
Adnan meringis,
luka di perut nya terasa sakit,
"dia merutuki kejadian ini, ini akan lama, kesempatan bertemu dengan nisa semakin lama"
seseorang mengetuk pintu,
cindy masuk, Adnan menatap nya, wajah nya cemas..
"om, bagaimana sekarang? "
"ya begini lah, ( Adnan ketus menjawab, ia sangat muak dengan gio suami dari cindy)
" maaf om, cindy tidak bisa melakukan apa apa, gio pemarah, cindy takut pada nya"
Adnan tersenyum sinis,
"kamu rakut pada lelaki buaya seperti nya? itu sangat lah lucu"
"apa maksud om?? “ (jelas cindy tidak mengerti, ia tidak tau kelakuan suami nya)
Adnan melihat dagu cindy sedikit memar, ia curiga kalo gio melakukan kekerasan pada keponakan nya itu,
cindy salah tingkah, ia menutupi pipi nya dengan rambut,
" lupakan lah"
"om.. (cindy mendekat mengeluarkan HP nya)
om rindu bukan dengan nisa??"
Adnan menoleh pada cindy, ia tau tentang nisa??
"lihat lah, ( cindy memperlihatkan foto nisa sedang duduk di baklon, menggendong anak nya, Adnan hampir tak percaya, ia meraih HP itu, nisa terlihat lebih kurus dari yang pernah ia lihat, apa nisa sakit, ia begitu pucat)
" dimana dia??"
"di rumah mamah, yoga membawa nya pulang"
seketika wajah Adnan berubah, ia marah, nisa pasti tertekan, yoga bisa saja melakukan semua nya, cindy melihat paman nya begitu sedih,
"om, maafin cindy, cindy ga bisa bantu apa apa, akan cindy beri tahu om kalo ada kabar dari rumah"
Adnan diam, apa lagi yang bisa ia lakukan selain itu, ia tidak punya alat komunikasi, ini bukan di Indonesia, ia pun tak punya pasport untuk pulang, yoga membawa nya ke sini dengan jet pribadi, sungguh licik..
nisa melamun, menatap kebun yang rapih terawat di bawah sana, ia sudah berada di rumah yoga,
nisa ingat bagaimana ibu nya menangis melepas kepergian nya, ini lebih berat dari saat dia kabur meninggalkan rumah,
nisa memeluk keluarga nya satu persatu, menyakinkan mereka bahwa semua akan baik baik saja,
selama nisa di sana Rendy meminta Herry mengawasi nya,
sekarang disini lah ia, di rumah yoga..
cuaca mendadak mendung, tapi nisa belum mau beranjak dari balkon, hingga gerimis datang,
yoga datang, anak nya menangis namun nisa tidak di kamar, ia mencari nya,
"nisa, hujan turun masuklah ( yoga memegang pergelangan tangan nisa, nisa menepis nya)
“aku bilang jangan sentuh aku yoga" (nada nya lembut, namun ada kemarahan di sana)
"ok baiklah, masuklah“
nisa menurut, yoga membawa makanan untuk nya tadi,
" nisa kamu harus makan, (yoga menggendong anak nya, nisa malah pergi ke kamar mandi, yoga membiarkan nya,
tangis anak nya tak juga berhenti, yoga panik, nisa sudah lima menit di kamar mandi, riana datang,
"ada apa sayang? sini sama nenek ya,
(yoga memberikan nya, riana melihat makanan belum tersentuh, nisa belum makan dan minum apa pun dari RS, ia khawatir)
" apa nisa belum makan? "
yoga menggeleng,
tokk tokk tokk,
" nisa... (yoga tidak mendengar suara apa pun di dalam, ia menoleh pada mamah nya)
"nisa.. (yoga mencoba membuka pintu kamar mandi, nisa tergeletak begitu saja di lantai, entah dia jatuh atau memang pingsan)
yoga memeluk nya, ia menangis, yoga merasa nisa berbeda dari sebelum nya, apa ia tertekan, wajah nya begitu pucat
" yoga.. (mamah menghampiri nya)
ya Allah nisaaa, kenapa nisa yoga?? "
yoga menggeleng, masih memeluk nisa,
ia menepuk pipi nya lembut, bibir nisa begitu kering, ada lingkaran hitam di mata nya,
"nisa bangun... (tidak ada jawaban, yoga mengangkat nya untuk di bawa ke tempat tidur, nisa di baringkan,
mamah menelpon dokter keluarga, meminta nya untuk datang,
yoga menyelimuti nya, razky sudah tertidur lagi,
memegangi tangan nisa, yoga merasa tubuh nisa dingin,
" dingin mah"
"betulkan selimut nya yoga, matikan dulu AC nya"
dokter belum datang, namun nisa mulai bergerak, ia siuman,
"sayang, ( mamah mendekat, merekatkan selimut sampai ke leher nisa)
kamu kedinginan hmm?? “
nisa menggeleng, sejak kedatangan nya ke rumah nisa belum berbicara pada riana sepatah kata pun, sangat berbeda saat di RS tadi,
" nisa mau apa? mau makan sesuatu??, mamah suapin makan ya?? "
dokter datang, riana langsung bergeser
"dok nisa tadi pingsan, ia baru siuman"
"saya periksa dulu ya bu. "
menoleh pada riana, dokter Yuda ingin bertanya siapa perempuan ini, namun di urungkan nya,
"gimana dok?? (yoga tak sabar)
" nona nisa dehidrasi, saya akan bantu dengan infus untuk pengganti cairan nya,"
"nisa juga ga mau makan dok"
"baik lah, saya akan meminta suster di klinik untuk membawa kan infus, permisi saya keluar sebentar"
riana meninggalkan mereka di kamar,
"nisa, ayolah kamu belum makan "
nisa membuang pandangan nya,
"aku cuma ingin suamiku yoga apa kamu ga ngerti?? "
"apa kamu mencintai nya nisa?? (itu tentu pertanyaan yang sangat konyol nisa tersenyum kecut,)
" aku sangat mencintai Adnan yoga, aku lebih baik tidak hidup kalo dia tak ada"
yoga jelas tidak ingin mendengar itu, yoga menatap nisa tajam,
"aku pastikan kamu akan menyesal yoga"
tanpa mereka ketahui, tama mendengar kata kata nisa di balik pintu, ia di pinta riana menjaga yoga