya.. Nisa menoleh


"makan dulu ya.. ayah suapin"


Nisa tersenyum tipis,


ia ingat dulu sejak masih kecil, jika ibu telah sibuk di dapur. ayah yang menyuapi nya makan.


"yah.. bisa ga Nisa kembali lagi ke masa kecil, Nisa ingin main, Nisa ingin bersepeda bersama ayah ibu, Nisa mau sekolah... Nisa mau bang Rendy selalu jagain Nisa"


"nak... " ayah tak tahan.. ia memeluk putri nya, tangis Nisa yang tertahan pecah seketika,


"takdir Nisa yang kejam, atau Nisa yang kurang beruntung yah? “


" ga ada yang salah nak, kita hanya bisa menerima semua nya walaupun berat..


semua belum final kan? masih banyak harapan "


Nisa tidak menjawab,


bagaimana hati dan pikiran nya terus melayang tentang kejadian kejadian yang pernah berlalu, semua tidak ada yang selamat dalam sebuah kecelakaan semacam ini..


"denger ayah...


kamu baru sembuh, kamu ga boleh sakit, setidak nya kamu harus sehat untuk Razky yang belum tau apa apa"


"Nisa ga kuat yah..


Nisa udah ga bisa mikir apa apa"


pintu rumah Nisa di ketuk.. bi Yuni sigap membuka nya, ia tersenyum melihat siapa yang datang


"assalamu'alaikum"


"Waalaikumsalam bu"


"apa Nisa di dalam bi? “


" ada bu, silahkan masuk... "


Yuni membawa Riana masuk, ibu yang mendengar ada tamu menghampiri nya


"mba... hick.. "


Riana memeluk ibu, mereka berdua menangis, tidak ada yang mereka ungkapkan beberapa detik.


"sabar ya, semua sedang di uji... " ucap ibu menepuk nepuk punggung calon besan nya.


"aku udah larang mas Tama buat minta Yoga pergi, namun kebetulan Yoga memang pengen banget pergi, dia bilang mau susul keponakan dan kakak nya untuk acara pernikahan nanti"


pelukan mereka terlepas.


"saya tau bagaimana perasaan kamu, kita ga boleh pesimis, kita harus berpikir semua baik baik saja... "


Riana mengangguk,


"dimana Nisa dan cucuku? “


" Razky tidur, Nisa ada di dalam. ayah nya sedang membujuk nya untuk makan"


'aku boleh ke sana..?" tanya Riana


"tentu saja"


ibu membawa Riana ke Nisa, Nisa baru selesai makan, ia langsung bangun dari duduk nya.


Riana mendekat, memeluk Nisa


"Nisa maafin Mama ya.. "


mereka menangis lagi, ayah undur diri. memberikan ruang untuk mereka berbicara..