Annisa

Annisa
Harus pergi



Ibu dengan antusias melihat satu persatu contoh surat undangan yang tertata rapih di album, Nisa datang menghampiri nya..


"ada yang ibu suka? “ tanya Nisa


" lho ko ibu, kan kamu yang mau menikah... " ibu tersenyum,


Yoga sambil menggendong Razky pun datang,


"Nisa mau yg simpel aja, kalo kamu Yoga? “


" aku ikut aja, toh undangan hanya formalitas " jawab Yoga,


"ayo kalian pilih lah, ibu mau ke kamar dulu ya, sini Razky sama nenek.. "


ibu bangkit dari duduk nya, ia meninggalkan Yoga dan Nisa, dengan membawa Razky


"warna apa yang elegant ya? “ Nisa bertanya pada Yoga, namun mata nya memperhatikan surat undangan satu persatu.


"kalo buat undangan, kaya merah maroon bagus",


" apa ga gelap? “ tanya Nisa


"tulisan nya warna gold.. jadi keliatan timbul"


Nisa melirik Yoga, ia tersenyum, Nisa setuju dengan warna yang Yoga usulkan..


"kamu suka maroon? “ tanya Nisa


" engga.. aku suka kamu"


Nisa tersenyum sambil membuang pandangan nya, kembali ke album,


"apa kamu segombal ini dari dulu??


aku malah punya persepsi kamu seperti monster saat pertama kita ketemu"


"Nisa jangan bahas itu, aku merasa bersalah terus, itu sisi gelap aku"


Yoga meraih sebelah tangan Nisa,


"Nisa, apa kamu bener bener mau Terima aku?


jujur aku masih takut, kalau yang kamu lakuin ini hanya berlandaskan kasihan atau apa"


"apa yang aku lakuin masih kurang buat tunjukin kalo aku serius Yoga?


aku hampir mati karna kecelakaan nyusul kamu ke bandara"


Yoga tersenyum, ia menundukan wajah nya,..


"maaf atas keraguan ku ya"


Yoga menarik tangan Nisa untuk ia kecup,


hati Nisa menghangat mendapat perlakuan itu..


***


Yoga dan Nisa telah memutuskan model dan warna untuk surat undangan mereka...


hari terus berganti, sudah 3hari sejak lamaran keluarga Yoga pada keluarga Nisa..


undangan telah masuk ke tahap percetakan dan besok akan siap..


surat undangan akan segera di bagikan sesuai daftar tamu yang dua keluarga telah persiapkan..


Nisa menikmati makan siang nya, ayah mengirim menu makan istimewa untuk anak dan calon menantu nya,..


"emh... aku suka rasa masakan di resto ayah,


ada beberapa menu yang rasa nya berbeda dari resto lain nya" Yoga terus menyendok makanan nya sambil memuji.


"aku ga bisa masak Yoga" ucap Nisa tiba tiba


Yoga menatap nya


"itu bukan masalah sayang"


"apa kamu ga mau di masakin istri kamu nanti? " tanya Nisa


"Nisa, aku ga menuntut apa apa untuk kamu lakukan di luar kewajiban kamu sebagai istri, masak ga wajib, kalo kamu ga bisa kita bisa makan di luar, lagian kan yang kerja ada di rumah, aku terbiasa makan masakan di rumah"


Nisa terdiam,


"Yoga.. "


"hmmm? “


" bagaimana perusahaan setelah kita menikah?" tanya Nisa sedikit bingung


"bagaimana gimana maksud nya? “ Yoga malah bertanya, karna dia juga bingung,


" kita akan menikah, apa aku masih tetep ke kantor? “


Yoga tersenyum.


ia meneguk air minum nya sebelum bicara.


"Nisa, ini perusahaan kamu, aku cuma kerja bantu kamu kan pada awal nya,


jadi kalau kita menikah, aku cuma nunggu perintah kamu, kalo kata kamu aku selesai, ya sudah aku pulang ke perusahaan Papa"


Nisa melongo mendengar perkataan Yoga


"jadi kamu tinggalin aku di sini? kan kita udah nikah, masa kamu mau pulang"


Yoga tertawa,


"maka dari itu putuskan lah"..


mereka terdiam beberapa saat. menyelesaikan makan siang nya dengan senyap,


" Yoga "


"apa sayang? “


" aku ga mau ke kantor lagi nanti setelah menikah" ucap Nisa serius..


