
Rendy pulang,
ia nampak lesu, bagaimana tidak,
ia tidak berhasil menemukan adik nya, di tambah ia tak tega melihat ibu dan ayah nya hanya merenung, menunggu kabar kepulangan anak perempuan nya,
menyandarkan kepala di sofa ruang tamu, rendy juga sedikit lelah, ibu datang menghampiri,
"bang, bagaimana??"
"belum ada kabar bu" (belum berniat membetulkan posisi duduk nya, rendy malah memejamkan mata nya)
"rendy gagal lagi jaga nisa bu,"
"abang sudah kerja keras ( ibu nya mendekat, mengusap usap lengan anak sulung nya itu),
" rendy ga peduli di bilang bodyguard, rendy ga peduli nisa malu smaa teman teman nya karna rendy selalu ngawasin dia kemana pun,
karena ini yang rendy takut kan"
ibu mulai terisak..
"rendy juga laki laki bu, rendy tau rasa nya kalo liat cewe cantik, apa lagi kalo rendy lagi kumpul sama temen temen, gimana mereka godain cewe yang jalan sendirian, walaupun itu cuma becanda rendy ga suka,..
makanya rendy menjaga nisa, meminimalisir prilaku seperti itu terjadi buat adik rendy
(rendy merubah duduk nya menjadi tegak)
"mungkin nisa perlu waktu sendiri bang, dia pasti terpukul, ini bukan keinginan dia kan?? (ibu tak bisa menahan tangisan nya)
kasihan nisa, kenapa harus mengalami seperti ini.. dia anak baik kan bang??? "
rendy menganggukan kepala nya,
dan memeluk sang ibu,..
rendy ragu,
takut takut adik nya itu berbuat nekat, karena pernah mengutarakan ingin menggugurkan kandungan nya pada Riko.
ayah melihat mereka dari arah pintu,
ayah pun sedih di saat seperti ini, dia tidak bisa melakukan apa apa untuk anak² nya.
**
Riko merebahkan tubuh nya,
ia belum memberikan kabar apa pun pada mamah nya tentang nisa,
berharap nisa kembali lagi, dan ia akan berpura pura tidak terjadi sesuatu..
"nisa, ...
mas sayang sama nisa,
ayo pulang, mas ga akan marah... seperti yang mas katakan kemarin, mas akan menerima anak mu seperti anak mas sendiri, ayo kita menikah.. dan kita akan bahagia..
apa ada sesuatu yang belum kamu ungkapkan nisa? kenapa ga bilang sama mas, mas punya banyak waktu buat kamu ceritain apa yang kamu rasa,
pulang ya...? kasian ibu, ayah bang rendy dan pasti nya mas, kita semua merasa kehilangan“
memandang foto yang Riko ambil saat di RS, nisa menggendong sean keponakan nya, senyum nya begitu lepas, nisa suka anak kecil.
terlintas dipikiran nya,
apa yang sebenar nya telah di lalui nisa?
apa ia juga mendapat kekerasan fisik, karena di tela'ah dari kata diperkosa, berarti itu pemaksaan bukan??,
Riko pun menyesali, kenapa saat itu ia tidak mengantar nisa dulu ke acara luna, dia sudah di beri amanah oleh rendy, dan itu tidak ia jalani..
**
di sudut kota yang berbeda,
nisa sedang mencatat, apa saja yang ia perlukan untuk di kontrakan baru nya,
besok ia akan membeli beberapa barang di temani bu Ratih,
flashback
sesuai waktu yang di janjikan, nisa datang lagi ke rumah makan milik bu Ratih,
mereka kemudian menyusuri jalan menuju rumah bu Ratih, lumayan jarak nya untuk pemula dan jika berjalan kaki ke tempat tujuan,
ternyata kontrakan itu milik bu Ratih,
bergaya modern tipe 36, bu Ratih sangat kekinian..
