
menyatukan dua jari tangan nya, menjadi kepalan, Rendy mengetuk ngetik nya di bibir,
ia sedang berpikir,
adik perempuan nya nisa, meninggal kemungkinan bunuh diri, karna tidak ada luka apa pun di tubuh nya, ini karna laki laki itu, yoga...
Rendy masih merasakan sakit di tangan nya, ia tak bisa menahan diri memukuli yoga, dan itu belum membuat Rendy merasa puas, bila perlu yoga mati di tangan nya,
baru saja ia selesai mengatakan pada orang tua nya tentang pelaku yang membuat adik nya tiada.
ayah masih di depan nya,
ibu mendekat, memeluk pundak anak nya, ia menangis di pundak nya.
Rendy tak tahan, di usap nya tangan sang ibu yang melingkar di leher nya.
"jangan di balas dengan kejahatan lagi bang, biarlah, kita ikhlaskan, nisa pun sudah tiada, kasian dia ibu takut dia ga tenang"
Rendy tidak akan mundur,
kesempatan baik jika yoga melaporkan nya pada polisi tentang pemukulan yang ia alami,
dengan itu Rendy akan mengungkap semua nya ke pihak kepolisian,
tidak ada kata jabatan, ia tidak akan mundur walaupun hidup nya di pertaruhkan, ini demi adik nya Annisa,
**
yoga termenung di balkon kamar nya,
setengah jam yang lalu ia baru pulang dari RS.
beny menemukan nya tak sadarkan diri di taman,
wajah nya memar dan juga ada sobekan di beberapa bagian.
"saya akan lapor polisi tuan" (ucap beny)
"jangan, ini tidak seberapa"
“ini parah tuan, lihat lah pada cermin, muka anda jadi aneh begini"
yoga mendesah,
dia tau niat beny baik, tapi ini hanya luka kecil yang ia Terima, di bandingkan dengan luka bisa yang yoga torehkan.
beny tau, tuan nya butuh waktu, dia undur diri,
tamu agung juga sudah datang di bawah, ia harus turun
"saya permisi tuan,
papah sudah ada di bawah"
yoga mengangguk,,
sebenar nya ia malas, ia ingin sendiri,
tapi papah jauh jauh datang kesini untuk menemui nya, kabar yoga pasti sudah sampai ke sana, anak buah papah nya ada di mana mana..
suara pintu terbuka, dan langkah kaki mendekat
"yoga.. "
yoga menoleh, papah meringis melihat luka di wajah anak nya, itu pasti menyakit kan.
"pah.. "
papah nya mendekat, duduk di samping yoga di balkon kamar nya,
"sudah minum obat? itu pasti sakit"
"engga pah, yoga baik baik aja"
papah membuka sepatunya, ikut duduk bersila di sofa tunggal yang anak nya duduki.
"jadi dia meninggalkan mu untuk selama nya, siapa namany?? "
"Annisa " (yoga lantang menjawab)
papah mengusap pelan pundak anak nya,
"kamu tau, tidak harus selalu bersama jika menyukai,
gentle lah, papah hanya akan memantau, bagaimana pun kamu salah, kamu harus menghadapi nya"
"benar kata nisa, yoga laki laki berengsek,
yoga menyakiti fisik dan batin nya,
papah tau, kalo yoga bisa minta sama Tuhan, yoga akan minta, tidak akan pernah terjadi malam itu (yoga mempercayai papah nya, selama ini ia ngin cerita tapi pada siapa?? dan mungkin ini lah waktu nya, ia lebih berani mengungkapkan pada papa nya di banding mamah nya, mamah nya pasti akan terluka, dia juga perempuan)
" ungkapkan nak, kamu butuh teman curhat bukan? "
yoga tersenyum kecut, papah nya tau itu..
"malam itu entah siapa yang memasukan obat di minuman yoga, yoga sudah coba mengatasi nya sendiri, namun obat itu terlalu kuat, seperti nya dosis nya tinggi,
sampai yoga memutuskan untuk menyewa wanita, beny mencari nya,
entah bagaimana, saat menunggu kedatangan wanita itu, nisa datang, beny membawa nya ke kamar,
nisa menolak, yoga pikir itu akan mudah, bukan kah dia sudah di bayar untuk pekerjaan nya,
dia malah memaki, dia juga sempat bilang kalo yoga mungkin salah orang, yoga ga percaya, karena yoga pikir dia wanita yang yoga bayar
papah tau, yoga kesal, antara pengaruh obat dan penolakan, yoga menampar nya 2kali pah, sangat keras, sampai nisa pingsan.
(yoga ter tunduk, hati nya ikut hancur padahal ia sendiri yang melakukan)
dan papah tau, ternyata dia masih gadis,
dari situ yoga merasa, kalo benar yoga salah,
yoga meninggalkan nua begitu saja berharap tidak akan bertemu lagi,
tapi tidak,
Tuhan langsung menghukum yoga,
kita di pertemukan lagi, nisa bekerja di bank, kita bekerja sama,
yoga tambah merasa bersalah, dan tambah yakin kalo benar nisa bukan wanita yang yoga bayar,
setiap malam yoga bermimpi, dia menangis, yoga merasa bersalah pah,
yoga sudah bilang sama nisa yoga akan tanggung jawab, yoga mengajak nya menikah, tapi dia tidak mau, ternyata dia sudah punya calon suami pah, dia di lamar orang,. yoga menyaksikan nya langsung..
namun lagi lagi Tuhan tak berpihak, nisa hamil, mungkin dia putus asa, dia akan menikah dengan orang lain, dan dia hamil anak yoga..
yoga kira dia tidak akan melakukan ini.
yoga sudah merancang kehidupan untuk nya pah,
papah tau kan, ini pertama kali untuk yoga, kenapa se sakit ini???? “
papah hanya termenung,
kasihan juga anak nya itu,
"sekeras, dan se sempurna apa pun rencana kita, kita punya Tuhan, dia pemegang kendali atas semua nya yoga, papah yakin kamu laki laki yang kuat, kamu boleh saja bersedih, itu wajar, tapi ingat, hidup harus terus berjalan, hanya menyesali tidak akan ada hasil nya, itu tidak akan mengembalikan ke adaan seperti semula"
yoga mengangguk,
jujur ia sedikit berkurang beban nya setelah bercerita,
"terimakasih pah, sudah mau jadi teman yoga saat ini, yoga minta jangan sampai mamah tau"
"rahasia mu aman di tangan papah,
baiklah, mumpung papah ada di sini, dan kamu pun sudah beberapa hari ga ke kantor. papah akan ke sana, kata beny banyak berkas yang harus di tandatangani"
bangkit, papah menepuk pundak anak nya lagi
"gentle oke, papah tidak mengajarkan mu untuk jadi lelaki lembek, apa pun harus kamu hadapi, itu wujud dari tanggungjawab "
"iya pah, makasihh"