Annisa

Annisa
hadiah perpisahan



"Yoga... " Nisa memanggil nya


Yoga menatap Nisa,


"jam berapa besok akan pergi?


Yoga menunduk, mengaduk makanan nya,


" entahlah, aku belum dapat tiket nya"


"aku rasa kita harus cepet pulang, cuaca sudah mendung, perjalanan juga jauh..


nanti malam kamu ada janji kan" kata Nisa


"Nisa.. aku mau jangan ada obrolan buat malam nanti atau besok"


"memang kenapa?


aku ga mau acara kamu gagal karna kita, kayak kemaren kan kamu ga jadi makan siang karna razky jatuh"


Yoga tidak menjawab.


karna ia juga bingung harus menjawab apa,


Nisa jadi tidak enak hati, melihat Yoga diam..


cuaca memang sudah mendung,


di tambah gemuruh sudah mulai terdengar, sungguh cuaca kini tidak bisa di prediksi..


"Yoga, ayo kita pulang, aku takut cuaca nya kaya waktu ulang tahun razky"


Yoga mengiyakan permintaan Nisa


mereka bergegas pulang. padahal banyak tempat yang ingin mereka kunjungi, seperti atraksi dolphin dan hewan lain nya.


kebetulan sekali jalanan macet, mereka terjebak,


"Nisa, beri aku kabar terus tentang Razky kalau aku sudah di sana, aku ga mau ketinggalan tumbuh kembang dia"


"Yoga, kamu akan menikah dan punya anak anak yang lucu pasti nya dengan Fanny" Nisa tersenyum mengatakan nya


"lalu, jika itu terjadi, memang aku ga boleh minta kabar anak ku sendiri sama kamu Nisa?? " Yoga terlihat marah,


"bukan maksud ku.. "


"aku bilang jangan bicarain hal tentang Fanny dan kepergian ku di sana"


"lho kan kamu yang mulai bilang minta kabar tentang Razky" Nisa merasa aneh dengan Yoga


"ya kan itu antara aku sama kamu dan Razky bukan orang lain,


kenapa kamu selalu bawa bawa Fanny dalam pembicaraan kita aku ga suka itu"


Razky menangis, mungkin karna mendengar kerusuhan antara kedua orang tua nya,


Nisa pun terlihat menahan air mata,


"syuuuut sayang maaf ya.. " Yoga mendengar suara Nisa bergetar menahan tangis.


"Nisa maafin aku"


Nisa hanya mengangguk, ia mengeluarkan mainan untuk menenangkan Razky,


hujan benar benar turun, sangat lebat,


namun jalur sedikit ter urai.. mereka akhir nya bisa pulang,


langit sudah menggelap, karna sudah lebih dari jam 7malam,


hujan masih saja deras, Yoga tidak memiliki payung di mobil nya, di rumah pun sedang tidak ada orang,


ibu di resto, dan bi Yuni pulang dulu ke rumah nya,


Nisa melihat Yoga memeriksa waktu di tangan nya,


"apa kamu mau antar aku ke bandara besok?? " tanya Yoga memecah keheningan,


Nisa terlihat berpikir


"jam berapa penerbangan mu?? “


Yoga menggeleng,


" nanti mungkin aku kabari"


"Nisa... " yoga meraih tangan Nisa, menggenggam nya dengan erat.


"aku pasti akan kangen kalian, untuk ini lah aku ngakak kalian main hari ini, entah kapan lagi bisa seperti ini"


Nisa memejamkan mata, menenangkan hati nya sendiri dari rasa sedih nya,


"kamu akan punya banyak hal baru Yoga, mungkin rindu hanya sementara, kamu akan punya keluarga baru"


Yoga menarik tangan Nisa membawa nya untuk ia kecup beberapa kali,


"Yoga jangan begini, aku ngerasa jadi penghalang antara kamu sama dia"


"dia ga liat kita " ucap Yoga


"kata kata mu seolah menggambarkan kalau kita adalah penghianat"


Yoga malah bergeser dari duduk nya menghadap Nisa, ia mendekat meraih begitu saja bibir Nisa untuk ia cium..


Nisa mencoba menghindar, ia menahan dada yoga..


"yoga.. "


Yoga tidak melepaskan nya, Nisa takut Razky bangun karna gerakan nya,


Yoga melepaskan ciuman nya memberi ruang untuk Nisa bernafas, ia mengusap bibir Nisa lembut,


"anggap ini hadiah perpisahan"


Yoga lalu mengulangi nya lagi, entah mengapa bisa malah terhanyut dengan keadaan seperti ini, di luar hujan begitu deras, seolah mendukung moment itu..


Yoga melepaskan ciuman nya.. namun ia beralih mengecup beberapa kali leher Nisa,


"yoga... " ucap Nisa


"panggil nama ku lagi sayang.. "


Yoga berbisik tepat di telinga Nisa,


entah apa yang Nisa lakukan.. tangan nya terangkat meraih tengkuk Yoga,


Yoga menatap nya, nafas Nisa terlihat naik turun.. tidak mau melewatkan momen indah ini, mereka terbuai dengan permainan nya..


"yoga ini salah... "


"apa yang salah?? “


" kamu mau bertunangan, aku ga mau begini"


"katakan Nisa apa kamu mencintaiku?? “


Nisa menunduk, melipat bibir nya, ia lalu menggeleng, " engga Yoga "


Yoga melepaskan nya,


kembali duduk dengan benar di belakang kemudi...


hujan mereda.. Nisa meminta pada Yoga untuk turun, Yoga turun terlebih dulu,


menenteng jas nya untuk ia selimutkan pada Razky dan Nisa.


setelah memastikan Nisa memiliki kunci dan bisa masuk ke rumah nya, Yoga pergi begitu saja kembali ke mobil, Nisa m mandangi nya dari pintu rumah..


"maaf Yoga, mungkin kalo belum ada Fanny aku akan merubah pikiran ku, aku ga mau ada yang terluka, aku merasakan nya dulu saat melihat mas Riko menikah, itu sangat sakit Yoga"


**


Yoga benar benar tidak menghubungi Nisa, ia bilang se malam akan memberi tahu Nisa jam berapa keberangkatan nya.. namun nihil..


Nisa berjalan di Koridor menuju ruangan nya,. Dian menyambut nya seperti biasa..


"selamat pagi bu?


apa ibu ga anter pak Yoga ke bandara?? "


"pagi dian..


aku rasa ga perlu, Yoga juga ga ngasih kabar mau berangkat jam berapa"


"setengah jam lagi keberangkatan bapak bu, Beny di sana menemani"


Nisa terdiam sejenak,


"ya sudah biarlah"


"emhh ibu maaf , ada tamu ingin bertemu"


"siapa?? "


"nona Fanny, tadi saya minta untuk menunggu di ruang tunggu


" mau apa dia di sini? bukan kah seharus nya dia ikut mengantar Yoga "


"saya kurang tau bu"


"baiklah, ayo kita bertemu.. " ucap Nisa.. ia masuk ke ruang nya


"baik bu.. "


Dian kembali ke ruang tunggu, meminta Fanny untuk ke ruangan bos nya..


"tokk.tokk tokk"


"masuk saja.. " ucap Nisa dari dalam.. dian mempersilahkan tamu nya masuk, ia pun undur diri..


"Fan, kamu ga anter Yoga ke bandara?? “


bukan menjawab Fanny malah menagis,


" pergilah Nisa Yoga cuma cinta sama kamu, aku ga ada hubungan apa apa sama dia, kita cuma berteman "


Nisa melongo mendengar itu...