
nisa selesai di urus, pihak keluarga di berikan kesempatan untuk melihat nya terlebih dahulu sebelum di kafan kan,
Rendy dan Riko menguatkan hati,
untuk terakhir kali nya mereka harus melihat nisa,
Rendy sudah mengabari orang tua nya, bagaimana pun respon nya, ibu dan ayah harus tau ini,
Rendy dan Riko mendekat,
adik nya terbujur kaku di sana, di tutupi kain putih polos seluruh tubuh nya,
Rendy tak kuasa, tangan nya bertumpu pada blankar yang nisa tiduri, sedangkan Riko di sebrang nya,
Riko menatap Rendy,
siapa yang akan membuka kain putih yang menutupi wajah nisa itu?
Rendy pun tak kuasa, bukan takut tapi dia belum bisa menerima kenyataan..
Riko memberanikan diri ia maju selangkah meraih kain tepat di wajah calon istri nya itu,
di buka nya perlahan,
Riko tak tahan, ia menangis, menutupi mulut nya dengan kepalan tangan,
Rendy terpaku tak bergerak, namun airmata menetes tanpa ijin, melihat adik perempuan nya di sana.
wajah nya pucat pasi dan membengkak, sedikit tak dapat di kenali, dengan tangan bergetar, giliran rendy menutup wajah adik nya kini, ia tak tahan"
"nisaaaaa"
(suara menyayat hati datang dari arah pintu, itu ibu dan ayah)
Rendy memeluk ibu nya itu, ibu hampir jatuh, ia ingin melihat anak nya
"itu bukan nisa bang, itu orang lain, ibu yakin itu“ (sambil menangis di pelukan Rendy)
ibu mau liat bang"
"jangan, ibu jangan liat" ( Rendy saja tak kuasa, apa lagi ibu pikir nya)
ayah yang mendekat pada putri nya,
membuka kain di wajah nya,
ayah sungguh patah hati melihat putri semata wayang ya terbujur kaku, ia menangis.
ibu pun mendekat,
memandang wajah putri nya
" jadi kamu ninggalin ibu nak??
kamu ninggalin kita semua, ??
kamu tega,
kita sayang sama nisa, kenapa kamu memutuskan cara seperti ini, untuk pergi,
kami menerima mu bagaimana pun keadaan nya,
jadi tiga hari ini kamu kedinginan??
sedangkan kami tidur dengan kasur, berselimut hangat, ibu bahkan tidak mengurusi mu saat waktu terakhir mumu nisa..
ibu pun pingsan,
tubuh nya seolah tiada ber tulang, lemas,
ibu wanita yang melahirkan nya, menyusui nya, mendengar nya mengucap kata ibu untuk pertama kali nya, dari mulut mungil nya, hati nya sungguh sakit, hancur tak bersisa.
setelah menyelesaikan administrasi dll,
mereka membawa nisa pulang, ini sudah pukul 4 sore, sebelum magrib nisa harus segera di makam kan..
**
"tuan, nona sudah di bawa pulang keluarga nya,
keluarga akan segara memakamkan nya sebelum magrib"
adi memberi kabar,
yoga tidak menjawab nya,
ia kalut, membanting HP nya pada cermin sebesar dinding di kamar ganti nya, di sebelah nya ada beberapa foto nisa dengan wajah ceria nya terpajang , ia sengaja mencetak dalam ukuran besar,
yoga berniat menunjukan nya suatu hari pada nisa, saat dia berhasil membawa nya pulang, memberitahu wanita nya bahwa hidup nya hanya tentang dia, hanya ada dia..
berteriak menyebut nama nisa...
"nisaaaaaa"
(Prannnkkkk cermin berhamburan di bawah kaki nya, para pelayan yang mendengar itu berhambur pergi ke kamar tuan nya)
beny datang,
"tuan beny,
tolong tuan yoga, kaca nya bisa terinjak, tuan yoga bisa terluka"
beny masuk ke kamar yoga,
ini lebih kacau dari terakhir beny lihat,
yoga membanting semua yang bisa ia banting,
hati yoga hancur bersama cermin yang berserakan di bawah kaki nya.
"kamu benar nisa, aku laki laki berengsek..
aku menghancurkan hidup mu, dan Tuhan menghukum ku karena memberi rasa cinta yang tak kan pernah kamu balas,
kamu pergi bersama anak kita yang bahkan belum bergerak di dalam rahim mu, kamu bawa cintaku bersama mu, bagaimana bisa aku hidup tanpa itu, kamu menghukum ku dengan baik nisa,..
jika saja malam itu tidak terjadi,
ini takan terjadi padamu kan, dan lebih baik kita tidak saling kenal bukan??
mengusap foto besar itu,
yoga menangis dalam diam...
"tuan.. " (beny memanggil nya)
tak ada pembicaraan se saat,
"siap kan aku bunga mawar putih sebanyak mungkin, akan aku penuhi makam nya dengan cintaku"
"baik tuan"
yoga bersiap, ia harus datang ke pemakaman,
"tolong bersihkan kamar tuan, dia akan pergi, dan harus sudah rapih jika dia kembali"
(beny memerintahkan pelayan)
"baik tuan"
yoga pergi, mengendarai mobil nya sendiri menuju rumah nisa,
sementara itu, di rumah nisa...
ibu duduk lesu di hadapan putri nya,
menunggu kabar dari pemakaman, para pelayat berdatangan sili berganti,
nisa anak yang baik, ia senang bergaul, menyapa para tetangga, bahkan ia kerap membawa anak bayi tetangga nya ke rumah untuk ia ajak main..
keluarga Riko datang,
mereka telah di beri tahu oleh Riko, dan tidak menyangka calon keluarga baru mereka telah tiada dengan cara seperti ini.
ibu memeluk mamah Riko,
"maafkan nisa ya, kami tidak bisa menepati janji kami pada keluarga Riko"
"jangan dijadikan beban besan,
Kodarullah, kita ga tau rencana allah" (mamah Riko menenangkan ibu)
ibu hanya mengangguk,
terserah, ia tak akan peduli tentang tanggapan orang, kabar tentang nisa yang beredar di luaran sana, bagi nya nisa adalah ratu nya, malaikat nya yang cantik dia anak baik"
dari pemakaman mengabarkan, kalo semua sudah siap, sebentar lagi maghrib, keluarga bergegas....
di bantu para tetangga dan jemaah Masjid,
ayah, bang Rendy dan Riko di barisan depan, menggotong keranda perempuan yang sangat mereka cintai versi masing masing,
yoga di dalam mobil, di sebrang jalan depan rumah nisa, ia menyaksikan, bagaimana wanita nya pergi, menuju tempat peristirahatan terakhir.
banyak sekali pelayat yang datang..
yoga memakai kacamata hitam nya, ia menutupi mata sembab nya itu
**
kamu datang mendekat,
namun jarak antara kita tak jua berkurang,
kisah cinta kita tetap tidak lengkap
aku tau,
ini bukan seperti langit yang selalu memenuhi bumi,
bagiku,
cinta sejati adalah cinta yang tak mencapai dengan tujuan nya..
ada warna, ada cahaya, bila kau ada..
dunia ini bagaikan surga.
di atas pasir
terlihat sesuatu seperti nama ku,
kau menulisnya,
lalu menghilang meninggalkan ku,
dimana kah dirimu??
kisah kita belumlah lengkap......
yoga pratama