
Nisa mendapatkan notifikasi dari m_banking nya, Tama mentransfer sejumlah uang yang ia rutinkan setiap bulan,
Nisa sungguh merasa tidak enak, walaupun Razky cucu nya,
Nisa pernah menelpon mamah Riana untuk hal ini, namun Riana malah marah, mengatakan bahwa itu hak nya Razky,
beberapa kali juga Riana meminta Nisa untuk datang berkunjung, tapi memang kebetulan Nisa belum sempat,
"sayang"
Adnan memanggil istri nya yang sedang serius menatap HP
"iya mass?, ini papah Tama transfer lagi uang buat Razky" ucap Nisa dengan wajah nya yang murung
"Nisa ga enak mas mungkin belum sebulan tapi kak Tama udah transfer lagi"
Adnan tersenyum,
" itu rezeky nya Razky sayang, Terima saja,
kamu ga pernah minta kan, jadi itu memang kak Tama yang benar benar ngasih.
emh.. kak tama juga kemarin bilang sesuatu.. " ucap Adnan melirik istri nya
"apa itu mas? “
" dia bilang,
mungkin ini semacam. tukar menukar,
Tama minta mas urusin kantor yang di sini, sedangkan yoga biar menetap di sana"
Nisa diam, ia tidak mengerti masalah bisnis yang di jalankan suami nya,
"menurut kamu, mas harus gimana? apa mas Terima saja? “
" mas jujur Nisa ga ngerti soal bisnis,
kalau misal mas menganggap itu baik, lakukan lah"
Nisa menidurkan Razky yang tertidur di pangkuan nya,
"mas sebenar nya malas ngurusin kantor. malah tertarik bisnis resto seperti ayah"
Adnan tersenyum pada Nisa,
"resto juga bagus mas, Nisa jadi saksi bagaimana resto ayah berkembang"
Adnan dilema,
setelah kejadian kemarin memang yoga tidak memperlihatkan gerak gerik mencurigakan, walau Riana berucap yoga berbeda sekarang,
anak buah Tama beberapa kali melihat nya di club, yoga sering mabuk, bersama teman teman nya.
Tama lebih ketat pada yoga setelah kejadian kemarin, makanya ia berniat sudah, yoga menetap di sana saja. tama gampang mengawasi nya.
karena hal seperti ini sangat tidak mungkin di bicarakan melalui telpon, Adnan berniat datang ke rumah kakak nya itu,
mereka akan bicara dan mungkin menyepakati sesuatu.
Nisa menolak saat Adnan mengajak nya, ia masih takut pada yoga..
"emang harus sekarang ya mas ke sana? entah lah Nisa merasa ga enak hati aja kalo ber urusan sama mereka"
"kamu tenang aja sayang,
mas yakin yoga udah ga akan mau macem macem,
baiklah kalau begitu mas pergi sendiri ya?? “
" sebenar nya kangen bu Ratih mas.. sampaikan salam pada nya dan juga bunga ya? “ ucap Nisa
"inshaAllah mas sempetin mampir nanti ya? “
Adnan bergegas pergi,
mumpung hari belum beranjak siang jadi dia tidak usah menginap, dan pulang pun masih sore.
Nisa mengantarkan suami nya sampai di mobil,
Adnan memeluk nya erat dan cukup lama, sampai Nisa tertawa dengan kelakuan suami nya itu,
melepaskan pelukan nya dengan terpaksa, Adnan mengusap pipi istri nya,
" makasih ya sayang,
semenjak menikah, mas ngerasa hidup lagi,
dulu masih sendiri, mas malas sekali waktu bangun pagi, karna berpikir entah apa yang harus di lakukan,
tapi kini, mas malah semangat bangun pagi,
peluk kamu, cium kamu"
"Nisa juga seneng banget mas,
akhirnya Nisa temuin laki laki yang tulus Terima Nisa, mas harus sehat,
Nisa bahagia hidup sama mas"
Adnan mengecup bibir istri nya beberapa kali,
semenjak pindah ke rumah ibu hampir 4 bulan ini, Adnan baru lagi ber pergian jauh..
