Annisa

Annisa
penyesalan riana



Nisa terbangun, merasakan kesemutan di tangan nya, membuka mata perlahan, ia membuang muka, menghembuskan nafas nya kasar, ini masih jam 3 subuh, ia tidak ingin meneriaki yoga saat ini,


yoga tidur di sebelah nya, menggenggam tangan nisa menyimpan di pipi nya,


mereka berhadapan sangat dekat, nisa merasa sangat bodoh, kenapa ia bisa se nyenyak ini, yoga bisa masuk kamar nya kapan pun, riana melarang nisa mengunci pintu kamar,


takut terjadi apa apa dengan nisa, bahkan kunci kamar ia aman kan..


pelan, nisa mencoba melepaskan tangan nya, dan berhasil, ia bangun,..


menatap wajah yoga dan razky bergantian yang sedang tertidur,


nisa frustasi, ia membawa bantal dan selimut tebal, nisa akan tidur di sofa balkon, semoga tidak hujan,


nisa meringkuk, ia terdiam menatap langit yang begitu gelap, malam ini tidak ada cahaya bintang sedikit pun,...


hati nya seolah sudah kebas nisa sudah tidak mau debat, sudah malas berpikir, semua karena nya, apa yang terjadi semua ulah nya,..


"mas, masihkah ada kesempatan untuk kita bersama?? mas masih hidup kan aku yakin itu, batinku mengatakan itu, tapi kenapa kamu tidak pulang??


aku mungkin kurang sabar mas,


aku bukan malaikat,


maaf jika aku tidak bertahan,


aku rapuh, ini terlalu sulit untuk ku, mungkin jika kamu ada di sini aku akan bertahan,


sekarang aku berfikir, kenapa yang mereka temukan mayat nya bukan benar benar aku, kini aku berharap itu adalah aku, mungkin aku tidak akan sempat mengenal mu, mungkin aku tidak akan mengalami ini semua, tapi aku tidak menyesal sedikit pun mas, kamu yang terindah yang pernah aku miliki, kamu yang terbaik yang pernah hadir dalam hati dan hidup ku, kita belum sempat bahagia"


nisa tidak dapat tidur lagi setelah itu, dia hanya menatap kosong langit, entah lah,


ia sudah lelah walau hanya sekedar berfikir bagaimana untuk pergi dari sini,


sampai langit mulai membiru, nisa masih meringkuk di sana,


razky menangis, ia tidak sedikit pun berniat bangun,


yoga mendengar putra nya menangis, lumayan kencang, ia bangun, nisa tidak ada di sana,


yoga membuatkan susu untuk razky,


riana pun datang, karna mendengar tangisan cucu nya,


"yoga dari kapan kamu di sini? "( tanya mamah)


" dari tadi mah" ( yoga menuang susu ke botol, riana menggendong cucu nya, karna razky tidak henti menangis.


"nisa mana?? " (riana mengira nisa mungkin di kamar mandi, tapi riana melihat lampu kamar mandi padam)


"yoga belum lihat, ( memberikan susu pada mamah nya)


razky tidak mau minum susu, tangisan nya semakin kencang,


" sini biar yoga ya g gendong, (riana memberikan nya pada yoga)


memastikan lagi, riana membuka pintu kamar mandi, nisa


tidak ada di sana,


pintu ke arah balkon tertutup, tapi tidak terkunci, riana menyibakkan gorden, ia terkejut melihat nisa tidur di luar, ini masih jam 5 pasti di luar dingin,..


"nisa.. " (berjongkok, mensejajarkan tubuh nya degan posisi nisa, riana menyentuh pipi nisa, begitu dingin, nisa masih melamun)


"nisa... " ( riana mengguncang bahu nisa, mata nya terbuka namun ia tidak berkedip)


"nisa sayang kamu kenapa?? ini mamah nak ( riana menepuk pelan pipi nisa, beberapa saat nisa baru tersadar, menatap riana)


riana menangis, memeluk nisa


" kamu kenapa sayang, kenapa tidur di sini, disini dingin ini masih subuh"


nisa mengedipkan matanya lama, itu terasa perih. entah dari kapan riana di sana nisa tidak menyadari,.


riana menatap nya, namun nisa membuang pandangan nya,


yoga dari arah pintu balkon, menyaksikan semua nya dari tadi sambil menggendong, razky


riana merapihkan rambut nisa,


"ayo masuk sayang, kamu kedinginan kan?? “


nisa menggeleng,


" yoga tidur di sana, nisa ga mau lagi tidur di sana"


tubuh nisa gemetar, antara dingin dan takut, ia menarik selimut itu sebatas leher nya,


mata riana beralih pada yoga,


"jadi kamu tidur di sini semalam?? dan nisa ketakutan? " (riana menyimpulkan semua nya)


kamu keterlaluan yoga, mamah jadi ikut tidak suka sama kamu (hati nya terus bergumam, tangan nya masih membelai rambut nisa"


"kita pindah ke kamar mamah mau? nisa bisa tidur di sana"


nisa menggeleng,


" atau di kamar tamu? "


"maah maaf, nisa pengen sendiri, nisa ga apa apa di sini"


"nisa, jangan begini, jangan hukum dirimu sendiri" (riana tak tahan lagi, ia menyesali karna menyetujui permintaan yoga untuk membawa nisa pulang, riana kalah, ia tidak bisa merawat nisa, janji nya pada arum tidak bisa ia penuhi)


riana bangun, ia pergi keluar dari kamar nisa, melewati begitu saja yoga yang masih menggendong razky,


melanjutkan tangisan nya di kamar, tama nampak bingung, kenapa sepagi ini istri nya menangis, biasa nya ia akan membawa cucu nya ke kamar untuk membangunkan tama.


"riana kamu kenapa? " (tanya tama)


riana terisak,


"aku kalah... aku menyerah... "


"apa maksud nya?? (tama bingung)


" aku tidak bisa merawat nisa, aku tidak bisa memenuhi janji ku pada ibu nya, aku gagal"


tama mengerti, ia memeluk istri nya, riana semakin menangis,