Annisa

Annisa
GO public



"yah, kemarin Nisa pergi ke rumah orang tua Yoga, dan hasil pembicaraan mereka mengarah ke pernikahan, Riana mau nya secepat nya, kemarin anak anak kita sudah foto prewedding, seperti nya sudah jadi pula"


ayah menyeruput teh nya,


"apa Nisa sudah yakin dengan semua nya? “ tanya ayah,


" ibu belom tanya lagi, tapi menurut ibu sudah sampai tahap prewedding pun berarti Nisa sudah membuka hati nya kan?? “ kata ibu


ayah mengangguk,


"ayah ikuti saja bagaimana anak anak kita bu.. "


ibu tersenyum.


ayah akan pergi ke resto seperti biasa nya, ia telah siap.


**


senyum yang sangat jarang terbit pagi ini di bibir seorang Yoga pratama, bos muda yang di segani, namun juga di kagumi karyawan perempuan nya dari yang muda sampai yang sudah memiliki putra putri, pesona dan karisma nya tidak pernah pudar walau usia nya semakin bertambah..


"ya Tuhan.. lihat pak Yoga, tambah bersinar aja" seorang resepsionis menyenggol lengan teman nya sesaat Yoga melalui nya,


"lo tau ga, Pak Yoga bikin story sama bu Nisa, kaya foto prewedding gitu deh, soal nya keliatan resmi" teman sebelah nya berkata


"wah.. itu momen langka pak Yoga bikin story,


apa hubungan nya sama bu Nisa ya?? “


"gue denger mereka udah nikah dan punya anak, yang kemarin di bawa kesini anak nya"


"wah... ini sih hari patah hati sedunia ya ga sih"


kedua resepsionis itu terus mengeluh tentang hati nya yang terluka karna kabar itu,


"pagi dian... " ucap Yoga


Dian yang sudah bangkit dari duduk nya saat melihat Yoga datang tersenyum.


"selamat pagi pak, bapak terlihat bahagia sekali" ucap Dian


"oya? apa terlihat?? “ tanya Yoga


"sangat pak"


"terimakasih, Nisa mungkin ga ke kantor. ada jadwal apa saja hari ini. bawa ke dalam oke"


Dian terlihat bingung,


Nisa belum lama meminta nya mengirimkan schedule hari ini, ia akan memimpin meeting jam 10 nanti.


"baik Pak" hanya itu saja jawab Dian ..


ia bergegas membawa schedule pada bos tampan nya itu...


"pak, ibu tadi WA Dian, minta schedule hari ini, ibu bilang akan datang mungkin aga siang"


Yoga menyimak,


"oya? dia ga ngsih kabar akan datang,


aku kira dia lelah karna kemarin kita melakukan foto prewedding di bandung"


"MasyaAllah, jadi itu benar prewedding pak?? “ Dian ikut bahagia mendengar info dari bos nya itu,


"ya, kamu pasti mendapat banyak pertanyaan dari karyawan lain kan? " tebak Yoga


"betul pak, saya malah tau bapak bikin story dari karyawan lain yang bertanya soal foto itu"


" Dian, kamu sudah lama bekerja di sini, saya rasa kamu juga harus tau yang sebenarnya,


Razky putra saya dengan Nisa,


kamu tau kan waktu Nisa kerja di salah satu bank dia datang ke sini? “


Dian mengangguk, ia masih ingat betul,


"saya yang meminta ibu untuk datang ke ruangan ini" ucap nya tersenyum


"ingatan mu sangat baik Dian" Yoga memuji


Yoga menceritakan apa yang sebenar benar nya terjadi, itu karna ia telah mempercayai Dian sebagai sekretaris nya setelah Beny,


Dian terperangah tidak percaya


"lihat bagaimana tuhan mempersatukan kita lagi Dian, jadi kalau misal ada yang bertanya,


kamu boleh jawab bahwa kita sudah menikah, dan baru akan resepsi"


"bapak mau cerita sama Dian pun Dian sudah senang, itu berarti bapak percaya sama Dian.. inshaAllah akan Dian simpan untuk Dian sendiri, dan Dian pun bisa menjawab pertanyaan dari karyawan lain jika mereka bertanya"


Yoga mengangguk,


"karna mamah pun menyebarkan berita nya demikian"


"bapak tenang saja,


kalau begitu Dian kembali ke meja ya pak"


"baiklah, terimakasih, panggil Beny ke sini ya"


