Annisa

Annisa
kedatangan tamu



keluarga inti dari Yoga dan Nisa berkumpul di satu meja bundar di tengah tempat acara,


masih ada waktu kurang lebih setengah jam untuk mereka mengobrol,


"bu Arum, kita sudah jadi besan dengan sah mulai saat ini,


karna anak anak akan tinggal dekat dengan ibu, saya minta kabari saya jika ada sesuatu dengan mereka ya bu... " Riana mengusap lengan ibu dengan lembut sambil tersenyum,


"jangan takut mah,


InshaAllah saya sudah menganggap Yoga seperti anak saya sendiri,


akan saya kabari jika ada sesuatu, dan saya yakin, Yoga ga akan berani macam macam pada Nisa"


ibu tersenyum melirik Yoga yang sedang sibuk dengan Razky


"saya juga Yakin itu bu" Riana berbisik pada ibu dan mereka tertawa.. mengingat semua yang telah terjadi pada kedua nya..


"mah, saya akan pamit pulang, karna mau bawa Razki pulang, biarlah Yoga dan Nisa punya waktu berdua, bagaimana pun mereka pengantin baru bukan?? "


"iya bu, saya ucapkan terimakasih banyak karna sudah membantu Nisa menjaga Razky,


Yoga bilang Nisa ga mau pake pengasuh"


"ya tentu, untuk apa pengasuh, kita semua bisa jaga Razky dan itu sangat menyenangkan" Arum tersenyum mengatakan nya


"coba kalau dekat, aku tiap hari ingin menculik nya"


"mah, karna sudah terbiasa. saya ga bisa temenin suami lama lama di resto, kangen Razki di rumah.. apa lagi kalau Nisa kerja"


"itu sudah pasti bu,


ibu sehat sehat ya, InshaAllah kita akan sering datang"


"aminnnn... Mama sama Papa Tama juga sehat sehat ya"


waktu merangkak naik,


keluarga telah pulang, sementara Mama & Papa Tama menginap di rumah Yoga,


Razky pun di bawa pulang oleh ibu,


Yoga mendapat telpon, seorang kliennya terlambat datang, ia mau tidak mau akan menemui nya karna mereka jauh dari Australia,


"Nisa aku antar ke kamar dulu ya.. tapi nanti aku turun lagi"


"terus gimana tamu nya, kan acara udah selesai, buat hidangan nya bagaimana?? “


Yoga tersenyum.


istri nya sangat detail memikirkan sampai sejauh itu,


"di sini kan ada restoran sayang, akan aku bawa mereka ke sana... "


"baiklah kalau begitu"


sepanjang perjalanan menuju kamar Yoga tidak melepaskan genggaman tangan nya, Beny yang mengikuti mereka di belakang senyum senyum sendiri..


Yoga membuka pintu,


"kamu jangan ikut masuk ben" telunjuk Yoga mengarah pada assisten nya itu, Nisa tertawa


"engga lah bos, saya tau diri" ucap Beny tertawa,


"tungguin di situ saya antar Nisa masuk dulu"


Beny mengangguk,


"huft... " Nisa menjatuhkan diri nya di sofa.


"sayang ga apa apa aku tinggal kan? klien kita udah di bawah katanya " ucap Yoga sambil memeriksa pesan di HP nya,


"pergi lah, aku terbiasa sendiri" ucap Nisa,


Yoga langsung melirik nya, ia menaruh HP, mendekat pada Nisa yang memejamkan matanya,


Nisa terkejut merasakan Yoga mendekat.. wajah mereka berhadapan.


"mulai saat ini kamu ga akan sendiri, aku janji cuma sebentar ke bawah" ucap Yoga membelai pipi istri nya,


"iya... " Nisa terlihat gelagapan atas perlakuan Yoga, Yoga tersenyum, memberikan kecupan di kening sedikit lama, lalu di bibir...


"siap siap ya, malam ini malam pertama kita" bisik Yoga, lalu ia tersenyum..


"siap siap gimana?? “ tanya Nisa bingung


" ya siap siap aja...


ya udah aku ke bawah ya.. "


Nisa mengangguk, Yoga pergi..


Nisa membuka baju resepsi nya, ia akan pergi mandi karna tubuh nya terasa lengket..


Yoga menyalami teman nya itu,


mereka dulu satu fakultas di Australia, sama sama berasal dari Indonesia, namun Jo menetap di sana beserta keluarga nya.


tidak di sangka mereka jadi terikat dengan pekerjaan..


" bro, kamu terlihat tampan sekali.. " Jo menyalami Yoga, mereka saling memeluk.


"thanks Jo, ga seru lo telat" ucap Yoga


"sorry bini gue lagi ngidam, rada susah di tinggal" ucap Jo


"dimana Hana sekarang? “ tanya Yoga


" sejak tadi kita datang dia langsung ke rumah ortu nya, jadi masih di sana.. "


"baik lah, ayo kita ke restoran" ajak Yoga


Jo mengikuti nya.


"bro, tapi ga makan ya, kita ngopi aja... " ucap Jo


"lho kenapa? “


" lo tau sendiri, kalo pulang ke rumah mertua.. ga akan di biarin gue makan d luar"


"hahhaa... " Yoga tertawa mengingat sering nya Jo bercerita tentang keluarga istri nya


"baiklah, kita ngopi saja"


Yoga memesan untuk nya dan Beny,


"bro, lo ga cerita dimana ketemu sama calon bini, tau tau nikah aja"


Yoga tersenyum ia menunduk,


tidak ada yang di tutup tutupi antara dia dan Jo, Yoga mulai bercerita


"kita ketemu karna sebuah kesalahan Jo"


"maksud nya? “ tanya Jo bingung


" malem itu, gue ada Party,


entah lah siapa yang melakukan hal itu, ada yang masukin obat di minuman gue,


kayanya dosis nya tinggi, gue udah berendem udh segala macem belom juga ilang efek nya,


gue nyuruh dia panggil cewe buat nuntasin hasrat gue.. " tunjuk Yoga pada Beny, yg di tunjuk tersenyum.


"cuma kebetulan Nisa lewat di depan kamar , Beny kira dia cewe yg kita minta, ternyata salah"


Jo bengong mendengar itu,


"terus??? “ seolah sudah bisa menebak apa yang akan terjadi selanjutnya


" ya begitulah, terjadi hal itu.. "


"lo gila Yoga"


Yoga menunduk lagi, ia terlihat sedih..


"ya gue udah gila.. dalam keadaan terdesak di nolak gue.. gue kasar sama dia Jo, dan lo tau? setelah itu dia hamil"


Jo melotot, ia menyeruput kopi nya, dan menunggu lagi Yoga cerita,


"dan sekarang dia hamil anak lo? "


Yoga menggeleng, dan tersenyum,


mengalir lah cerita dari awal kejadian Nisa kabur dan sampai hari ini dengan singkat,,


Jo tidak henti henti nya menggelengkan kepala,


"takdir emak ga bisa di tebak Yoga" ucap Jo


Yoga setuju, dia mengangguk,


"lo udh ga anggap lagi gue temen?? ke napa lo ga cerita??"


"entah lah Jo, sejak Nisa pergi gue kaya ga bisa mikir jauh" ucap Yoga


"yang penting kalian sudah sah sekarang,


dan buat lo, semoga bisa perbaiki sifat lo, pertahan kan dia karna mendapatkan nya sulit bukan?? “