Annisa

Annisa
tertampar



yoga bersiap di ruangan nya,


mendapat informasi bahwa dari pihak bank sudah datang,


ia bangkit dari kursi kebesaran nya,


melangkah beriringan dengan beny dan dian, yoga memasuki ruangan meeting,


pintu terbuka,


yoga sangat terkejut, melihat siapa wanita yang ada di hadapan nya itu, pandangan mata mereka langsung bertemu, yoga menghentikan langkah nya.


di lirik nya nametag di baju hitam semi jas yang nisa kenakan, betul nama Annisa riani tertera jelas di sana, ia gadis yang sama dengan malam itu,


"Annisa (panggil yoga, ia refleks mengudarakan nama itu) "


staff yang hadir saling lirik, mereka tau, bos mereka mengenal wanita di hadapan nya,


sadar namanya di sebut, anisa membuang muka, ia mundur se langkah, tangan nya menyenggol gelas air yang di sediakan untuk nya, lalu tumpah dan gelas itu pecah, nisa sedikit panik,


"maaf (ia berkata pada seseorang yang datang membersihkan pecahan gelas tersebut),


tanpa menatap wajah lelaki berengsek yang ternyata bos di kantor ini, nisa memberi hormat ia mengangguk, lalu duduk, sedangkan karyawan lain nya masih berdiri, (bukan kah ia berkata harus pura pura tak mengenal nya, bahkan aku harus menghindar bila suatu saat bertemu)


yoga menuju kursi nya,


mempersilahkan karyawan nya duduk, beny memperhatikan bos nya itu, ia baru sadar, wanita yang duduk berhadapan dengan sang bos adalah wanita yang sama malam itu.


nisa tak peduli dengan tanggapan karyawan lain tentang nya, mata nya sudah berkaca kaca, sekuat tenaga ia menahan tangis nya


"nisa kamu ga apa apa? (tanya bu Retno)


" nisa baik baik saja bu"


yoga mempersilahkan Sekretaris nya memulai meeting


yoga sedikit tidak konsentrasi, ia ingin terus menatap wanita yang duduk berhadapan dengan nya, walaupun terhalang meja yang cukup besar,


Annisa mencoba se profesional mungkin kini waktu nya memberikan presentasi,


menjabarkan dengan detail program yang mereka miliki, nisa sangat baik dalam berbahasa, singkat namun jelas, membuat orang orang memahami nya dengan cepat, yoga tak mengalihkan pandangan mata nya, ia merekam setiap gerakan yang nisa buat.


nisa berbicara, sesekali tersenyum ramah, bahkan melemparkan candaan yang membuat staff yoga tertawa,


memejamkan mata nya sesaat, yoga teringat saat ia membelai rambut nisa, memandang wajah nya dari jarak dekat,


seperti nya ia mulai menyukai nisa, dari sudut mana pun.


hingga terdengar tepuk tangan para staff memenuhi ruangan, nisa selesai dengan presentasi nya,


biasa nya yoga tidak suka keributan di ruang meeting, namun ini pengecualian karna nisa..


memberi kode untuk beny mendekat, yoga membisikan sesuatu


"baik bos"


tak perlu berbasa basi lagi, yoga menandatangani kontrak kerja sama mereka, padahal ia tak menyimak apa yang nisa katakan dari awal,


di alihkan pada bagian keuangan mereka tinggal memilih program mana yang akan karyawan nya ambil, yoga bangkit, merasa tugas nya sudah selesai ini kembali ke ruangan nya,.


melirik pada nisa,


nisa seolah tak melihat yoga melintas, ia cuek..


tugas nisa dan bu Retno belum selesai,


sekretaris yoga datang,


"ibu permisi, saya ditugaskan pak yoga untuk meminta ibu Annisa ke ruangan nya (sekretaris itu berbicara pada bu Retno, meminta ijin)


" ya baiklah, nisa biarkan urusan di sini aku yg pegang sama pak arif "


nisa mengangguk ragu, kenapa si berengsek itu meminta nya ke ruangan,


yoga terpana untuk ke sekian kali nya hari ini pada nisa, bagaimana tidak, nisa memakai pakaian sangat sopan, baju lengan panjang, dan celana panjang yang membuatnya terlihat elegant,


riasan yang natural, yoga suka tipe tipe wanita seperti ini, daripada melihat perempuan yang berdandan menor, dan berbaju minim.


rambut panjang nya ia ikat tinggi menyerupai kuncir kuda,


nisa terlihat berwibawa


sekretaris nya keluar, meninggalkan nisa, yoga dan beny,


"ada apa tuan memanggil saya? (kata katanya mengandung nada sinis yoga sadar, ia wajar mendapatkan itu) "


menarik nafas dalam, yoga menahan detak jantung nya


"Annisa, (yoga memanggil nya, )


tubuh nisa bergetar, ia tidak ingin lelaki berengsek itu menyebut namanya.


nisa teringat malam itu, se tetes air mata lolos jatuh, nisa tidak menjawab nya ia tersenyum sekedar nya.


yoga mendekat, nisa mudur, ia takut,..


melihat nisa menangis ada sudut hati nya yang nyeri, membuat yoga yang bersifat arogan itu luluh.


" nisa maaf untuk malam itu" (yoga tertunduk ia cukup malu) ,..


"bukan kah tuan meminta agar saya menghindar jika bertemu tuan? lalu untuk apa saya di panggil ke sini?"


"aku mohon maafkan aku nisa, sejak malam itu aku tak tenang, bayangan mu selalu datang di mimpi ku"


"itu bagus tuan, Tuhan sedang mengingatkan betapa buruk nya anda"


beny tercengang, tidak ada orang yang bisa berkata seperti itu pada bos nya, dan lihat bos nya itu, dia bahkan tak marah, apa yang terjadi pada mereka malam itu, apa kah mereka memang saling kenal sebelum nya??


nisa dengan gemetar memberanikan diri mendekat pada yoga, sangat dekat, bahkan yoga bisa menghirup wangi parfum yang nisa pakai, yoga tersenyum ia senang nisa mendekat.


membuka dompet nya yang dari tadi ia pegang, nisa mengeluarkan cek pemberian yoga, menunjukan nya pada yoga, nisa merobek nya


menjadi beberapa bagian,


menyimpan potongan cek nya didada yoga, nisa berkata,


"berapa juta kali pun anda meminta maaf, tidak akan bisa mengembalikan kesucian saya tuan, (air mata nya lolos tanpa permisi lagi)


dan ini, (nisa menunjuk potong an cek di dada yoga), seluruh harta mu pun tak dapat mengembalikan yang telah hilang dalam diri saya“


yoga merasa tertampar dengan kata kata yang nisa ungkap kan, nisa berlalu tanpa berkata kata lagi.


yoga pun tertegun, terlebih melihat nisa meraih beberapa lembar tisu di meja, ia mengelap jari nya yang tadi menyentuh jas yoga, dan membuang tisu itu sembarangan, nisa melenggang cantik meninggalkan ruangan tanpa permisi, persetan dengan bisnis yang mereka bangun, harga diri nya lebih mahal dari ini.


beny menyaksikan nya, bagaimana sang bos malah tertunduk lesu, tak seperti bos nya yang biasa menghadapi orang orang,


ia lemah oleh satu wanita, yang baru saja pergi meninggalkan nya tanpa segan.