"baik Pak.. "


***


Nisa membuka pintu ruangan nya, ia melihat Beny dan Yoga sedang terlihat serius


"assalamu'alaikum"


"ada meeting jam 10 kan?? "


"ya itu tidak terlalu penting, karna interen saja"


Nisa melihat dasi Yoga sedikit miring, itu terlihat tidak simetris,


Nisa menarik dasi yang Yoga pakai, Yoga sedikit terkejut dengan apa yang Nisa lakukan,


Nisa membetulkan nya,


"jadi ada berita apa yang tersebar di kantor ini, aku melihat mereka nampak tersenyum tidak seperti biasa nya pada ku?? “


" berita? aku ga tau... " jawab Yoga cuek.


"apa story mu mempengaruhi sikap karyawan satu kantor?? “ tanya Nisa lagi


Yoga tersenyum,


" itu mungkin saja, jadi mereka punya pikiran sendiri"


"kamu senang tuan?? " Nisa menyelesaikan tugas nya, ia mengusap jas yang Yoga pakai tepat di dada nya,..


"aku begitu senang sayang sampai tidak bisa mencegah tangan ku untuk membagikan foto bahagia kita"


Nisa mendelik, ia berbalik, menuju meja nya,


Beny telah selesai dengan tugas nya, ia mempersiapkan materi meeting untuk sebentar lagi,


"bos saya permisi keluar dulu, jangan lupa jam 10 kita meeting"


Yoga mengangguk,


Beny tersenyum ia tidak mau mengganggu kedua bos nya itu,


"kamu senang semua orang sudah tau soal kita?" tanya Nisa


"ga ada yang harus di tutupi kan?


aku akan menggiring opini pada mereka kalau kita sudah menikah dan memiliki putra,


dan dalam waktu dekat kita akan melangsungkan acara resepsi"


Nisa memijat kening nya,


"apa kamu ga suka? " yoga duduk di kursi bersebrangan dengan Nisa..


"bukan itu.. " jawab Nisa, lagi lagi Yoga melihat wajah Nisa memucat,


"sayang kamu kenapa?? "


"Yoga aku lupa minum obat"


"obat?? obat apa?? “ tanya Yoga, ia memang tidak tau apa apa


" obat lambung, udah beberapa hari ini kumat lagi"


"ayo ke dokter.. " Yoga langsung bangun, meraih kunci mobil di meja nya,


"aku ga apa apa" ucap Nisa lemah


"wajah kamu pucat begitu kamu bilang ga apa apa?? “


Nisa memejamkan mata nya, kepala nya ia sandarkan di kursi


" Nisa jangan bikin aku takut"


kepala nya memang terasa seperti berputar,


Yoga mengangkat tubuh Nisa tiba tiba..


"Yoga turunin aku"


"kamu harus periksa ke dokter, ini ga boleh di biarin"


Yoga membuka pintu ruangan nya dengan susah payah, ketika mereka keluar beberapa pasang mata intens menatap mereka termasuk Dian,


"Yoga please aku malu"


"ben siapin mobil aku mau bawa dia ke rumah sakit" ucap Yoga dengan tegas nya,


"engga aku ga mau, Yoga aku mohon... "


Yoga terus saja berjalan melewati beberapa orang karyawan nya yang terpaku,,


Nisa meraih pipi Yoga, ia membawa mendekat untuk ia kecup, seketika langkah nya terhenti, Yoga menatap Nisa tak percaya..


"sayang aku baik baik aja oke, turunin aku ya" Nisa tersenyum manis, membuat Yoga menggigit bibir bawah nya karna merasa gemas dan senang bersamaan karna Nisa memanggilnya sayang..


Yoga menggeleng,


"tidak ada penolakan sayang"


Nisa bingung harus bagaimana. tangan nya terangkat ia mencubit dada Yoga tepat di punting nya,


"Nisa... hahahaa"


"turunin ga?? “ Nisa melotot, namun Yoga malah tertawa.. " kalo engga aku akan teriak"


Yoga terpaksa menurunkan Nisa karna cubitan nya tidak kunjung terlepas,


"sakit lha... " Yoga merajuk, namun Nisa tidak menghiraukan nya


karyawan mereka yang melihat itu saling melempar senyum, mereka langsung ke ruang meeting yang tak jauh dari meja Dian, pura pura tidak tau akan adegan yang baru saja terjadi