
yoga kini lebih ingin berada di sini, di rumah orang tua nya, setelah tau ada nisa juga di sini.
mamah jelas senang dengan itu akan lebih sering meme pertemukan anak nya dengan tiara,
siapa sangka, seorang yoga bisa terpuruk karna seorang perempuan,
luka nya tentang kehilangan terbuka kembali, ia merasa telah di bodohi oleh takdir, bukan, Tuhan menghukum nya dengan cara menyakitkan,
"tuhan, aku sudah mengaku aku salah, dan menyesali nya, namun apa engkau tidak bisa memberiku kesempatan untuk hidup bersama nya,
aku tau, luka yang ku goreskan cukup dalam di hati nya, namun aku ingin mengobati nya, aku ingin merawatnya,
apa hebatnya dia dibanding aku nisa,
adnan lebih tua dari ku, aku juga punya segala nya,
kenapa kamu malah memilih nya, apa kurang ku nisa?? “
yoga emosi,
melampiaskan kekesalan nya pada foto nisa yang selalu jadi layar utama di HP nya,
"jangan salahkan aku jika aku nekat, aku pernah memintamu secara baik baik nisa, namun kamu malah pergi"
**
tama mendapat kabar tentang yoga dan adnan dari sekretaris nya,
adnan memang tidak bisa di hubungi tiga hari terakhir,
besok akan ia tanyakan pada adik nya itu, tama harus tau sejelas jelas nya,
**
satu persatu tamu pamit,
beberapa petugas kebersihan membersihkan sisa sisa acara, namun tidak dengan dekorasi nya, nisa menyukai nya, biarlah untuk beberapa hari kedepan seperti itu, mungkin sampai bunga bunga menjadi layu,
nisa menguap,
bu Ratih melihat nya, ini sudah pukul 9 lebih 30menit, mereka pamit pulang, karena nisa butuh istirahat, ini juga malam pertama untuk mereka kan..
"dek, nginep di sini ya, temenin kakak" ( nisa meminta bunga, yang di tanya celingukan, bu Ratih tersenyum.)
"kakak, bunga besok sekolah, besok hari senin.. "
"ah, iya... " ( nisa tersenyum kikuk)
Adnan mendengar itu, namun ia pura pura sibuk dengan HP nya
*apa nisa takut padaku?? (pikir nya)
"nisa, ada mas adnan sekarang yang jagain kamu, ibu harap kalian akan selalu bahagia, melewati semua nya bersama dengan kasih sayang"
"nisa bersyukur bisa bertemu sama kalian, Allah ngasih nisa perlindungan di manapun, nisa ga akan lupa jasa ibu dan keluarga, ibu jadi ibu ke dua untuk nisa"
mereka berpelukan,
bunga pun terharu
"rumah akan sepi deh, kakak pasti tinggal di sini kan?? "
"kakak kan bisa maen ke rumah, atau bunga yang main ke sini, iya kan?? "
"iya ka, bunga ga sabar punya adek bayi" ( bunga bergantian memeluk kakak sambung nya itu, selama ini, nisa banyak memberikan ilmu, sesuai permintaan awal bu Ratih, nisa bisa buat bunga betah di rumah, dengan kegiatan baru nya)
"kakak juga udah ga sabar"
bu Ratih, bunga, dan kang yopi pamit...
mereka tamu terakhir, dan suasana menjadi sepi dan canggung untuk nisa dan adnan,
"mau mandi?? ( tanya adnan)
" emh, engga kayanya mas.. "
adnan tersenyum, nisa terlihat sekali canggung.
"ganti baju lah, lalu bersih bersih, itu makeup nya Jagan di bawa tidur, nanti kamu jerawatan"
adnan sangat apik sekali, nisa menurut, ia bergegas pergi ke kamar mandi..
