
"sini aku balur badan kamu biar hangat... "
Yoga tidak percaya Nisa mau melakukan nya,
Yoga membuka dasinya,
ia melirik Nisa beberapa kali, merasa tidak yakin akan permintaan Nisa,..
"ayo cepet kamu lama deh... muka kamu pucet gitu, bibir kering, mata keliatan pusing"
Yoga menurut, ia cepat membuka jas nya, menyampirkan nya dengan asal di sofa, ia lalu membuka kancing kemejanya satu per satu..
Nisa memperhatikan gerakan yang Yoga lakukan..
"lho.. kok jadi begini suasana nya" Nisa bergumam.. ia jadi tidak yakin ia bisa melakukan nya,
tinggal kaus dalam yang masih rapih, Yoga menarik nya ke atas agar perut nya terbuka...
Nisa menatap mata Yoga,
"sudah Nisa, ayo cepat aku dingin"
Nisa gelagapan..
menuang kayu putih ke tangan nya, Nisa mulai mengolesi dada Yoga yang terhalang kaus dalam
Yoga memejamkan mata, menghirup wangi kayu putih yang menenangkan, ia merasa seperti anak kecil saja, tapi sungguh ini sangat nyaman..
Nisa buru buru melakukan nya,
kini mengolesi perut Yoga,
"Nisa.. " Yoga memanggil nya
"hmmmm? “ mata mereka saling bertemu
" terimakasih, ini sangat nyaman"
"aku biasa melakukannya pada Razky kalau dia rewel"
Yoga tersenyum..
"Nisa, mau menikah dengan ku?? “ ada gemetar di suara Yoga mengatakan itu, Nisa menghentikan gerakan tangan nya,
" jangan becanda Yoga, itu ga lucu... "
Nisa bangkit, beralih posisi ke belakang, ia mengolesi punggung Yoga kini...
"jadi kamu menolak?? “ tanya Yoga
Nisa tidak menjawab..
" aku patah hati ke sekian kali nya Nisa " tambah Yoga
Nisa menghentikan semua nya, ia bangun.
"sudah selesai.
rapihkan lagi baju nya"..
Nisa hendak pergi ke kamar mandi, saat pintu terbuka, Beny melongo melihat pemandangan di depan nya..
bos nya terlihat amburadul,
jas nya entah di mana.. kancing kemeja nya terbuka semua dan lihat kaus dalam nya terbuka begitu...
" bos dokter datang.. "
Nisa merapihkan sepatu Yoga, ia juga menyadari ini begitu berantakan..
"dokter silahkan.. " Nisa memberi ruang, ia pergi ke toilet,
Nisa memandang wajah nya melalui cermin..
ia memenangkan diri nya sendiri,
"kenapa aku bisa ngelakuin itu, dulu aku benci sekali sama dia tapi kenapa aku malah perhatian gini sih.. Yoga kan jadi salah sangka,
apa yang dia bilang tadi menikah?? “
huftttt,
Nisa merapihkan pakaian nya, ia keluar dari toilet, dokter masih ada di sana, ia tersenyum pada Nisa,
"maaf Bu, suami ibu dehidrasi, ia juga kelelahan, pola makan nya seperti nya berantakan.. "
Nisa melirik Yoga, ia memang terlihat lemas sekali,
"iya dok.. " Nisa tidak tau apa yang harus dia ucapkan,
Beny membaca situasi melihat bos nya seperti itu,
"dokter. biar resep obat saya yang pegang, "
"baik Pak.. tolong di jaga ya pak Yoga pola makan nya, dan istirahat dulu hari ini... "
"terimakasih dok.. "
"sama sama pak.. ibu saya permisi dulu" dokter mengangguk pada Nisa,
melihat Yoga yang lemas begitu Nisa tak tega... ia pergi, Yoga menatap nya
"Dian apa ada selimut, Yoga kedinginan AC di dalam juga udah di matiin padahal"
"kamar? " Nisa heran ia tidak pernah tau
"iya bu, dulu bapak sering tidur di kantor, emhhh kabar nya waktu calon istri nya meninggal dulu"
"calon istri?? “ tanya Nisa,
" iya bu, kabar nya calon nya bunuh diri, jasad nya di temukan di jembatan, tapi sampai saat ini kita belum tau detail nya"
Nisa membuang nafas nya kasar, ia ingat lagi kejadian itu
" bapak hampir ga pulang bu, tidur di kantor.
saya sampai ga tega, banyak botol minuman di dalam"
"baiklah Dian, aku akan minta dia pindah ke kamar.. "
"baik bu, panggil saja kalo perlu sesuatu"
Nisa mengangguk..
