
Nisa menyiapkan sarapan,
hanya ada roti di rumah ini, nisa membuat roti bakar, wangi yang sedikit asing tercium oleh hidung adnan, maklum, biasa nya dia langsung memakan nya dengan susu atau slai coklat, karna hidupnya sangat mandiri..
kemeja nya belum ia kancingkan, dasi pun menggantung di leher nya,
ia menjadi lapar ketika mencium aroma roti bakar, adnan keluar kamar
"wangi apa ini?? "
nisa sedang menyajikan roti bakar nya di meja,
"wangi ya??, nisa bikin roti bakar mas, belum ada stok makanan dikulkas"
adnan senyum, roti bakar nya menggugah selera
ia menarik kursi hendak duduk,
"masss baju kamu belom rapih"
adnan menunduk, ia dia bahkan belum mengancingkan kemeja nya
"mas lapar nyium wangi roti bakar sayang"
"sini nisa betulkan"
nisa mendatangi adnan,
sepintas mata mereka saling pandang, namun nisa langsung mengalihkan nya pada baju,
mulai mengancingkan nya satu persatu, adnan menatap nya lekat, dari arah nya melihat nisa, adnan dengan jelas melihat bulu mata nisa yang lentik
urusan kancing beres,
nisa memakaikan dasi,
"nisa jadi kangen kerja " (nisa tersenyum, namun adnan tidak merespon nya, nisa ragu, menatap suami nya itu, adnan sedang memandang nya)
"mass"
"hmmmmm"
*pleaseee jngan menatap begitu (batin nisa, aku tambah merasa bersalah tau)
nisa menarik pelan dasi yang belum ia simpulkan, adnan sedikit menunduk,
nisa hanya ingin mengecup pipi suami nya,
ketika bibir mereka sudah berdekatan, nisa menggeleng,
menyentuh dagu adnan dan memeiringkan nya,
cuuppp satu kecupan di bibir,
nisa melepaskan nya, dia merona malu, memejamkan mata, dan fokus lagi ke dasi suami nya
adnan melihat itu, nisa sangatlah menggemaskan
"nisa" (adnan memanggil istri nya, lembut, dan sangat pelan)
tanpa menjawab, nisa menoleh, adnan langsung menyerang nya, mencium bibir nya..
seketika rasa lapar akan roti bakar hilang☺☺
setelah beberapa menit, terlepas juga...
adnan terkekeh, melihat wajah nisa yang cemberut,
"dasi nya ga akan selesai mas"
"kamu yang mulai nisa, mas ga akan kerja saja hari ini"
"ehh, engga, mas kerja aja... "
"memang kenapa?? (sudah memajukan lagi bibir nya, adnan menggoda nisa)
" masss" ( nisa menghindar, ia kabur.. "hahaa" adnan tertawa, wajah nisa mungkin tak henti henti nya merona)
"ayo sarapan, nanti roti nya dingin.. " (pinta nisa)
"ayo.. "
mereka menyelesaikan sarapan nya,
"sayang, catat saja apa yang kamu butuhkan untuk keperluan rumah, nanti kirim catatannya padaku, akan aku suruh seseorang menyiapkan nya“
" mas nisa pengen pergi belanja"
"nisa,, mas khawatir, bukan mas mau mengurung kamu di sini, tapi mas takut yoga ikutin kamu, mas kan ga bisa antar kamu belanja"
"oiya, nisa lupa mas"
"di rumah saja ya, tulis semua keperluan nya"
"iya mas"
"apa pun yang kamu butuhkan bilang saja oke"
"mas, tapi yoga ga akan kesini kan?? “
" nisa, perlu kamu tau, setelah yoga ketemu sama kamu, mas melakukan penjagaan untuk kamu, kamu ga tau ya, mas taruh beberapa orang kepercayaan mas di dekat rumah bu Ratih"
"yang bener mas?? "
"ya, itu lah, di bawah dan di luar juga ada, tapi. mas tidak bisa menjamin kalo kamu berpergian"
"iya mas nisa ngerti"
"semoga semua nya segera membaik ya*
" amiiinnn"
" mas pergi kerja dulu, telpon jika ada apa apa, jangan lupa, tulis semua keperluan rumah"
"siap bos" (nisa memberi hormat, adnan tertawa, berat meninggalkan nya sebetulnya,
adnan mencium kening nya, dan mengecup beberapa kali di bagian perut nisa)
adnan pergi, nisa merasa sepi...
adnan sampai di kantor,
ia masuk ke ruangan nya, ia sudah ada seseorang di sana, duduk di sofa dengan tenang,
"bang sejak kapan di sini? “ (adnan bertanya)
"baru saja, kamu susah sekali di hubungin adnan, apa kamu sedang menikmati liburan dengan istri mu? "
adnan tersenyum, ya, di antara mereka informasi akan cepat sampai, banyak mata mata,
"iya bang, (adnan duduk)
" sejak kapan kamu menikah adnan? dan abang mu ini tidak tau?? “
"ada sesuatu bang, jadi adnan belum cerita"
"sesuatu bersama yoga? (telak kata kata bang tama tepat sasaran, dia memang tidak suka basa basi) "
"ya, siapa yang menduga nya, ternyata wanita yang aku nikahi adalah wanita yang sama dengan yang selama ini yoga cari"
"benar itu Annisa yang sama?? "
"benar bang, kita ketemu kemarin di mall, yoga terlihat syok"
"ya, bagaimana tidak syok, orang yang biasa anggap sudah tiada, tiba tiba ada di hadapan mu"
"aku belum memberitahu keluarga, karna ada beberapa hal bang,
awal nya aku juga ga tau nisa hamil, tapi aku sudah suka sama dia, aku kira dia belum menikah bang,
setelah tau dia hamil, aku sempat mundur, berarti dia punya suami, namun setelah tau informasi itu entah lah, hati mulai maju lagi, nisa cerita tentang apa yang ia alami, tapi dia ga bilang kalo laki laki itu yoga, dia ingin mengubur nya dalam dalam"
"apa dia cerita apa alasan nya tidak menerima yoga?? "
"nisa trauma, dia akan menikah dengan kekasih nya waktu itu, namun hal itu terjadi, di tambah yoga melakukan kekerasan fisik,
abang harus tau nisa wanita yang lemah lembut, dalam keadaan marah pun nada nya tidak pernah meninggi,
dia juga pernah ketakutan waktu aku dekati, di trauma bang"
"sejak kapan kalian menikah??"
"sudah sekitar sebulan" (adnan berbohong)
"kamu tau tindakan itu tidak boleh dalam agama"
"adnan tau bang,
adnan menikahi nya, selain adnan sayang, adnan ga mau dia jadi bahan gunjingan warga"
"benar kamu mencintai nya?? "
"bila perlu bersumpah akan adnan lakukan"
"abang minta sesuatu" (tama lebih serius kini)
"apa??? ( adnan belum bisa menebak apa mau abang nya itu) "
"setelah nisa melahirkan, aku akan mengambil anak nya"
"apa? jangan gegabah bang"