Annisa

Annisa
pernikahan



"alhamdulillah ya, untung suami nya sigap, istri nya sedang hamil"


kata itu terngiang begitu saja di telinga nisa dan adnan, adnan refleks tersenyum, entah mengapa ia senang dengan kata yang entah siapa pembicara nya,


nisa melepaskan tangan nya dari tangan adnan,


menunduk,


"makasih mas"


adnan membetulkan posisi mereka,


nisa terkilir, pergelangan kaki nya sakit, ia jadi tertatih,


kejutan datang lagi, adnan mengangkat tubuh nya, nisa ketakutan karena tubuh nya tiba tiba melayang, refleks tangan nya melingkar di leher adnan,


"mas nisa bisa jalan"


adnan tidak menghiraukan nya,


nisa di bawa ke mobil, mendudukan nya perlahan menghadap keluar, adnan berjongkok meraih kaki nisa yang sakit


"maasss (nisa meninggikan suara nya, ini sudah tidak normal, ia malu, adnan bahkan memegang kaki nya, nisa tidak terbiasa dengan perlakuan ini, ia sedikit risih )


adnan memandang nya


" mas nisa ga apa apa, mas berlebihan deh"


adnan menurunkan kaki nisa perlahan,


"maaf, mas cuma khawatir"


mereka saling lempar pandangan, menghindari tatapan masing masing,


adnan bangun, meminta nisa membetulkan duduk nya, pintu mobil akan ia tutup.


adnan sudah ada di belakang kemudi nya,


perjalanan mereka mulai lagi,.


***


Rendy bersiap,


ia, ibu dan ayah akan menghadiri pernikahan Riko,


mereka akan menuju rumah Riko, setelah itu ikut bersama iring iringan pengantin menuju rumah mempelai wanita nya,


waktu menunjukan 07:40 pagi,


Rendy menunggu orang tua nya sambil menikmati kopi..


mereka sudah meng-ikhlaskan kepergian nisa, mereka juga senang akhir nya Riko menikah, walaupun bukan dengan nisa,


mereka akan merestui, Riko sudah seperti anak untuk ibu, ini jalan yang Allah pilihkan untuk nya,


ibu dan ayah siap, Rendy menyiapkan mobil,


BI yuni membuka gerbang,


tepat 15meter sebelum rumah nya, nisa sampai.


ia melihat mobil bang Rendy keluar dari gerbang, mereka ber papasan...


"bang Rendy.. mereka pergi...


mas, itu mobil abang nisa.. mereka pergi"


( nisa melihat gerbang rumah nya sudah tertutup lagi)


"apa mau di susul? "


"mas ga keberatan??


" engga sama sekali nisa" ( adnan tersenyum, ia sangat sabar)


"ayo mas kita susul"


berputar arah, adnan mengikuti mobil kakak dari nisa itu,


setelah melewati jalan, nisa tau ini arah rumah siapa, "ini seperti arah rumah mas Riko"


"apa? (adnan mendengar nisa menggerutu)


" ini arah ke rumah calon suami nisa mas"


adnan terkejut,


ya dia ingat, Bu Ratih mengatakan kalo nisa sudah punya calon suami?..


tepat, mobil bang Rendy berbelok masuk ke gerbang rumah Riko yang terbuka lebar, di sana sudah ramai , nisa sedikit bingung


matanya menangkap baner selamat datang, foto Riko terpampang jelas di sana dengan seorang wanita di samping nya, seperti foto prewedding dan wanita itu bukan lah nisa...


pikiran dan hati nya bergelut, dada nya tiba tiba sesak,


dari arah pintu nisa melihat Riko keluar dengan setelan jas putih khas pengantin,


bang Rendy mengucapkan selamat, pada Riko


ibu dan ayah pun,


mereka tampak bahagia...


nisa menangis, ia tak percaya ini,


ini memang salah nya, dia tak mengabari apa pun pada keluarga nya dimana ia berada selama ini..


adnan dapat menarik kesimpulan, namun dia bingung harus berkata apa..


menyodorkan tisu untuk nisa, nisa semakin menangis,.


iring iringan pengantin telah siap,


Riko masuk ke mobil yang telah di hias, itu memperjelas semua nya,


satu persatu mobil keluar dari halaman rumah Riko, mereka pergi...


ibu yang duduk di belakang Rendy sempat menoleh pada mobil yang terparkir tak jauh dari nya


"astaghfirullah, ( ibu mengusap dada nya)


kenapa ibu seperti melihat nisa d mobil itu"


ibu bergumam sendiri,


ia mengirimkan al-fatihah untuk anak nya itu, menepis segala perasaan tak enak di hati nya


"nisa, apa kita akan susul mereka, laki laki yang akan menikah itu calon suami kamu kan? kamu harus mencegah nya.


nisa mengangguk, ia masih menangis,


" engga mas, kita pulang aja"


"apa pulang?? " (adnan tidak Terima)


"nisa salah mas, nisa pergi selama ini tidak mengabari apa pun ke keluarga,


biarlah, mas Riko berhak bahagia, nisa ga pantas buat mas Riko, anak ini bukan anak nya"


adnan terdiam,


sesuai permintaan, ia memutar arah, mereka akan pulang lagi,


sampai di taman kota, nisa minta istirahat,


ia akan ke sana, seperti dulu, ia merenung di sini, saat kejadian dengan yoga.


adnan mengikuti nya,


nisa duduk di bangku, dia menangis sejadi jadi nya,


adnan membiarkan itu, ia tau nisa butuh waktu,


nisa berteriak kencang,


ia emosi, nisa ingat lagi pada yoga yang menghancurkan hidup nya itu, ini semua gara gara dia, "dasar laki laki brengsek" nisa melanjutkan teriakan nya


ia ingin melepaskan semua beban, selama ini ia memendam nya..


adnan mendekat, ia meraih tubuh nisa, memeluk nya dengan erat, sungguh ia tak tega melihat nisa, begitu kuat batin nya terikat, nisa ingin pulang saat calon suami nya tepat menikah hari ini.


mengusap rambut panjang nisa,


nisa menangis di pelukan adnan,


"nisa jangan begini, kamu lagi hamil kasian anak kamu"


nisa tidak menjawab, masih ada tangis di sana


hingga ia sedikit tenang,


"nisa ga menginginkan anak ini mas, ini anak dari lelaki yang ngancurin hidup nisa, nisa ga mau ngelahirin dia nisa benci sama dia"


" syuuutttt " adnan mengeratkan pelukan nya


"ga boleh gegabah nisa, anak itu sudah hidup dalam rahim kamu, dia bagian dari diri kamu"


nisa menggeleng,


"nisa ga menginginkan nya mas... "


untuk beberapa saat adnan menenangkan nya,


nisa ternyata