Yoga kelihatan nya tidur saat Nisa masuk ke ruangan nya, duduk lagi di tempat tadi di sebelah Yoga,
"Yoga... " Nisa mengguncang tangan nya pelan..
karna seperti nya Yoga sangat nyenyak.. Nisa meninggalkan nya.. membuka pintu di ujung ruangan yang Dian bilang tadi..
benar di sini kamar cukup nyaman walaupun hanya ada lemari, meja dan tempat tidur yang tidak terlalu besar.
Nisa membuka lemari, meraih selimut tipis.. namun seperti nya hangat..
ia langsung ke luar, sigap menyelimuti Yoga, Nisa menyentuh kening nya.. Yoga masih demam dan Beny belum kembali membawa obat,
Nisa mendapatkan telpon di HP nya
"Jimmy? " Nisa bergumam.. ia melirik Yoga dan sedikit menjauh dari nya untuk menerima telpon
"hallo"
"selamat siang nona.. apa sudah makan?? “
" siang tuan.. kebetulan belum"
"ini sudah jam istirahat, makan lah"
"Terimakasih sudah perhatian, iya saya akan makan... "
"baiklah..
nona saya akan melangsungkan acara makan malam nanti malam,
saya harap nona akan datang. akan banyak kolega saya juga yang hadir"
"makan malam?? malam ini??
ah maaf tuan. tapi putra saya di rumah memang sedang kurang sehat, jadi saya ga bisa ninggalin dia terus"
"maaf nona.. anda tidak memiliki pilihan selain setuju. tidak ada penolakan. saya sendiri yang akan menjemput nona di rumah" Jimmy sedikit memaksa..
Nisa terdiam, berpikir apa yang bisa di jadikan alasan untuk nya..
"saya tidak bisa janji tuan" ucap Nisa lagi
"nona, perusahan ku dengan perusahaan tuan Adnan sudah lama bekerja sama.. namun karna saya tidak menetap di sini, jadi kami jarang sekali mengadakan acara,
ya bisa di bilang ini perkenalan kita nona, tentu nya akan lebih seru jika mendiang suami anda masih ada ya? “
Nisa menarik nafas,
"iya tuan..
kita liat nanti malam oke"
"baiklah nona.. sampai jumpa"
Nisa menyimpan HP nya,
melirik lagi Yoga yang masih terlelap,
"kalo Yoga sehat pasti akan aku ajak dia" gumam Nisa dalam hati nya.. ia jadi tambah galau.. masalah nya ia belum mengenal siapa pun nanti malam walaupun seperti nya akan ramai..
Yoga akhir nya bangun setelah sekitar satu jam tidur.. Nisa meminta nya untuk pulang beristirahat di rumah saja
"jangan di paksakan kalo sakit, kamu harus istirahat total Yoga"
"aku malas sekali di rumah, ga ada yang rawat" jawab Yoga
"menikah lah Yoga supaya ada yang merawat mu" ucap Nisa
"aku masih nunggu kamu Nisa",
obrolan tadi sewaktu Yoga akan pulang terngiang di telinga Nisa, Nisa memandang foto suami nya di dalam bingkai,
" mas... aku masih sayang kamu,
aku belum bisa ngisi hati aku dengan yang lain..
rasa nya baru kemarin kamu masih ada, tapi ternyata tepat nya hari ini, 7 bulan sudah kamu ninggalin aku,
entah lah.. aku hanya ingin fokus pada Razky dan usaha kita"