Annisa

Annisa
misibah



adnan menerima telpon, nisa berjalan di belakangnya, menuju warung Bu Ratih,


adnan tiba tiba berbalik, mereka jd berhadapan, nisa mengambil jalan ke sebelah kanan, namun adnan pun demikian, mereka hampir bertabrakan,


andan memegang pergelangan tangan nisa agar nisa diam,


"mas... " (nisa mencoba melepaskan tangan nya)


"suara siapa itu??" ( adnan sedang menerima telpon dari riana kakak ipar nya,)


"kakak ganggu saja, aku sedang pacaran" (jawab adnan)


nisa melotot mendengar itu, adnan malah membuang muka


"ya oke aku ke sana"


adnan menutup telpon nya, ia melepaskan tangan nisa,


nisa merengut,


"istirahat lah, kamu pasti lelah,


aku ada kerjaan"


"tapi mas, nisa belum bayar sewa mobil"


adnan tersenyum, ia tadi nya tidak akan menerima uang dari nisa, namun itu akan ia jadikan sebagai alasan untuk mereka bertemu lagi..


"nanti saja, aku buru buru"


adnan menuju mobil nya,


"masss, mas juga belum makan"


"nanti saja nisa, kamu yang harus banyak makan, kasihan bayi mu.. "


nisa terdiam,


adnan masuk ke mobil nya, membunyikan klakson, ia pergi..


Bu Ratih keluar dari warung nya karena melihat nisa, dari dalam


"lho kalian udah pulang?? "


"udah bu, " (nisa lesu, ia harus bilang apa yang terjadi pada nya tadi)


"itu mas adnan langsung pulang? ga makan dulu?? "


"barusan ada telpon bu, ada kerjaan katanya"


"kamu kenapa, ko ditekuk begitu muka nya? "


nisa menangis, ia memeluk bu Ratih...


bu Ratih menepuk nepuk pudak nisa


"pasti ada sesuatu" batin nya.


"kamu istirahat dulu, pulang lah.. nanti kita bicara di rumah ya"


"iya bu, nisa pamit ya? "


"iya sayang, hati hati"


nisa berjalan menuju rumah bu Ratih,


nisa merasa kesal pada dirinya sendiri,


ke inginan mencium parfum yoga timbul lagi,


dia benci pada perasaan itu..


nisa mengusap perutnya


"apa karena dia ayah kamu, dan kamu suka sama parfum nya?? tapi aku ga suka "


hati nya tiba tiba merasa BT , nisa mengurungkan niat nya untuk pulang, ia ingin sendiri.. nisa pergi mencari tempat yang bisa membuat nya tenang,


bu Ratih kelimpungan,


nisa tidak ada di rumah, padahal dia dua jam yang lalu pulang duluan,


"nisa HP kamu kenapa ga aktif?? " bu Ratih berbicara pada HP nya, karena panggilan nya pada nisa tidak terhubung...


adnan sampai di rumah kakak nya itu,


"ciye yang udah pacaran" ( mamah yoga menggoda adik nya)


"ada apa sih, aku kan udah bilang cuti hari ini"


"tuh abang mu, nunggu di ruang kerja"


"hufff (jujur adnan lelah, perjalanan bolak balik ke rumah nisa membuat nya merindukan tempat tidur) " ya udah, adnan ke atas dulu ka"


riani mengangguk,


ia begitu senang adnan sudah memiliki pacar, bagaimana pun dia masih muda, haruslah mencari pasangan.


tokk tokkk tokk,


tama mengetuk pintu ruang kerja abang nya


"masuk "


adnan, masuk ada yoga juga ternyata di sana


"nah kebetulan om datang, yoga ke toilet dulu sebentar"


yoga kabur, meninggalkan adnan dan papah nya di ruang kerja,


"ada apa bang?" (adnan duduk)


"mulai besok kamu rutin lah ke kantor, ada sedikit kekacauan di sana, kamu tau sendiri cindy tak seperti yoga, dia kurang keras pada bawahan nya"


adnan diam, menimbang nimbang,


dia lebih senang bekerja seperti ini, datang ketika di butuhkan saja, dari pada bekerja di balik meja.


"males banget sih bang"


"kamu ga mau?? (tama sedikit memberi penekanan pada nada suara nya)


biar bebas pacaran??? (tambah nya lagi, begitu cepat kabar beredar, ini pasti ulah kakak ipar nya yang bawel itu"


tama tertawa melihat mimik adnan yang merengut itu,


"siapa gadis yang beruntung itu?"


"aku tau pasti abang akan tau sendiri. anak buah abang kan banyak"


"hahaaa, tama tertawa, baiklah, biar itu jadi rahasia mu, tapi ingat kamu harus mengenalkan nya nanti"


adnan mengangguk


*pacar apa an? dia kan hanya becanda tadi pada kakak ipar nya


***


nisa berjalan, menepi di tembok tinggi pembatas jalan dan danau,


melirik ke sebelah kiri, tadi pagi ia melihat anak perempuan yang lucu sedang belajar jalan di sana..