"mas pasti kangen kalian, ini perjalanan jauh mas setelah kita pindah ke sini"
Nisa tersenyum,
"kita juga pasti kangen sama mas..
hati hati di jalan, cepet pulang ya"
"baiklah...
mas berangkat ya sayang"
Adnan sambil mendesah mengatakan nya ia terlihat seperti malas untuk berangkat, padahal itu keinginan nya pergi
Nisa melambaikan tangan,,
menutup gerbang karna Adnan sudah menghilang dari pandangan nya,
rumah langsung terlihat sepi
bang Rendy sudah tentu kerja, ayah dan ibu di restoran, Razky tidur,
Nisa membuka nya satu per satu,
sebuah mainan edukasi untuk anak anak terlihat dalam dus nya,
namun ada catatan kecil di sana,
"untuk putra papah yang tampan"
kado itu dari yoga,
Nisa tidak ingin berlarut dalam pikiran nya tentang yang sudah lalu,.
meremas catatan kecil itu, Nisa membuang nya,
dan menumpukan barang barang baru milik Razky ke dalam lemari,
melirik jam dinding di ruang tamu, Nisa sedang menyuapi putra nya makan siang,
suami nya belum memberikan kabar,
padahal mungkin ia sudah sampai di sana.
"mas. apa sudah sampai? “
Nisa mengirimkan pesan,
Adnan menelpon nya langsung, buru buru Nisa mengangkat nya
" assalamu'alaikum "
"waalaikumsalam, maaf ini siapa ya? ini HP suami saya kan? “
Nisa tidak mengenali suara si penelpon, padahal itu HP suami nya.
" ibu maaf saya Arman,.
saya polisi, bpak Adnan mengalami kecelakaan di jalan xx"
serasa petir menghantam di siang hari, Nisa terpaku, Razky menangis di hadapan nya,
tubuh nya kaku sulit untuk di gerak kan
"hallo ibu" polisi di sana memanggil Nisa
"gimana kondisi suami saya pak? “
" suami ibu sudah di bawa ke rumah sakit, tolong segera datang ya bu, kasian korban"
Nisa menangis, menggenggam HP nya,
"maassss"
bi yuni dari dapur datang mendengar Nisa berteriak,
"non kenapa? “
" bi gendong Razky, Nisa mau nelpon bang Rendy, mas Adnan kecelakaan Nisa mau minta antar ke sana"
"ya Allah.. baik non"
tanpa basa basi Nisa menelpon abang nya,
"iya dek.. "
"bang.. " hickkk
"hey, kamu kenapa? “
" bang pulang ya, mas Adnan kecelakaan, antar Nisa ke sana"
Rendy yang tidak tau Adnan pergi merasa heran
"kecelakaan dimana dek? “
" abang pulang lah, Nisa lemas gemeteran"
"iya iya, tunggu ya.. "
Nisa berkemas,.
lokasi kecelakaan Adnan cukup jauh itu hampir sampai di kota kakak nya Tama,
Nisa menyalakan TV, sejak pagi memang ia tidak menonton, Nisa mencari berita siapa tau kabar kecelakaan itu sudah masuk di sana..
nihil,
Nisa menerima pesan dari bang Rendy
sebuah video dari CCTV menayangkan kecelakaan yang terjadi.
"apa betul yang ini dek? “
tanya Rendy
" bang...
ya Allah.. ada mobil mas Adnan di sana.. "
Rendy tak memperhatikan video itu, ia sedang dalam perjalanan,
"bentar abang sampai.. "
menitipkan Razky pada bi Yuni,
Nisa pergi dengan Rendy, ibu dan ayah dalam perjalanan pulang setelah Rendy menelpon nya
"abang ga tau Adnan pergi" ucap Rendy
"mas Adnan mau ke rumah kak Tama, ada hal yang harus di bicarakan, Nisa ngerasa ga enak hati, udah sore ko mas Adnan ga ngasih kabar"
"jadi kita ke rumah sakit langsung? “ tanya Rendy
" iya bang, ini polisi nya ngasih tau rumah sakit yg mana"
"gimana kondisi Adnan? "
Nisa menggeleng,
ia tidak sempat menanyakan nya pada polisi,
"Nisa harap mas Adnan baik baik saja"
"amiiiinnnn"