"lalu?? " tanya Yoga


"kamu aja yang gantiin aku, aku serahin semua sama kamu, aku mau di rumah aja "


Yoga menatap Nisa,


"kamu yakin? “


" kenapa engga?, dari dulu kamu yang pegang perusahaan ini, apa yang harus bikin aku ga yakin?“ jawab Nisa


kamu akan selalu jadi pemilik nya,


dan silahkan nyonya bekerja di rumah memantau, paling kalo ada urusan mendesak, kamu harus terpaksa datang ke kantor"


Nisa merengut,


"aku ga mau ada kata milik aku, milik kamu,


aku dari awal emang ga faham bisnis,


ini milik kita Yoga"


"ya, nanti kita akan diskusi kan lagi ok"


Nisa mengangguk,


HP Yoga di atas meja berdering,


telpon masuk dari Papa,


"Papa telpon" ucap Yoga


"ayo angkat, jangan lama lama"


"assalamu'alaikum pah"


"waalaikumsalam, apa Papa ganggu? "


"engga pah, kita baru beres makan"


"syukur lah,


Yoga, boleh Papa minta tolong"


"apa itu pah? “


" kakak mu Sindy memiliki masalah dengan perusahaan kita di Australia,


apa kamu bisa ke sana untuk memperbaiki semua nya?? “


Yoga melirik Nisa yang sedang menatap HP nya,


"harus kapan pah? apa ga ada yg bisa ke sana orang orang Papa? “


" Papa ga sepercaya itu pada orang lain Yoga, Papa ngerasa lagi kurang sehat untuk terbang ke sana... "


"jadi kapan Yoga harus terbang? “


Nisa langsung melirik Yoga mendengar kata kata itu..


" secepat nya Yoga.. agar kamu kembali lebih cepat, bukan kah kamu akan menikah? “


Yoga tertawa


"baiklah, besok Yoga akan terbang"


telpon berakhir,


Yoga merasa Nisa memperhatikan nya,


"apa maksud nya terbang? “ tanya Nisa penasaran


" sayang kak Sindy di Australia sedang ada masalah, Papa lagi kurang sehat, jadi papah minta tolong sama aku "


"terus? " tanya Nisa lagi


"aku harus pergi, kasian kak Sindy, semakin cepat selesai, semakin cepat aku pulang"


"Yoga tapi... "


Nisa ragu mengutarakan isi hati nya


"apa?? "


"kita akan menikah Yoga"


"iya memang, terus kenapa?


aku akan pulang sebelum kita menikah sayang, paling cuma beberapa hari"


"tapi kalo keluarga ku punya tradisi,


calon pengantin ga boleh terlalu banyak beraktivitas, apa lagi pergi jauh.. pamali katanya"


"ya mamah pun begitu,


tapi kita yakin ya, inshaAllah ga da apa apa"


Nisa diam.. entah mengapa hati nya jadi tak tenang mendapat kabar itu..


undangan telah selesai, besok akan segera di bagikan,


tidak banyak yang mereka undang, hanya para kolega dan karyawan di perusahaan..


Nisa jadi pendiam setelah mendengar kabar Yoga akan pergi, ia ingin sekali mencegah nya, entah lah hati nya tidak memberi ijin..


Nisa Menyortir undangan untuk para tamu,


Nisa telah kembali dari kantor jam 4 tadi,


Yoga menyadari diam nya Nisa,


yoga akan pamit pulang karna malam mulai datang,


ia menarik pelan tangan Nisa agar mereka berdekatan,


"sayang.. kamu marah?? "


Nisa tersenyum kecut,


"apa kalo aku ga marah kamu ga akan pergi? “


" Nisa sayang,. papa lagi ga mungkin ke sana, kak Sindy butuh aku"


"jam berapa besok? “ tanya Nisa, wajah nya terlihat marah


Yoga menarik nya untuk ia peluk,


“berdoa agar masalah nya cepat selesai oke? “


Nisa tidak menjawab, ia masih marah..


seperti nya pendapat yang Nisa ungkapkan tidak bisa Yoga terima