"mas Riko, selamat menempuh hidup baru..


nisa sakit, nisa kecewa, namun itu tak seberapa mungkin di banding rasa sakit dan kecewA mas Riko pada nisa, nisa udah ninggalin mas... maaf untuk itu..


kini nisa sadar, begitu mudah nya orang melupakan,


nisa tidak mau terlibat lagi dengan perasaan semacam itu, biarlah nisa akan sendiri, mungkin selama nya, nisa ga mau kecewa lagi,


ternyata laki laki semua sama..


***


tama sudah selesai berbicara pada adik nya, adnan pergi,


menuruni tangga, tidak ada siapa siapa di ruang tamu, tama melewati meja,


ada HP yang sedang berdering di sana,


ia melirik nya,


panggilan itu sudah berakhir, ia terkejut melihat foto di layar HP yang menjadi layar kunci, dia mengenal nya,


adnan meraih HP itu, ia ingin memastikan penglihatan nya,


menekan tombol on, foto itu terpampang jelas di sana


"nisa??? " (adnan bergumam)


HP siapa ini? ( adnan mencari pemilik HP tersebut ia keluar, ke halaman belakang,


adnan berpapasan dengan yoga)


"om, sudah selesai??"


adnan tidak menjawab nya, ia mengangkat tangan nya, HP di meja tadi ia bawa


yoga melihat nya


"hufft, syukurlah, dimana om menemukan nya?? yoga nyari nyari dari tadi.. “


duarrrrrr,


jadi... HP ini milik yoga??


dan foto tadi Annisa??


" om... (yoga memanggil nya, karena adnan terlihat melamun)


adnan memberikan HP itu pada yoga,


"tadi ada di meja ruang tamu, ada telpon, takut penting, om kira punya mamah kamu"


" iya itu punya yoga, ( yoga menerima nya)


makasih ya om, yoga mau pergi dulu ya"


adnan mengangguk,


ia menatap layar HP nya, tadi ia sempat mengambil foto di layar HP yoga, ingin memastikan bahwa yang ia lihat benar


adnan masuk ke mobil nya,


berlama lama di sana, menatap foto nisa,


"apa kamu wanita yang yoga cari cari nisa?


kalo benar, mungkin kah anak yang kamu kandung anak nya yoga?


tapi kenapa bang tama bilang kamu sudah meninggal?


lalu, laki laki yang kemarin kamu bilang calon suami kamu, dia menikah.. begitu saja melupakan mu?


aku harus cari tau, benarkah kalian saling berkaitan??"


adnan menyalakan mesin mobil nya, HP nya berdering, panggilan masuk dari bu Ratih.


"bu Ratih? tumben telpon? "


(penasaran, adnan menerima nya)


"hallo bu"


"mas adnan ada di mana? sama nisa ga?? (nada suara nya panik)


" di rumah bang tama bu,


nisa?? kan tadi sudah pulang ke warung? "


"nisa ga ada mas,


tadi saya suruh dia istirahat, karena keliatan lelah..


tapi pas saya pulang nisa ga ada, HP nya ga aktif mas"


*nisa kamu dimana?


"betul sudah di cari bu?? “


" mas, yang kerja di rumah bilang nisa ga pulang, saya takut mas, saya liat tadi dia murung sekali, nisa ga tau daerah sini"


"ok Bu, saya akan cari, ibu suruh kang yopi juga buat nyari ya?? "


"iya mas, kasih kabar saya terus ya mas"


"iya bu"


adnan menyalakan lagi mesin mobil nya,


ia juga bingung, kemana harus cari nisa? dia kan ga tau daerah sini...


apa mungkin dia pulang lagi??


sepanjang jalan, adnan mencari nisa, adnan takut nisa tersesat


sampai siang pun berubah menjadi malam,


nisa masih betah duduk di tembok itu, tiba tiba hujan datang, nisa menengadahkan wajah nya, merasakan tetes hujan menimpa wajah nya, hujan pun mulai lebat,


adnan semakin cemas hujan turun dan nisa belun di temukan,


nisa juga belum pulang ke rumah bu Ratih,


adnan melewati danau, ini sudah aga jauh dari rumah, dalam guyuran hujan ia melihat seseorang duduk di tembok pembatas danau,


penasaran, adnan turun memakai payung yang cukup besar, ia mendekat


setelah mendekat ia tau itu nisa, adnan mengenali nya dari baju warna merah yang nisa pakai,


"nisaaa" ( adnan sedikit berteriak, agar nisa mendengar suara nya yang mungkin saja tertelan hujan)


kaget, nisa mendengar seseorang memanggil nama nya, ia berbalik namun terlalu cepat, nisa hilang keseimbangan ia jatuh ke danau


"aaaaaaaa" byurrrrr


"nisaaaaa (adnan berteriak, ia menyaksikan itu, melemparkan sembarangan payung yang ia pegang adnan lari menghampiri tembok pembatas)