Annisa

Annisa
Adnan pulang



keluarga nisa sampai di RS ibu tidak sabar ingin segera bertemu putri nya,


belum sampai di ruangan nisa, Rendy melihat yoga duduk di taman RS, ia maju mempercepat langkah nya, berbelok, meninggalkan sang ibu dan ayah nya


ayah berhenti, memperhatikan anak nya yang mengambil jalan lain,


Rendy meremas kemeja yoga tepat di leher belakang nya,


menarik yoga untuk bangun, Rendy tak tahan lagi, ia langsung mendaratkan tinjuan nya, yoga sempat menangkis beberapa kali pukulan yang Rendy layangkan, itu membuat Rendy semakin marah, hidung dan sudut bibir yoga mengeluarkan darah,


ibu, melihat nya, Rendy begitu bernafsu memukul yoga sampai yoga tertidur di rumput,


"seharus nya gue ga biarin lo hidup dulu yoga,


lo udah rusak ade gue, lo bikin dia sengsara, lo ga pantes buat hidup, lo lebih lebih dari binatang"


Rendy tak henti nya memukul yoga, sampai dua orang scurity datang melerai mereka,


mereka jadi tontonan keluarga Pasien yang berada di sekitar RS,


Rendy mengerahkan seluruh tenaga nya, dua orang scurity memegang tangan nya, namun Rendy belum puas, ia memberikan beberapa kali tendangan pada tubuh yoga,


ayah membiarkan anak nya, yoga memang pantas mendapatkan itu,


ayah menggandeng istri nya, melanjutkan perjalanan menuju ruang rawat nisa


"ayah, bang Rendy..? (tanya ibu)


" biar lah, mereka sudah besar, biar mereka menyelesaikan masalah nya sendiri, kita masih ada urusan, nisa lebih penting bu, "


ibu menurut, ayah menggandeng pundak nya,


ada Ratih di sana yang menghampiri arum, mereka berpelukan, menangis,


Ratih mengusap punggung arum,


"bagaimana nisa?? (tanya arum)


" masih kritis" (Ratih melepaskan pelukan nya)


"Adnan dalam perjalanan pulang" (kata arum lagi)


Ratih mengangguk,


"nisa menunggu nya, semoga dia cepat datang"


arum beralih menatap riana, riana sudah bangun dari duduk nya


"maaf ( ia menangkupkan kedua tangan nya)


aku gagal menjaga nisa, maafkan aku"


arum tau bukan riana yang salah, tapi anak nya yoga, arum meraih tangan riana,


"kita harus berdoa untuk nisa, semoga ia baik baik saja"


riana mengangguk, mereka kini yang berpelukan,


tama menghampiri Ryan,


mereka bersalaman, tama pun meminta maaf karena anak nya, nisa jadi begini...


HP riana berdering, telpon dari rumah,


"iya bi... "


"bu, den razky terus menangis, ga mau minum susu"


riana menangis lagi, cucu nya pasti tau ibu nya sedang bertaruh nyawa,


"bawa razky kemari, jangan lupa dengan susu nya dan beberapa pasang baju untuk ganti"


"baik bu.. "


"kenapa cucu ku? " (tanya arum)


"dia ga berhenti menangis, ga mau minum susu juga, aku meminta pengasuh membawa nya ke sini"


"seorang anak pasti tidak mau jauh dari ibu nya" ( jawab arum)


beberapa jam berlalu, hari sudah malam,


nisa baru boleh di jenguk,


keluarga bergantian masuk ke ruangan nisa, lagi lagi ia terbaring lemah, ibu menciumi tangan anak nya, nisa begitu pucat, sampai kulit tangan nya pun ibu rasa sudah berubah warna..


