Annisa

Annisa
jeruk limo



Yoga mendengar suara wanita bersenandung, ia mencari nya , ruangan demi ruangan ia datangi tapi tidak menemukan nya. .


suara nya semakin jelas, dan itu dari arah kamar,


membuka Handel pintu, tirai putih tertiup angin dari arah balkon menghalangi penglihatan nya,


seorang wanita duduk di pinggir ranjang, membelakangi yoga,


rambut nya terikat asal di atas kepala, baju nya setengah terbuka di bagian punggung kanan nya,


yoga melihat sepasang kaki kecil di samping pinggang wanita itu, ada seorang bayi di pelukan nya, ( wanita itu seperti sedang menyusui),


badan nya sedikit berayun, senandung masih terdengar dari mulut nya, sesekali ia bercanda dengan bayi yang di gendong nya, tawa nya jelas terdengar nyata.


"siapa dia?? "


yoga bertanya tanya


wanita itu setengah menoleh ke arah nya, hanya sebagian saja wajah nya yang terlihat, yoga mengenali nya


"Annisa" (yoga memanggil nya)


wanita itu samar tersenyum....


**


yoga terbangun dari tidur nya,


tadi adalah mimpi,


"Annisa "


yoga bangun pergi ke balkon, tidak ada siapa pun di sana, benarkah itu hanya mimpi, ?


nisa dan bayi nya..


yoga tersadar, malam tadi nisa baru di makam kan, "benar itu hanya mimpi“


mancari foto hasil USG di kasur, ia menemukan nya, memandang nya...


"nisa, apa itu anak kita yang kamu gendong??? "


yoga mengusap lagi foto calon anak nya itu, ia menangis, mem bawa nya di dada, memeluk nya dan terlelap lagi


**


ibu menangis memandangi foto anak nya,


"nisaaa" (panggil nya lirih)


jelas ada kesedihan di sana..


nisa terbangun, keringat sudah banyak di kening nya, menenangkan degub jantung nya yang sedikit kencang, nisa meraih HP yang ada di atas meja, di buka nya foto sang ibu


"bu, maafin nisa, kasih nisa waktu buat pikirin semua ini, nisa sungguh belum siap, nisa akan jadi se orang ibu tanpa nisa bayangkan, ini sulit bu,,


nisa sayang kalian, (menciumi foto keluarga yang ada di HP nya),


ia mencari parfum pemberian yoga, entah kenapa ia suka tiba tiba mengingin kan nya..


namun nisa tak menemukan nya di tas,


" apa mungkin tertinggal di rumah yang lama?? bagaimana ini, kalo pun beli itu sangat mahal, lebih baik untuk biaya hidup nya sehari hari"


hari berganti begitu cepat,


terhitung sudah hampir sebulan nisa di tempat nya yang baru,


namun seperti nya ia salah langkah,


kota yang jadi tempat pelarian nya adalah kota di mana keluarga yoga tinggal,


nisa menikmati kehidupan nya,


ia senang membantu bu Ratih di warung, keuangan bu Ratih pun sudah nisa perbaiki, memakai pembukuan akuntansi yang ia kuasai,


bunga pun menyukai nisa,


dia akan belajar keuangan pada nisa,


karena bunga anak yang gampang bergaul, nisa jadi mudah akrab dengan nya.


tak terasa sebulan sudah nisa tinggal,


ia datang ke warung, ini pas jam makan siang, Bu Ratih biasa nya repot karna banyak pelanggan,


"nisa, ko ke sini?? " (tanya bu Ratih)


"nisa kesel di rumah bu, nisa bantu ya"


"ya sudah kalo gitu, tapi jangan cape cape,


kebetulan ibu mau shalat zuhur dulu ya.. kalo ada apa apa panggil bi Mar di dapur"


"siap bu tenang aja"


memakai celemek,


nisa ingat, pada ayah nya, saat ayah merintis membangun resto, beliau terjun langsung ke dapur, nisa tersenyum mengingat nya..


merapihkan menu menu yang di display di etalase tinggi seperti warung padang itu, beberapa orang sedang menikmati makanan nya di meja masing masing,


seseorang datang


"mau makan pak?? (tanya nisa) "


"iya, bu Ratih mana? " (nada nya begitu datar, seperti wajah nya)“


"ibu sedang shalat dulu, apa mau nunggu ibu?"