"mau mas anter?? ( mulai aksi menggoda nya, seketika wajah nisa merona)
" ga usah mas nisa bisa sendiri"
"heheee, kalo butuh sesuatu, panggil saja oke"
"oke" ( nisa menjawab dengan senyuman nya)
adnan menunggunya di sofa, membuka laptop nya,.
"masss (kepala nya menyembul di pintu kamar mandi)
adnan menoleh,
" bisa minta tolong, nisa ga nyampe buka resleting belakang "
adnan bangun,
"kan kata mas juga mas temenin, takut kamu kesulitan"
nisa membetulkan posisi nya,
membelakangi adnan, nisa gulung rambut panjang nya ke atas, menahan dengan tangan nya,
adnan menenangkan hati nya, jelas ini posisi janggal, ia lelaki tulen, melihat leher jenjang nisa terekspos nyata, adnan menelan ludah,
"maasss"
*nisa, suara mu itu haduuuhhh aku takut tidak bisa menahan hasrat ku ( adnan berteriak dalam hati)
tidak ada pergerakan dari adnan, hingga nisa memanggil nya,
"ya, sebentar,. (adnan memulai, menarik resleting, memang sedikit Sulit)
" bisa mas?? "
"bisa, (menarik nya lebih bawah hingga batas berwarna hitam, adnan tau itu, ia berpengalaman, hendak menarik nya lebih bawah lagi namun nisa mencegah nya)
" mas sudah sampai situ aja "
adnan berhenti, nisa berbalik,
"nisa bisa sendiri kalo sudah begini"
"baiklah, jangan lama lama, hati hati awas jatuh"
nisa mengangguk,
adnan cepat keluar dari kamar mandi, menghindari sesuatu yang tak boleh terjadi
adnan menyibukkan diri,
ada satu niat baik untuk nisa, ia akan pergi ke rumah orangtua nisa, kebetulan adnan sudah tau rumah nya.
adnan akan memberitahu keluarga nya, dengan beberapa bukti foto nisa di sini,
tentu saja nisa tidak akan di beritahu,
adnan ingin saat istri nya melahirkan nanti, ada sang ibu menemani nya, itu yang akan membuat wanita nyaman kan?
di kelilingi orang orang tersayang,
nisa keluar kamar mandi, sudah nampak segar, ia tampak bingung, akan melakukan apa setelah ini,
adnan memanggil nya, untuk duduk di sebelah nya,
"apa sudah mengantuk??"
"belom mas"
"kita gagal beli perlengkapan bayi kemarin, sekarang pilih lah, kita beli online saja, (ucap adnan menyodorkan laptop nya)
mas ke kamar mandi dulu, pilih lah apa yang kamu suka"
nisa antusias, melihat baju bayi dan lain nya, semua nya ingin ia beli, tapi nanti, akan ia tanyakan dulu pada adnan,
nisa baru melihat adnan dengan baju santai nya, celana boxer dan kaus polos,
adnan lupa, ada nisa di sini mulai hari ini, apa kurang sopan pakaian nya?? ah sudah lah, sudah terlanjur, pikirnya
"mas, nisa pengen semua ini.. "
"apa jenis kelamin anak kita? "
"nisa ga pernah periksa, sengaja biar jadi kejutan mas.. "
“prediksimu apa? ayo kita taruhan“ (ajak adnan)
nisa tertawa, mana ada taruhan seperti itu.
"aku menginginkan bayi perempuan " (kata adnan)
"emmmhhh, nisa juga mas, kalo gitu kita beli serba pink saja perlengkapan nya?"
"jangan juga, warna yang masuk untuk laki laki dan perempuan lah, kita kan ga tau dia"
"hmm benar juga, nisa mau ini (menunjuk beberapa perlengkapan dari mulai baju, perlengkapan mandi, gendongan dll)
*jika malam pertama pengantin lain di isi dengan saling mencari sesuatu yang belum pernah di rasakan, lain halnya dengan adnan dan Annisa, mereka asik memilih perlengkapan untuk anak mereka, hingga tak sadar waktu menunjukan tengah malam