Annisa

Annisa
berkunjung



Nisa kalah telak..


ia bangun dari duduk nya,


menyimpan botol di atas meja..


"aku keluar dulu, aku mau cari sarapan.. "


Nisa berjalan menuju pintu,


"Nisa... "


Yoga memanggil nya,


"pikirkan lah lagi, aku ga harus dapet jawaban sekarang juga".


Nisa tidak menjawab.. ia melanjutkan lagi langkah nya,


Nisa terkejut melihat siapa yang ada di hadapan nya, ia hampir saja menangis..


" Nisa kamu di sini?? "


Riana mendekat, Nisa mencium tangan Riana dan mereka berpelukan


"mamah datang? "


"Beny kasih tau mamah, mamah khawatir, beres subuh langsung brangkat"


Nisa melirik Tama, ia mencoba tersenyum,


"papah sehat? "


"sangat sehat Nisa"


"alhamdulillah, Nisa mau cari sarapan dulu, Yoga baru beres sarapan, dia sendirian di kamar"


"baiklah, sana sarapan dulu, biar mamah yang jaga anak nakal itu"


Nisa tersenyum,


"baiklah mah, Nisa permisi"


"iya sayang.. "


Nisa menjauh,


Riana melirik suami nya,


"jadi dia nungguin Yoga gantiin Beny? “


"ya, seperti nya begitu.. " Tama mengangkat bahu nya, namun bibir nya tersenyum penuh arti


"ya, mamah senang mereka semakin dekat.. "


**


Nisa mengaduk soto mie yang ia pesan..


" lalu, kenapa waktu malam saat Jimmy mau cium kamu kamu ga mau? kamu malah cium aku di mobil?? "


kata kata Yoga terngiang di telinganya,


benar juga.. jika memang efek dari obat itu, kenapa pada Jimmy Nisa menolak, padahal saat malam posisi Jimmy sudah dominan..


adakah melibatkan perasaan saat itu?? Nisa pada Yoga


Nisa memijat kening nya,


entah lah, ia sedang tidak bisa berpikir...


seseorang menyentuh pundak Nisa,


Nisa terkejut, ia langsung berbalik, ia begitu saja tersenyum melihat bang Rendy menggendong Razky di belakang nya..


"ouh sayang.... mamah kangen... " Nisa meraih Razky dalan gendongan abang nya..


"abang kapan pulang ? "


"semalam.. kita dengar Yoga sakit sampai di rawat begini, jadi abang sama ibu berinisiatif menjenguk"


"ibu dimana? “. tanya Nisa


" tuh... " ibu berjalan ke arah putra putri nya.


"abang tau darimana Yoga di rawat,? “


" tau dari Benny,


terus abang tanya sama Yoga kamu ada di mana? kata Yoga ada di rumah sakit, terus lagi ke kantin "


Nisa tersenyum. ia memeluk ibu nya,


"maaf ya bu selalu merepotkan"


"jangan berpikir begitu... "


"apa sudah selesai makan nya? “ tanya ibu..


" belum. Nisa malas sekali.. "


razky di gendong lagi oleh bang Rendy, namun ia menangis karna tak mau jauh dari ibu nya..


"tunggu sebentar mamah makan dulu sayang"


ibu dan Bang Rendy menunggu,


mereka merasa Yoga sudah jadi bagian dari keluarga karna dia papah dari Razky, jadi di sini lah mereka,


mumpung Rendy libur. ibu mengajak nya membesuk Yoga,


"ayolah Yoga masa kamu ga bisa dapetin Nisa, dia udah sendiri sekarang apa lagi yang kamu tunggu" Riana terus menggerutu pada putra nya itu,


"mah, Yoga udah pernah nanyain itu, tapi Nisa belum ngasih jawaban,


tapi kalo Yoga perhatikan Nisa sangat perhatian saat Yoga sakit, dari kemarin di kantor"


"jangan geer, mungkin dia hanya kasihan" Tama menimpali membuat Yoga dan Riana terperangah..


"ih papah.. bukan nya kasih suport sama anak"


tokk tokk tokk


pintu ruangan Yoga di ketuk,


semua mata tertuju pada pintu,


Nisa masuk menggendong Razky,


suasana di dalam langsung tak terkendali..


Riana langsung bangun,


"owh.. sayang oma... sini sayang... "


Yoga apa lagi ia langsung bangun dari sandaran nya


"mamah Yoga dulu yang gendong.. "


"kamu lagi sakit, mamah dulu kangen banget"


Riana meraih Razky dari gendongan Nisa,


Yoga merasa sehat mendadak mendapat kunjungan dari putra dan keluarga Nisa..


semua nampak senang, ibu, Rendy, papah dan mamah bersalaman semua...


"kamu kenapa Yoga? " ibu mendekat, Yoga mencium tangan ibu..


"pengen nikah katanya bu.. " Riana menimpali, ia tertawa melihat ekspresi Yoga


"ya nikah saja apa susah nya?? “ tambah ibu..


" masalah nya cewek nya ga mau bu"


ucap Riana ia menciumi wajah cucu nya yang menggemaskan "


"nah itu yang jadi masalah" ibu ikut tertawa


"bang Rendy, coba kenalkan Yoga sama temen abang.. ada lah mungkin yang tipe tipe Yoga"


Tama ikut ikutan..


"emang tipe Yoga kaya gimana? " tanya Rendy


"ya pasti nya seperti Nisa bang" Riana mempertegas,


"mah... " Yoga merajuk seperti anak kecil,


nisa yang sedang duduk di sofa hanya menyimak obrolan mereka. ia tidak komentar atau tersenyum.


"ya nanti abang coba cari lah" Rendy malah masuk ke permainan Riana, mereka memojokan Yoga dan Nisa


obrolan unfaedah itu terhenti, semua terfokus pada Razky ibu bercerita tentang sehari hari,


Yoga kini menggendong nya,


"temenin papah di sini ya sayang, papah kangen"


Yoga terus memberikan candaan pada putra nya sampai Razky menangis.. Nisa membuatkan susu,


Razky malah di baringkan di tempat tidur Yoga, dan ia terlelap di pelukan ayah nya..


"kalo deket aku udah bawa Razky bolak balik kayanya bu.. " ucap Riana


ibu tersenyum,


"saya aja kalo Razky di bawa main mamah nya ngerasa sepi di rumah, kita sudah terbiasa ada Razky"


"pasti suasana jadi hangat kan bu?


makanya saya minta Yoga buat cepat nikah, di rumah sangat sepi. cindy kan tinggal di rumah nya anak anak nya sudah besar ga bisa di gendong gendong kaya Razky gini"


Yoga mencuri curi pandang pada Nisa,


Nisa sedang menerima telpon dari Dian di kantor.