ada 2 dari 8 kontrakan yang kosong,
nisa memilih salah satu nya,
"nisa, boleh ibu bertanya ? (dengan ragu bu Ratih memberanikan diri, bagaimana pun nisa akan tinggal di sini, entah untuk berapa lama, dan di jaman seperti ini,bu Ratih pun tak mau langsung percaya begitu saja pada seseorang,
itu akan jadi tanggung jawab bu Ratih ke depan nya)
" boleh bu,
(nisa pun bertekad, tidak akan ada kebohongan, cepat atau lambat perut nya akan semakin membesar pasti nya)
"emh maaf jika ibu lancang,
nisa akan tinggal bersama siapa nanti di sini?? apa nisa sudah menikah?? “
nisa tersenyum,
"ibu punya banyak waktu nisa, ibu sudah selesai di warung"
nisa menggangguk,
"bu, nisa bakal sendiri nempatin rumah ini, dan nisa belum menikah,
sebenar nya, nisa juga ga tau mau berapa lama di sini. jadi begini bu....
jujur nisa pergi dari rumah, nisa ada masalah,
nisa hamil,
bu Ratih sempat tak percaya, memang nisa terlihat lemas dan sedikit pucat,
" dari mana ya nisa mulai (mata nya sudah berkaca kaca. bu Ratih memberikan nisa minum)
"ibu akan mendengarkan, ibu tau nisa anak baik"
kata kata itu sedikit menghibur untuk nisa,
"awalnya nisa bekerja di bank,
keluarga nisa masih lengkap, ibu, ayah, dan nisa punya abang laki laki,
nisa juga punya calon suami, kita sudah lamaran, hanya tinggal menentukan waktu kapan akan menikah..
sampai sesuatu terjadi,
nisa pergi ke acara teman, dia akan bertunangan, di sebuah hotel,
nisa saat itu salah jalan, tiba tiba saja ada yang menarik nisa, dan nisa di bawa ke kamar, dan terjadilah kejadian itu" (nisa mengusap air mata nya)
"jadi nisa di.... (bu Ratih tidak bisa meneruskan kalimat nya)
" iya bu, nisa di perkosa, dan itu membuat nisa hamil, seketika hidup nisa hancur,
ibu tau? ayah jatuh sakit mendengar kabar nisa, nisa merasa jadi beban mereka,
belum lagi mereka pasti malu pada keluarga calon suami nisa.
yang paling nisa takuti adalah,
nisa bertemu dengan lelaki itu lagi,
dia masih muda bu, pemilik perusahaan,
dan kebetulan perusahaan kita ternyata bekerja sama,
tadi nya nisa ingin melupakan hal itu, namun nisa hamil, dan lelaki itu terus meminta menikahi nisa"
"dan nisa ga mau??? " ( tanya bu Ratih)
"nisa ga suka sama dia bu, dia kasar, nisa masih trauma saat malam itu terjadi, dia beberapa kali nampar nisa"
ya allah, Bu Ratih pun mulai berkaca kaca mata nya, si raih nya jari tangan nisa yang begitu lembut,
"nisa sudah berharap kehidupan yang bahagia dengan calon suami nisa bu, dan ini terjadi begitu saja,
ibu tau, dia sangat berkuasa, dia tau segala nya tentang nisa , dia juga mengancam akan berbuat sesuatu pada calon suami nisa,
itu membuat nisa takut, nisa takut masalah ini , akan melibatkan banyak orang
dan yaah di sini lah nisa sekarang, menghindar.. "
bu Ratih mengusap rambut nisa,
ia jadi rindu anak nya yang sudah meninggal, mungkin jika ada, ia berusia sama dengan nisa..
"nisa tau? hidup ini memang sangat kejam,
nisa jangan takut, tinggal lah di sini, sampai kapan pun nisa mau"
"terimakasih bu, mungkin ibu akan kena masalah nanti nya, bagaimana pun nisa hamil dan pasti akan terlihat beberapa bulan ke depan nya, dan nisa tidak memiliki suami"
"nisa mau cerita sama ibu aja ibu sudah senang, InsyaAllah, kita akan jadi teman oke"
nisa tersenyum,
"makasih banyak, ibu mau Terima nisa di sini.... "
"sama sama nisa, kamu tau, kamu mengingatkan ibu pada anak ibu yang sudah meninggal"
nisa menjadi tak enak hati,
"kalau dia masih ada mungkin se usia nisa,
tapi ibu bersyukur masih ada satu lagi putri ibu"
"syukurlah bu, kehilangan sungguh menyakitkan ya bu?? "
"sungguh nisa"
dan begitulah cerita bergulir,
nisa memandang satu persatu foto keluarga nya,
"maaf Bu, yah, bang, bukan nisa tak sayang,..
menurut nisa, ini bentuk kasih sayang nisa"