"nisa sayang, ini ibu.. kamu dengar ibu kan nak?? “ semua keluarga berkumpul, ada bu Ratih juga,


ibu membelai pipi anak nya yang terhalang tali oksigen di hidung nya,


"razky terus menangis nak, ia ingin bersamamu, bagaimana kamu bisa menggendong nya jika kamu tidak bangun kasihan dia, ayo bangun, kita pulang ke rumah, banyak baju razky di rumah yang belum kamu pakaikan"


detak jantung nisa semakin melemah, alat di samping nya ber bunyi nyaring, ibu panik, ia menekan tombol darurat,


beberapa perawat dan dokter datang,


ibu keluar, ia memeluk suami nya menangis di sana,


"nisa tambah kritis yah bagaimana ini"


"ikhlaskan bu kasihan nisa"


arum menggelengkan kepala nya, jelas ia tidak akan mudah mengikhlaskan


Ratih pun terduduk mendengar ucapan Ryan, nisa sudah ia anggap sebagai anak nya..


razky mulai tenang dalam pelukan riana, ia tertidur...


Adnan tidak ingin membuang waktu, mereka sampai di RS, Adnan sengaja mengemudikan mobil yang di sediakan anak buah nya di bandara, ia tak peduli pengendara lain, Adnan harus sampai secepat nya ke RS,


sesampainya di RS, adnan melihat Rendy,


mereka berpelukan,


Rendy sangat lega melihat Adnan ada di sini,


"cepat temui nisa ia kritis"


Adnan tidak menjawab Rendy, ia langsung pergi, setengah berlari,


Ratih langsung bangun dari duduk nya ketika melihat siapa yang datang,


"bu Adnan datang ( kata Ratih menyentuh lengan arum, arum langsung bangun dari duduk nya)


Adnan datang memeluk ibu mertua nya,


ayah mengusap pundak menantu nya,


" maaf Adnan terhambat bu"


"engga Adnan, masuk lah nisa menunggu mu"


tanpa menyapa tama ia masuk ke ruangan, Adnan mengusap wajah dengan kedua telapak tangan nya, hati nya sakit melihat keadaan istri nya, ia mendekat, Adnan jelas rindu, namun ia marah melihat keadaan nisa seperti ini,


di kecup kening istri nya lama, Adnan meneteskan lagi air mata nya,


bertumpu pada lengan nya di ranjang, Adnan mendekat, ia berbisik pada istri nya,


"sayang... aku pulang, bangun lah.... "


berat, ini sangat berat...


Adnan menenggelamkan wajah nya di bantal yang juga nisa tiduri, wajah mereka menempel, Adnan mencium beberapa kali pipi istri nya


"lihat, aku pergi sebentar saja kamu sudah jelek begini nisa,(mengusap lembut pipi nisa)


aku tidak akan membiarkan mu pergi, kamu punya hutang padaku, kamu bilang akan mencintaiku hmmm? kamu bilang kita akan bahagia, bagaimana kita akan bahagia jika kamu pergi,


bangun lah, aku pun merindukan mu...


Adnan menunggu nisa tak henti, ia sampai tertidur di atas am tangan nisa, Adnan bermimpi,


nisa memberikan putra nya pada Adnan untuk adnan gendong, nisa begitu manis tersenyum..


"aku lebih suka kamu yang menjadi ayah nya, semoga dia memiliki sifat seperti mu menyayangi ku"..


Adnan terbangun, melirik jam di tangan nya, tak terasa ia tertidur selama 15 menit,


Adnan ingat mimpi nya barusan, ia keluar ruangan,


keluarga masih berada di luar, Adnan menghampiri mertua nya, razky sedang dalam gendongan nya


"bu, biar Adnan yang gendong, adnan akan bawa razky masuk"


ibu memberikan nya, Adnan terlihat kaku menggendong razky, Adnan tersenyum, putra nya begitu tampan, benar dia mirip dengan ibu nya.


arum mengangguk, mengijinkan Adnan membawa cucu nya,


Adnan mendekati nisa lagi,


"sayang lihat, aku menggendong razky, dia sungguh tampan ya, lihat bibir nya, sangat mirip dengan mu"