Annisa

Annisa
prewedding dadakan



semua benar benar terjadi,


pagi ini jam 8 mamah sudah siap Yoga sampai geleng geleng kepala karna semangat mamah nya mengalahkan segala nya.


mereka akan mengunjungi sebuah studio milik rekan Riana, semalam ia mondar mandir, berbicara dengan antusias melalui telpon pada rekan nya,


perjalanan cukup lumayan mereka lalui,


30 menit dari rumah menuju lokasi,


Nisa bengong ketika mendengar mamah Riana berkata pada Rekan nya, "mereka sudah menikah cuma baru sekarang sempat merayakan resepsi"


Yoga menggulum senyum dan mendekat,


"maafkan mamah ya, mungkin agar menutupi keberadaan Razky"


"aku ngerti ko" ucap Nisa


Nisa memasuki ruangan makeup,


setelah tadi memilih tema untuk foto prewedding mereka.


Riana dan Tama sengaja mengajak Razky bermain di sebuah mall tak jauh dari studio,


Yoga terus memandang Nisa yang terlihat begitu anggun dengan gaun ala ala princess dengan mahkota kecil di atas kepala nya,


"yoga jangan begitu"


Nisa merasa malu terus mendapat tatapan, Yoga tersenyum


"kamu cantik sekali sayang"


sang fotografer yang melihat itu tersenyum.


ia mendapat kabar kliennya ini sudah menikah dan baru akan resepsi jadi jika ia mengarahkan gaya yang sedikit romantis tidak masalah bukan??


"aa rangkul pinggang istri nya,


teteh liat aa, aa nya juga liat teteh ya? “


sang fotografer mengarahkan, Nisa membelakangi kamera, dengan canggung ia melakukan instruksi dari fotografer,


tatapan Yoga begitu terlihat memuja wanita nya, ia mengedipkan kedua mata nya beberapa kali pada Nisa yang membuat Nisa ingin tertawa,


"Yoga ga ada becanda deh, biar cepet selesai" Nisa mengeluh, dan akhirnya Yoga mengalah.


setelah sesi prewedding selesai. mereka malah di tawari untuk sesi foto pribadi yang lebih terlihat ramantis karna setahu team fotografer mereka adalah sepasang suami istri


Nisa menggelengkan kepala nya cepat, namun tidak dengan Yoga ia malah ingin melakukan itu.


"Yoga kita belom nikah dan ga boleh begitu" Nisa bergidik melihat gambar referensi yang menampilkan model memakai baju kurang bahan


"kamu mau badan aku di liat sama orang lain kaya di foto ini? “


" oke sayang kita ga akan lakuin itu. aku cuma godain kamu aja",


Nisa cemberut mendengar penjelasan Yoga,


Nisa begitu terlihat lelah.. hampir selama 4jam mereka di dalam studio,


Nisa terlihat sangat lesu, kepala nya bersandar di mobil,


"kamu cape ya? ayo kita makan dulu sekalian jemput Razky sama oma nya"


Nisa diam ia memejamkan mata nya,


"sayang... " Yoga meraih tangan Nisa.


"lho.. kamu demam? " sebelah tangan Yoga mengecek kening Nisa, suhu tubuh nya sedikit hangat


"aku ga enak badan..


ga apa apa ko, istirahat sebentar juga enakan lagi"..


" kita ke dokter ya? “ Yoga panik


Nisa malah tertawa,


"engga nanti minum obat masuk angin aja sembuh ko, aku pengen tidur"


"ya udah kita pulang ke rumah mamah dulu, kamu tidur, istirahat.


biar mamah langsung pulang sama papah ya"


Nisa tersenyum,


"maaf merepotkan"


"hey jangan bilang begitu.. "


Yoga buru buru melajukan mobil nya,


"ko marah marah sih" ucap Nisa


"ya abis aku lagi buru buru macet segala"


"sabar..... " ucap Nisa lagi


"aku khawatir sama kamu Nisa" Yoga memelas menatap Nisa yang terlihat lemah,


"baru deman yoga. aku belum mau mati" entah mengapa kata kata yang Nisa ucapkan sangat tidak ingin Yoga dengar, entah mengapa juga Nisa ingin berkata begitu,


"Nisa.... " Yoga terdengar marah. Nisa melirik nya


"jangan bilang soal mati" tatapan nya begitu tajam lurus ke depan.. yoga marah terlihat dari raut wajah nya


"aku ga mau kehilangan kamu, jangan bahas soal kematian" Yoga begitu serius. Nisa jadi merasa takut. wajah dingin nya saat pertama kali Nisa melihat nya nampak jelas. Nisa masih ingat betul jika yoga marah.


Nisa terdiam. tatapan nya kosong lurus ke depan


"sayang maafin aku" sebelah tangan yoga mengusap pipi Nisa


Nisa hanya mengangguk,


yoga fokus lagi ke jalan yang masih macet,


tidak ada pembicaraan sampai mereka tiba di rumah..


"Annisa" Yoga memanggil nya, ini sudah panggilan nya yang ke tiga, Nisa baru tersadar dari lamunan nya,


"ya..? “ Nisa melihat sekitar, ternyata sudah sampai di rumah mamah Riana,


" udah sampe ya?? " Nisa malah bertanya, membuat Yoga sedikit merasa aneh


"Nisa bilang sama aku kamu kenapa? “


"kenapa apa nya Yoga?


aku ga apa apa... "


"kamu bisa jalan ke dalem? apa perlu aku gendong? “ tanya Yoga, Nisa malah tertawa


" aku bisa jalan Yoga, emang kenapa sih, ko harus di gendong,


ayo kita turun.. apa razky udah pulang?? "


"belum, masih di jalan... "


Yoga turun lebih dulu, ia buru buru berputar membuka pintu mobil untuk Nisa,


mereka berhadapan,


Yoga mengusap kepala Nisa yang terhalang hijab nya... "istirahat ya.. nanti sore kan kita pulang"


"iya" Nisa tersenyum,


Yoga merasa lebih tenang melihat senyuman nya,


mereka akhirnya masuk ke rumah,


Nisa memilih pergi tidur padahal ia belum makan siang,


"takut aku belum bangun, razky belum makan siang.. apa bisa kamu suapin dia? “ kata Nisa pada Yoga


"tenang aja, aku bisa jaga razky"


"baiklah... makasih ya.. "


Nisa berbalik, ia hendak membuka pintu,


"emh.. Yoga... "


"apa sayang? "


"bisa ga wajah nya di bikin rileks, aku takut liat wajah kamu begitu"


"aku khawatir sama kamu Nisa, kamu diem aja, kamu ngelamun aja.


apa ada sesuatu yang mengganjal dalam hati kamu? “


Nisa tersenyum,


" aku ga apa apa Yoga, cuma sedikit lelah..


sore kita akan pulang kan? "


"kalo kamu baik baik aja, ayo kita pulang"


Nisa mengangguk,


Yoga meninggalkan nya saat Nisa telah menutup kamar,..