Annisa

Annisa
akan di mulai



tiara Mengompres memar pada pipi bawah yoga, adnan begitu mengerahkan seluruh tenanga nya untuk menghajar yoga,


yoga melamun,


tiara lalu mengoleskan salep untuk meredakan rasa nyeri nya,


"yoga.. (tiara memulai pembicaraan)


ada apa? kenapa pak adnan begitu? dia seperti marah sekali"


tiara selesai mengoleskan salep,


"makasih tiara,


kamu tau perempuan yang tadi bersama nya? “


" dia istri nya bukan? tadi aku sempat dengar begitu "


"dia nisa, perempuan yang selama ini aku anggap sudah tiada"


tiara bingung apa maksud nya,


"aku kurang faham yoga, "


"huhhhhh (yoga mendesah kasar)


perempuan itu, wanitaku tiara, dia hamil oleh ku, entah kenapa dia malah menghilang saat aku ajak dia menikah, tapi beberapa hari setelah dia menghilang, ada kabar tentang penemuan mayat, dan itu ciri ciri seperti nisa, bahkan ada data diri nya di sana.. "


"apa maksud nya hamil? kalian belum menikah? “


tiara bingung akan hal itu,


namun yoga tidak mungkin menceritakan semua nya,


" cerita nya panjang tiara, aku menghamili nya, dan dia tidak suka itu"


tiara tambah bingung,


mana ada perempuan di hamil akan senang, apa lagi sebelum menikah??


tiara diam, lebih baik memang tidak banyak bertanya, jika yoga tidak cerita,


"ini sudah 7blan lebih sejak kejadian ia hilang,


aku hampir gila kehilangan nya,


tuhan menghukum ku, dia memisahkan dia dari ku, tapi mengapa harus bertemu lagi, aku sempat berfikir, nisa melarikan diri karna ingin menggugurkan kandungan nya, namun ia tak kembali lagi"


tiara belum menemui titik tarang tentang keadaan nya,


"dan paling menyakitkan, dia sudah di miliki oleh orang lain, lucu nya dia paman ku sendiri,


aku coba meyakinkan diri ku kalo itu benar Annisa yang aku sayang, tapi Si adnan , malah memukulku"


"yoga, karena nisa sudah milik paman mu, maka paman mu tidak mau wanita nya di sentuh orang lain"


"tapi aku senang tiara, nisa mau membesarkan anak kami ( yoga tersenyum, ia melihat nisa semakin cantik walaupun dengan perut buncit nya) kamu tau tiara, aku sering memimpikan nya duduk di kamar ku menimang bayi"


*yoga,


sedalam itukah rasa cinta mu, walau aku ga tau apapun tentang kalian, tapi aku melihat kesedihan di mata kamu , tapi dia sudah milik orang lain, kamu mau apa?? ( tiara menerawang, pikiran nya tak henti memikirkan hal yang entah bagaimana kebenaran nya)


yoga dan tiara memang tidak berkomitmen apa apa, orang tua mereka memang menjodohkan nya, namun tiara sudah memiliki pacar, mamah nya tidak merestui,


yoga pun belum bisa melupakan nisa,


mereka hanya menjalin pertemanan saja,


walaupun kedua keluarga menginginkan yang lebih,


***


pagi datang, adnan terlihat sibuk menelpon ke sana ke mari, memastikan persiapan untuk malam nanti,


harus sesuai dengan yang dia inginkan,


tidak akan banyak tamu yang datang, hanya keluarga bu Ratih, dan beberapa orang kepercayaan adnan.


nisa dan keluarga di minta datang sore, karena walaupun sederhana adnan ingin nisa tampil cantik di hari pernikahan nya.


adnan menentukan pernikahan ini akan sah secara agama dan hukum, walaupun nisa sedikit sedih ayah nya tidak bisa menjadi wali untuk nya,


"ini belum saat nya nisa, akan aku berikan banyak kejutan untuk mu setelah ini (adnan bergumam, memandangi wanita di HP nya, yang beberapa jam lagi akan menjadi istri nya, pengganti yang telah hilang)


sebuah mobil terparkir di depan rumah bi Ratih sore ini, bu Ratih sempat bingung, ia tak kenal dengan mobil itu,


namun nisa keluar kamar,


" ayo bu, itu mas adnan minta teman nya jemput kita"


"pantes ibu ga kenal. tapi benar itu teman nya mas adnan?? " (bu Ratih hawatir tentang yoga)


"mas adnan nelpon nisa barusan bu"


"ya kalo begitu baiklah, ayo kita jalan... "


nisa, bunga dan bu Ratih mendekat ke arah mobil,


sang sopir turun, menundukkan kepala pada nisa,


"mari nona, ( membuka kan pintu mobil untuk nisa, nisa merasa canggung)


" terimakasih pak"


"jangan sungkan nona"


semua nya sudah siap, perjalanan di mulai,


hanya sekitar 20 menit, namun nisa gelisah, ia akan menikah dan itu membuat ia degdegan.


masuk ke area parkir apartemen, adnan sudah ada di sana dengan beberapa orang,


"selamat datang bu, (adnan menyalami bu Ratih)


"wah, pengantin wajah nya cerah sekali" (goda bu Ratih, adnan tersenyum senang)


"tentu bu, ini hari bahagia bukan? "


bu Ratih mengangguk setuju


" apa kamu gugup? (bertanya pada nisa)


"tentu mas, ini yang pertama untuk nisa"


"akupun sama, walau ini bukan yang pertama"


adnan tersenyum, dan menggenggam jari tangan nisa, menuntun nya


beberapa orang sengaja adnan tugaskan di bawah, takut terjadi sesuatu, hati kecilnya selalu memikirkan yoga,


"mas lepas, aku malu sama bu Ratih (nisa berbisik)


adnan malah berbalik,


" bu apa ibu keberatan saya menggenggam tangan anak ibu?? "


bu Ratih tertawa,


nisa malu, ia memukul lengan adnan,


"mas ini... "


"silahkan, pengantin mah bebas... " (jawab Bu Ratih) 😄


memasuki apartemen,


nisa di buat kagum, bagaimana ruangan ini di sulap se elegan mungkin untuk acara nya..


warna putih mendominasi, di hias daun daun hijau yang begitu kontras, serasi, se irama


beberapa helai kain putih itu menjuntai, terikat tali dengan bunga,


adnan membuat tempat ijab kabul sederhana namun begitu indah di pandang, di tengah ruang tamu nya,..


nisa menyukai nya...