
adnan menggedor lagi pintu, seseorang datang,
"keran air nya macet, bagaimana aku bisa menggunakan toilet? "
tidak banyak basa basi, lelaki itu masuk, Adnan melihat ada senjata terselip di pinggang nya,
bughhhh,
Adnan memukul tengkuk pria itu ia tersungkur.. dengan sigap mengambil pistol dan menodongkan nya, Adnan mundur ia keluar dari kamar memasuki lorong Adnan waspada,
ia tau ini takan mudah, Adnan bersandar di dinding, di depan nya ada ruangan,
mendengar pergerakan di depan nya Adnan bergerak menodongkan pistol, jo di depan nya pun sama menodongkan pistol ke arah nya,
jo tersenyum, jelas jelas Adnan sulit untuk kabur. kamar nya terpasang CCTV namun ia tidak bisa di anggap remeh,
Adnan tak akan mundur, ia harus pulang,
adnan maju, jo melihat nya akan menarik pelatuk, jo pun bersiap, lelaki yang Adnan pukul tadi datang, ia merasa terkepung,
dorrr,
sama sama melakukan tindakan Jo tertembak di dada kanan nya, sedangkan Adnan di perut kanan nya, sama sama terjatuh,
Adnan masih sadarkan diri, sedangkan jo tersungkur ia pingsan, mungkinnn..
**
keluarga nisa di minta untuk pulang oleh yoga, dengan berat hati mereka meninggalkan, karena memang percuma berada di sini pun mereka tak bisa menemani nisa di dalam
"yoga akan menemani nya bu, jangan khawatir" (meyankinkan keluarga nisa)
Rendy tidak suka ini, namun apa boleh buat, semoga yoga tidak akan berbuat macam macam,
ia akan terfokus pada pencarian Adnan,.
"kami tidak akan sungkan menuntut mu jika sesuatu terjadi pada anak ku, aku ayah nya, tidak takut mati untuk nisa" (ayah berkata)
yoga terdiam,
tatapan ayah begitu tajam pada nya, namun itu tak bisa membuat yoga goyah..
keluarga nisa pulang, ini sudah malam,
"apa yoga tidak akan berbuat sesuatu pada nisa bang? ( tanya ibu khawatir)
" lihat saja kalo itu terjadi, Rendy tidak bisa tinggal diam"
"dia orang gila bu, bukan cinta, yoga hanya terobsesi" (tambah Rendy)
yoga mendekat,
ia hanya bisa menatap nisa saat dia tidur, saat bangun nisa teruslah menghindar walau bertatap mata,
nisa terusik, ia gelisah, seperti nya mimpi buruk, badan nya menggigil, yoga menyentuh kening nya, nisa demam tinggi, wajah nya pucat bibir nya kering,
"sayang... ( yoga mencoba membangunkan nya)
" masss" (hanya kata itu yang keluar dari bibir nya, memanggil suami nya, yoga tak peduli, ia coba membangunkan nya lagi)
"Annisa sayang"
ini tidak benar, nisa mengkhawatirkan, yoga memencet tombol darurat, seorang perawat datang,
"sis, nisa demam tinggi"
"saya periksa ya pak maaf"
HP yoga berdering beberapa kali, ia malas mengangkat nya, ia panik pada nisa,
suster menyuntikan obat pada infus nya
"apa itu? "
"ini untuk demam pak, kalo misalkan satu jam belum turun demam nya kita harus melakukan tindakan"
nisa sudah tidak mengigau, namun ia masih tidur, yoga menggenggam jari tangan nya, nisa begitu lemah...
wajah nya kehilangan cahaya, yoga menciumi jari tangan nya,
"bagaimana kamu akan kuat, sejak tadi operasi kamu belum makan nisa"
nisa mencari suami nya, ia berada di sebuah taman... berlari ke sana ke mari, sepi.. tidak ada seorang pun...
beberapa saat ia melihat sosok lelakinya itu, namun Adnan begitu jauh, nisa sulit menjangkau nya, "masss" nisa sedikit berteriak memanggil nya, Adnan menoleh ia hanya tersenyum, senyum yang sangat nisa rindukan,
nisa merentangkan tangan nya berharap Adnan datang memeluk nya, nisa rindu sungguh, ia ingin menyandarkan kepala di dada suami nya, berkeluh kesah tentang keadaan,
namun Adnan tidak bergerak, ia terdiam memandang nisa,
"mass datang lah, nisa butuh kamu, anak kita sudah lahir, kamu harus melihat nya ia sangat lucu"