"ga usah, saya sudah lapar,..


saya mau sop iga, perkedel kentang, sama kerupuk.. saya tunggu di meja ya... "


"baik pa, nisa siapin ya.. "


ia pelanggan di warung ini, selain itu juga ia teman dekat dengan suami bu Ratih,


nisa menyiapkan nya


"seledri, bawang goreng, tomat, emmmhhh apa lagi ya?? " ( dia menggerutu)


ah ia, jeruk limo.. (nisa ingat, ia memeras satu buah jeruk berukuran sedang ke dalam mangkuk sop pesenan pelanggan nya)


"selesai... "


nisa membawa nampan dengan hati hati,


adnan menyingkirkan HP dan dompet di atas meja nya, menyambut pesanan nya.


"ini pak,.


(nisa menyimpan satu persatu mangkuk di meja) ,


adnan tercengang,


"nasi nya banyak sekali, seperti kuburan cina" (celetuk nya, wajah nya tanpa ekspresi, namun kata katanya membuat nisa ingin tertawa)


"biasa nya laki laki makan nya banyak kan pak??" ( jawab nisa)


"tapi saya bukan kuli panggul batu" (nada nya begitu dingin dan ketus)


nisa terdiam, dia sedikit aneh jika mendengar nada seperti marah begitu, nisa tak pernah mendapat perlakuan seperti itu dari ayah dan abang nya.. ia sedikit trauma tentang yoga,


nisa terdiam, adnan memperhatikan perubahan wanita di depan nya itu..


"ah maaf, ya sudah, ga masalah, paling nanti nasi nya ga habis " (adnan memberikan pengertian, ia tau wanita ini seperti nya baru, selama ia berkunjung, tak pernah melihat nya, siapa tadi nama nya?? nisa.. )


"biar nisa ganti sama yang baru pak, (nisa akan meraih piring) "


"stop, sudah nisa... ga apa apa,


ambilkan air teh tawar saja untuk minum" (pinta adnan)


"maaf Pak, (nisa merasa tak enak)


lalu pergi, untuk mengambil minuman..


bu Ratih datang,


" eh mas adnan.. "


adnan tersenyum sinis, ia mulai menyuap makan,


adnan mengerutkan kening nya, sop ini begitu asam"


"kenapa dia?? (pikir Bu Ratih, biasa nya adnan ramah)


" siapa dia bu? ( menunjuk nisa, dengan dagu nya)


bu Ratih melirik nya, nisa sedang menuangkan minum,


"ah ia nisa"


"lihat, dia bilang laki laki suka makan banyak, nasi yang dia siapkan seperti kuburan cina begini"


bu Ratih menahan tawa.. benar ia melihat kuburan cina di piring adnan,


"dan ini, sop nya asem banget kebanyakan jeruk"


wajah bu Ratih memelas,


"maaf ya mas, nisa ponakan saya, ia bantu saya di warung, belum terbiasa... biar saya ganti ya... "


"tidak usah bu,


mubazir... "


nisa datang, membawakan minum..


bu Ratih tersenyum pada nya, namun melihat wajah pelanggan nya seperti nya tak bersahabat,


nisa menyimpan gelas di dekat mangkuk


"silahkan pak"


mendengar sapaan "pak" bu Ratih tercengang, adnan tidak suka di panggil bapak.. itu membuat dia terasa lebih tua katanya"


bu Ratih mengajak nisa ke dapur,


"nisa, pria itu nama nya adnan, dia pelanggan ibu,


juga temen nya bapak,


(nisa melotot)


dia paling ga suka di bilang bapak, panggil dia mas ya"


(nisa mengangguk)


dan juga, porsi makan dia ga bnyak, nasi nya paling 1/4 dari yang nisa suguhkan tadi"


nisa merasa tak enak hati,


"duh gimana dong bu.. nisa bikin kacau ya?? "


"engga, ibu maklum ko,


dan satu lagi, berapa bnyak jeruk yang nisa peras?? “


" satu "


bu Ratih tertawa,


"iihhh ibu kenapa ketawa, emang ada apa? "


"pantas adnan protes, itu terlalu banyak nisa, biasa nya ibu kalo pakai, paling banyak juga sepotong"


nisa hampir menangis, dia mengacaukan hari ini, namun bu Ratih malah tertawa, wajah nisa terlihat pias🤣🤣🤣