Annisa

Annisa
mengubur luka



pernikahan Riko berlangsung, ia sudah sah jadi suami orang, nisa dan adnan sedang di perjalanan kembali ke rumah Bu Ratih,


cukup sudah..


melihat keluarga nya hidup dengan baik, ibu, ayah dan bang Rendy sehat, sudah membuat nya tenang, nisa akan mengubur semua nya,.


jujur ia khawatir selama ini, ia takut yoga macam macam pada keluarga nya,


dan ternyata, yoga hanya menggertak saja, Riko pun baik baik saja, bahkan lebih baik,


nisa tanpa sengaja tertidur, adnan melihat dari tadi nisa menangis, ia pasti lelah.


rasanya ia ingin menonjok wajah lelaki itu, tidak kah dia mencari nisa? ini baru terbilang sebentar, pria itu sudah melupakan nya begitu saja.


menepikan mobil nya di rest area,


adnan memberikan waktu untuk nisa beristirahat, ia memandangi wajah nisa,


nisa cantik, selama adnan mengenal nya dia wanita baik, nasib nya saja mungkin kurang beruntung, akan ada omongan yang menyakitkan jika orang lain mengetahui ia hamil namun tidak memiliki suami, kasihan nisa...


"bagaimana jika bukan aku yang menemanimu pulang nisa, aku takut kamu akan bertindak macam macam, apa lagi kamu tidak menyukai bayi yang ada dalam kandungan mu"


(adnan berbicara sepelan mungkin ia tak mau mengganggu nisa)


memutuskan untuk membeli kopi, ia butuh penyegaran, setelah tadi ikut sesak melihat nisa menangis,


memandangi kopinya,


kenapa dia sangat peduli pada gadis itu, nisa seolah berbeda dalam pandangan nya,


adnan tau nisa berbeda, jika benar ia menyukai nisa, mungkin persentase di khianati seperti 6 tahun silam tak akan terjadi,


namun ke adan nisa membuat ia bingung, nisa sedang mengandung, tapi dia menyukai nya,


bagaimana ini????


ia pusing memikirkan diri nya sendiri,


adnan berniat membawa kopi nya ke dalam mobil, ia akan menemani nisa saja,


di buka nya perlahan pintu mobil, nisa masih tidur,


beberapa saat ia terusik, dan bangun, mengucek matanya, adnan memandang nya, bagi nya nisa sangat lucu saat bangun tidur, ia seperti orang linglung,.


adnan tersenyum,


"kita dimana mas? wangi apa ini?? (nisa mencium wangi kopi yang memenuhi ruangan)


"aku suka sama kamu nisa" (adnan mengungkapkan isi hati nya)


" apa?? " (nisa belum sepenuh nya sadar, ia tak menangkap jelas apa yang adnan bilang)


*lupakan adnan, ini terlalu mendadak*


" di rest area nisa. kamu tertidur tadi, aku juga butuh kopi jadi kita istirahat saja"


"makasih mas, ini kopi apa sih, wangi banget" (nisa celingukan, mencoba kepo akan gelas plastik yang adnan pegang)


"kamu mau?, aku pesenin ya? "


"engga mas, nisa ga ngopi, tapi ini wangi banget, nisa icip aja ya?? "


"ini punya aku nisa"


"jadi mas ga mau bagi?? "


adnan ingat nisa sedang hamil, mungkin sifat celamitan nya itu datang dari sana.


"ambil lah, ( adnan menyodorkan gelas, ia mengelap bekas bibir nya dengan tisu)


seperti anak kecil mendapatkan permen, nisa sangat senang


rena menyeruput nya, adnan menunggu, mengetuk nge tukan tangan pada stir mobil nya


namun seperti nya nisa tidak berniat mengakhiri nya ia menyukai nya


" kamu suka? “ (adnan bertanya)


" suka mas, ternyata enak ya? “


*hmmm. alamat ga akan di balikin ini mah😄


"baiklah, tunggu di sini seperti nya aku harus membeli nya lagi"


"heheehee maaf ya mas"


adnan tersenyum


kamu tau nisa itu kopi lagi nikmat nikmat nya😭


nisa menangis lagi, ia janji ini yang terakhir ia menangis, nisa tak mau memperlihatkan kesedihan pada orang lain,


mereka (keluarga bu Ratih dan mas adnan sudah baik pada nya selama ini)


bagaimana pun ini kesalahan nya, meninggalkan keluarga nya..


bayi dalam perut nisa bergerak lagi,


"apa kamu suka kopi?


baiklah seperti nya aku juga menyukai nya"


nisa berbicara pada perut nya,


entah, ia belum bisa meraba bagaimana esok, lusa, bahkan nanti jika dia melahirkan, bisa kah ia menerima anak ini, ini bukan keinginan nya,


adnan kembali, membawa kopi nya,


beberapa saat mereka berbincang, setelah adnan menghabiskan kopi nya, mereka melanjutkan perjalanan.


**


tiara dan yoga berbincang dengan seru, mereka kini sedang makan siang,


mamah tadi pamit ke toilet, namun tak lama ia menelpon, ada hal penting yang harus ia urus,


meninggalkan tiara dan yoga ber dua,..


"kamu belum menikah tiara? " (tanya yoga)


"belum, kamu sendiri?? "


yoga menggeleng,


"usia kita hampir sama kan, kamu perempuan apa orang tua mu tidak repot menanyakan ini itu"


"jangan bahas itu yoga, aku sudah malas mendengar nya, orang tua sekarang sangat kuno, mereka bilang takut aku menjadi perawan tua"


yoga tersenyum,


pesanan mereka datang, dan mulai makan..


"kuping ku juga berasa panas, mamah selalu mendesak ku untuk menikah"


"oya? aku kira kalo laki laki bebas"


"dengan alasan rumah begitu sepi, mamah ingin segera punya cucu"


"ahahaa itu alasan klasik yoga"


"ya begitu lah"


"kamu belum punya pacar? (tiara bertanya, ia nampak cuek sekali, tidak ada kecanggungan)


" aku trauma"


tiara terdiam, menunggu yoga melanjutkan cerita nya


"aku di tinggalkan"


"apa dia selingkuh?? " (tiara penasaran)


"lebih buruk tiara, kalo dia selingkuh mungkin aku akan bisa menemui nya se waktu waktu"


"lalu? ( tiara penasaran)


" dia pulang ke surga"


tiara terpaku, tidak menyangka seorang yoga mengalami hal itu,


"maaf, pertanyaan ku buat kamu teringat lagi"


"tanpa kamu tanya pun aku selalu mengingat nya" ( yoga tersenyum, bayangan wajah nisa melintas hadir di pelupuk mata nya)


"kamu setia sekali yoga"


"aku tidak begitu baik seperti yang orang orang lihat tiara"


tiara tersenyum,


ia lebih baik mengalihkan pembicaraan ke lain hal, karena mimik wajah yoga begitu terlihat sedih,


hingga mereka menyelesaikan makan nya,


yoga mengantar tiara lagi ke butik nya, dan ia pun pulang,