
acara bakar ayam semalam batal dengan sendirinya, nisa tidur nyenyak sekali.
setelah membersihkan diri, adnan ikut berbaring di sampingnya tadi malam, tidak ada yang ia lakukan selain menatap wajah teduh nisa, sesekali ia menyibakkan anak rambut yang menghalangi wajah nya,
adnan hampir saja tidak tertidur, benar kata bu Ratih, nisa suka mengigau menyebut nama nama keluarga nya, ayah, ibu dan bang Rendy, adnan pun mendengar nya,
entah jam berapa, ia pun ikut terlelap, ingin sekali ia memeluk nisa, mendekap di dada nya, namun itu takut membuat nisa terganggu, adnan hanya menggenggam jari tangan nya saja.
pagi datang, nisa terbangun,
ia merasa asing, sejenak melupakan dimana ia berada, nisa sadar ia menggenggam tangan adnan membawa nya dalam pipi nya seolah menjadi bantal, mereka berhadapan,
adnan masih tidur, nafas nya teratur sekali..
"masss, kenapa kamu baik sekali sama nisa,
apa kelebihan yang nisa punya,
nisa hamil anak dari orang lain, nisa korban,
dan kamu mau bertanggungjawab, kamu sabar hadepin nisa, terbuat dari apa hati mu mas??
seperti nya prinsip yang nisa bangun akan hancur, nisa ingin perlindungan.. nisa butuh kasih sayang dari orang orang seperti mas,
ga ada alasan nisa menolak mu, kamu terlalu sempurna untuk nisa mas, terimakasih sudah ada di saat saat terberat nisa, nisa menguatkan genggaman nya, sambil memejamkan mata ia mencium tangan adnan lama.
tanpa nisa sadari adnan sudah terbangun, memperhatikan nya,
hati nya menghangat, untuk skian lama, tempat tidur ini terisi lagi, hangat lagi..
"sayang ya? ( suara adnan membuat nisa kaget, dan langsung melepaskan tangan nya, adnan kini yang menggenggam tangan nisa, membawa nya di bawah pipi, seperti apa yang nisa lakukan tadi)
" mas dari kapan bangun?? "
" baru saja"
"kenapa ga bangunin nisa, nisa ga enak sama bu Ratih ga pulang se malem"
"aku ngirim foto kamu tidur"
"tapi nisa ga enak, nisa takut ada pikiran yg macem macem"
"aku berani jamin itu ga akan terjadi nisa..
siang nanti kita belanja oke"
"belanja apa mas?? “
“kata bu Ratih kamuu belum punya persiapan apa pun untuk anak kita"
kata anak kita dari mas adnan menggetarkan hati nisa, entah lah, kenapa dia suka itu..
"maass"
"ga usah berterimakasih"
"idih, siapa yang mau berterimakasih, mas Ge'eR deh"
adnan tertawa, memeluk nisa,
hari ini weekend, adnan akan menemani nisa beli persiapan untuk bayi mereka,
nisa minta di antarkan pulang ke rumah bu Ratih, mereka sarapan di warung,
nisa melayani mas adnan, menyiapkan sarapan untuk nya
bu Ratih pura pura marah,
"kenapa ga bilang sama ibu?"
"nisa kan ketiduran, gimana mau bilang"
bu Ratih tersenyum melihat wajah nisa yang berubah sedih,
"adnan bilang sama ibu, dia bilang sampai acara masak nya tidak jadi"
"iya bu, padahal sudah belanja"
bu Ratih menyentuh lengan nisa
"ibu yakin, mas adnan orang baik, dia ga akan melakukan hal yang macam macam"
nisa tersenyum,
"nisa janji ga akan ngulangi lagi bu"
Bu Ratih mengangguk,
"pulang lah, siap siap, kalian akan berbelanja perlengkapan bayi kan"
nisa mengangguk antusias,
"nisa deg degan bu"
bu Ratih tertawa, happy shoping,
"kamu ga akan bisa berenti memilih, itu akan sangat lucu lucu"
"benarkah bu?? "
"coba lah"
mereka tertawa
nisa membawa adnan pulang ke rumah bu Ratih, ia akan bersiap,
adnan menunggu nya, di halaman belakang, menikmati indah nya bunga-bunga dan tanaman hias yang terawat rapih oleh bu Ratih, nisa dan bunga..
adnan sedang menikmati minuman nya, yang di suguhkan ayu tadi ketika nisa datang, ia sudah siap, ini sudah cukup siang mall pasti sudah buka
"maass, nisa udah siap"
adnan menoleh, nisa begitu cantik, seperti nya ia berdandan, walaupun masih terlihat natural ada yang beda..
adnan bangun dari duduk nya, nisa tampak lucu dengan perut buncit nya,
"kamu cantik sekali, aku tidak akan tenang "
pipi nisa merona, ia malu
"tidak tenang kenapa? "(tanya nya heran)
" akan ada banyak orang yang memperhatikan mu nisa, aku akan iri"
nisa tertawa,
"mulai lebay"
adnan mendesah, padahal ia tidak bohong, nisa nampak lebih cantik dan ia takut kehilangan nya