Annisa

Annisa
kedatangan tamu



hari demi hari berlalu, nisa masih tetap mogok makan dan minum, ia masih menggunakan infus di tangan, yoga pun kekeuh dengan pendirian nya.


hari ini nisa kedatangan tamu,


ibu nisa menelpon bu Ratih, mereka datang bersama, ibu sangat senang bisa tatap muka dengan bu Ratih, bu Ratih yang sangat ke ibuan, yang merawat nisa selama ia keluar dari rumah, bu Ratih pun demikian, sangat bahagia bisa bertemu arum ibu nisa,


ibu menjemput bu Ratih di warung nya, mereka kini memasuki gerbang rumah tama yang megah,


"anakku tinggal di istana, tapi hati dan raga nya terkekang" (ibu berkata sambil berkaca mata nya, bu Ratih mengusap punggung nya)


"nisa anak baik bu, saya menyukai nya sejak pertama bertemu, saat itu dia ingin nasi uduk di warung saya, ternyata dia sedang ngidam, nisa anak yang jujur dia sangat manis" (tambah bu Ratih)


"hanya nasib nya saja kurang bagus, padahal mungkin jika yoga meminta nya baik baik, nisa pun akan luluh"


bu Ratih setuju akan hal itu,


"wanita senang dengan kelembutan kan bu??


cinta bisa datang kapan saja, seperti Adnan pada nisa" (tambah bu Ratih)


bu Ratih dan ibu saling tatap, mereka sama sama menguatkan,


"udah jangan sedih, kita akan bertemu nisa, kita harus menghibur nya" (ucap ayah, Rendy yang di belakang kemudian mengangguk, ia setuju)


tiba di parkiran, keluarga nisa di sambut riana, karna ia mendapat laporan dari scurity di gerbang depan,


riana tampak bahagia,


memeluk arum, dan Ratih bergantian


"nisa pasti senang kedatangan tamu, ayo masuk, nisa di kamar nya"


mereka memasuki rumah,


"percuma kaya raya, tapi miskin hati" (Rendy bergelut dengan pikiran nya sendiri, melirik pada ayah nya, seperti nya mereka berdua berpikiran sama, ayah mengangkat bahu nya, Rendy tersenyum masam)


rumah yoga betul bak istana, tapi pemilik nya tak punya hati, tama datang ikut menyambut, ia sangat senang. tama meminta riana langsung mengantar ke kamar nisa, di lantai atas


took took tokk,


riana membuka pintu kamar nisa,


"sayang ada tamu"


nisa sedang memberi anak nya susu di pelukan nya di temani pengasuh,


nisa menoleh


mata nya melirik ke sana ke mari, ia sedikit tak percaya melihat siapa yang datang, mereka semua yang sangat nisa rindukan,


"ibu... (nisa menangis, ibu langsung memeluk nya, menciumi wajah anak nya)


" nisa kamu kurus sekali" (ibu bergumam dalam hati nya, mengusap pipi anak nya yang semakin tirus, masih ada selang infus di tangan nya,


ibu meraih razky, ia juga kangen pada cucu nya, )


nisa juga menangis memeluk bu Ratih, tidak ada kata apa pun beberapa saat, hingga bu Ratih berbisik di telinga nya,


"kamu wanita yang kuat nisa, tunggu Adnan datang menjemput mu, kamu harus sabar, kamu harus sehat, lihat badan mu kurus sekali, apa nanti Adnan akan mengenalimu jika kondisi mu begini?? "


bu Ratih tidak bebas berbicara di sini, ada riana dan mungkin pelayan di sini akan mengadu, hanya berharap nisa tau kode yang ia berikan,


nisa terdiam, mencerna apa yang bu Ratih sampaikan, apa mas Adnan baik baik saja?? semoga ya Allah, nisa tersenyum.


bergantian memeluk ayah dan abang nya,


Rendy memberikan HP milik nya yang tertinggal di rumah, nisa sangat rindu itu, abang nya begitu pengertian, banyak foto nya dengan Adnan di sana..


"makasih bang"


mengusap airmata adik nya


"jangan nangis lagi, abang tau kamu kuat,


kenapa kamu kurus sekali, apa mereka tidak memberi mu makan?? "


riana langsung salah tingkah mendengar perkataan itu, ia tak mau di salahkan atas itu, karna sudah berjanji pada arum akan merawat nisa seperti anak nya,


"nisa ga nafsu makan bang"


"apa makanan di sini kurang enak?? (tambah Rendy, ibu mengusap punggung Rendy, memberi isyarat, bahwa perkataan nya sudah berlebihan)


riana tersenyum,


" nisa susah sekali makan, kami sudah membujuk nya, maaf untuk itu (riana menatap arum, arum tersenyum)


"iya, terimakasih sudah merawat nisa"


obrolan di antara mereka nampak seru, membicarakan perkembangan razky yang tambah gemoy, pipi nya berisi, berbanding terbalik dengan mamah nya,


"nisa sayang, makan ya, ibu suapin, mau?? "


nisa mengangguk, ia jelas rindu makan dari tangan ibu nya, itu akan sangat nikmat, apa pun makanan nya,


riana meminta pelayan menyiapkan makan untuk nisa, ia terlihat senang, semoga nisa bisa makan banyak, riana selama ini begitu baik pada nisa, betul ia menganggap nya sebagai anak, riana lah yang membantu nisa menyisir rambut panjang nya, karna nisa tak memperdulikan diri nya sendiri..


ibu mulai menyuapi nisa, yang lain tak mau mengganggu, semua keluar, Ratih membawa razky keluar,,,


nisa mengunyah makanan sambil menangis, ibu tak tahan melihat nya


"nak, kamu kurus sekali, ibu sampai tak mengenali mu, tadi (mengusap pipi anak nya, nisa menggenggam nya, mencium tangan nya)


" kapan mas Adnan datang bu? ini sudah satu bulan, nisa kangen... "


ibu mengusap airmata Nisa yang jatuh begitu saja, hati nya sakit,


"sabar ya, kami tidak tinggal diam sayang, secepat nya akan kami bawa Adnan pulang"


"ibu janji?? "


"ibu janji sayang, sekarang kamu harus banyak makan, Adnan akan marah melihat keadaan mu seperti ini"


nisa mengangguk, ia semangat untuk makan, isi piring nya hampir habis


"bu cukup nisa kenyang" (ibu tersenyum, )


"ini sudah banyak sayang, kamu harus semangat oke" (nisa mengangguk lagi, ia seperti mendapat power untuk melanjutkan hidup)