Annisa

Annisa
untuk yang terakhir



Yoga melihat kedekatan Riko dan Nisa, apa lagi ketika tamu yang datang adalah teman mereka, mereka terlihat semakin akrab dan sangat terlihat happy,


Yoga menoleh saat mama nya memanggil,


Fanny terlihat gugup bertemu orangtua Yoga,


"mah kenalin ini Fanny"


"hallo tante" Fanny menyalami Riana yang senyum sekena nya saja,


"assalamu'alaikum Fanny" sapa Riana


"eh, waalaikumsalam tante"


"Yoga mamah pulang dulu ke rumah kamu ya..


kamu bantu Nisa jagain Razky, kasian dia repot"


"iya mah, mamah hati hati ya" ucap Yoga, Riana berlalu begitu saja, tanpa menyapa Fanny, apa lagi papah nya Tama, ia bahkan tidak menyapa Yoga, hanya datang pada keluarga Nisa saja, itu sudah jadi sinyal kalau orang tua Yoga tidak menyukai Fanny,


"siapa perempuan itu? " tanya Tama pada istri nya


"entah lah, Yoga ga pernah cerita" jawab Riana


"lihat baju nya sangat tidak sopan, apa Yoga tidak malu membawa nya ke pesta?? “


" makanya mamah malas menyapa nya,


cuma Nisa yang ada di hati mamah buat Yoga "


Tama mengangguk setuju,


"mas, mamah ga dateng??" Nisa bertanya pada Riko,


"iya, mamah kan sudah 5bulan ini stroke"


"ya Allah, maaf mas Nisa ga tau.. "


"ga apa apa, pas 2bulan mamah stroke, bang Rendy sempet nengokin ke rumah"


Nisa mengangguk,


Rendy memang tak pernah menceritakan hal itu,


"itu kesalahan mas Nisa" ucap Riko


"kesalahan? maksud nya? “


" mamah denger mas berantem sama istri mas, dan ga bisa pertahanin kebersamaan kita,


mamah marah marah dan tiba tiba pingsan gitu aja"


Nisa tersenyum pada Riko,


"sabar ya mas.. mungkin memang waktu nya yang pas saat itu"


Riko mengangguk,


"tapi kalo mas ga berantem sama mantan istri mas mungkin mamah ga akan marah"


"kamu kenapa belum menikah lagi? “ tanya Riko.


Nisa tersenyum.


" entah lah mas, rasa nya masih baru kemarin, mas Adnan pergi"


Riko mengusap kepala Nisa,


"berbahagialah Nisa kamu masih muda"


Riko terkejut, Nisa tiba tiba menjauh,


dan itu karna Yoga menarik nya pelan..


tanpa di sangka, Yoga mencium kening Nisa, itu membuat Riko terpana..


"Yoga... " Nisa memandang lelaki di depan nya itu,


"kamu punya aku, ga ada yang boleh sentuh sentuh kamu"


Nisa menghindar, ia langsung pergi, Yoga mengikuti nya,


"Nisa.. " Yoga memegang tangan Nisa,


"aku bukan milik kamu, dan bukan milik siapa pun selain orang tua ku Yoga,


kalo lelaki lain ga boleh sentuh aku.. kenapa kamu boleh?? "


"apa aku harus paksa kamu supaya mau sama aku Nisa?? "


"kamu tuh kenapa sih??


aku kan bilang aku mau sendiri"


Yoga mengungkung Nisa,


wajah mereka begitu dekat,


"akan aku pastikan kamu jadi milik aku Nisa,


kamu tau aku dari dulu nunggu kamu? “


Nisa memandang mata yoga intens,


apa aku harus pergi? “


Yoga tidak menjawab.. ia malah mencium bibir Nisa, Nisa berontak, tangan nya ia kepalkan, mencoba mendorong dada Yoga,


Fanny melihat itu..


"Yoga.. " ia sedikit meninggikan suara nya..


Yoga melepaskan ciuman nya,


Nisa mendorong dada Yoga sedikit kencang hingga ia mundur beberapa langkah,


"Yoga, kamu kenapa sih??" Nisa menangis,


"kamu punya Fanny kan? kenapa kamu ga nikah sama Fanny aja? "


Yoga melirik Fanny yang terdiam menatap ke arah nya,


"Nisa, aku cuma sayang sama kamu" Yoga mendekat lagi, ia hendak memeluk Nisa, Yoga paling tidak bisa melihat Nisa menangis,


"jangan jadi cowok yang ga bertanggung jawab Yoga, jangan permainkan hubungan" Nisa pergi meninggalkan Fanny dan Yoga,


"maaf Yoga, aku ga bermaksud apa apa" Fanny menunduk


"ayolah Fanny bantu aku, tugas kamu cuma bikin Nisa cemburu dan mengakui perasaan nya sama aku... "


perjanjian nya dulu begitu.. ia hanya jadi pancingan untuk Nisa, mengungkapkan perasaan nya,


namun entah mengapa, hati nya mulai berbelok, bagaimana tidak, sering bertemu, menelpon, dan bertukar pesan membuat hati nya goyah, Yoga adalah tipe cowo yang dia ingin kan...


"maaf yoga"


Yoga menggandeng tangan Fanny, ia akan mengantar nya pulang.


acara telah selesai,


Nisa sedang merebahkan tubuhnya di sofa..


tak terasa ia tertidur,


di belai nya kepala sang istri,


Nisa tidur, kepala nya ada di pangkuan suami nya.


" sayang, berbahagia lah,


jangan kurung diri mu dalam ke sedihan..


aku tidak akan marah kalau kamu menemukan pengganti ku, aku malah senang, aku ridho... "


Nisa langsung terbangun,


ia baru saja bermimpi, untuk pertama kali nya setelah Adnan tiada Nisa memimpikan nya,


"mas.. itu nyata sekali.. "


Nisa memegang kepala nya, tadi Adnan membelai nya di sana


Razky terdengar menangis..


Nisa bangun, tadi ia menitipkan nya pada bi Yuni,..


"assalamu'alaikum"


tepat Nisa melewati pintu, seseorang datang..


"waalaikumsalam, ada apa Yoga?? "


Nisa sedang tidak mau di ganggu, ia malas sekali bertemu Yoga..


"Nisa aku mau jelasin hubungan aku sama Fanny"


"aku ga perlu itu, apa untung nya buat aku.


aku lelah Yoga, terserah kalian mau apa aku ga mau tau"


ibu melihat mereka di pintu,


kali ini ibu tidak mau ikut ikutan. ia hanya mendengarkan saja.


" Yoga denger aku..


aku ijinin kamu masuk ke rumah ini karna untuk Razky anak kita.. selain itu aku minta jangan berharap sesuatu yang ga bisa aku kasih..


aku nyaman hidup begini,


di hati aku masih ada mas Adnan kamu ngerti ga sih? bahkan dia pergi belum 1tahun..."


Yoga melipat bibir nya,


ia menunduk, ia merasa kalah, bagaimana mata nya sendiri melihat Nisa berkunjung ke makam om nya, Nisa di sana terlihat rapuh,


"maaf jika aku banyak menuntut dalam hubungan kita, aku ga akan ganggu kamu lagi Nisa maaf udah bikin kamu ga nyaman sama kehadiran aku... "


Yoga pergi,


tanpa mengucapkan salam..


"apa aku keterlaluan?? " Nisa memperhatikan mobil Yoga pergi keluar dari gerbang rumah nya.