Annisa

Annisa
bayi yang lucu



"bu, nisa telah melahirkan anak yoga, mereka milik yoga, dan itu tidak bisa di ganggu gugat, maaf tidak ada pengecualian, yoga akan membuat nisa cinta sama yoga bu, ibu tenang saja yoga akan membahagiakan nya"


ibu menggeleng, tidak mengerti dengan isi pikiran yoga, dia sungguh aneh,


ibu mengalah, ia diam, setidak nya isi hati nya sudah ia utarakan, kini lebih baik fokus pada nisa, ibu malah belum melihat cucu nya,


"ibu keluar dulu, biar nisa istirahat, ibu akan melihat cucu ibu"


yoga mengangguk, mengantarkan ibu keluar, membukakan pintu untuk nya..


***


Adnan tidak bisa diam saja,


ia ingin bertemu cindy, kakak yoga, penjagaan semakin ketat setelah tadi ia menyerang jo,


Adnan tidak bisa dengan kekerasan, ia harus diam, mencari celah ia harus sabar...


seseorang masuk ke ruangan, Adnan mengenali nya,


"hallo om.. "


Adnan melengos, membuang muka malas..


"hey santai saja kau aman bersama ku"


"lepaskan aku Gio"


"Gio menggeleng, aku punya tugas penting om, kamu akan tinggal lama seperti nya di sini"


(Gio suami dari cindy, Adnan tidak memprediksikan hal ini akan yoga lakukan)


"Gio, aku harus pulang, istri ku sedang melahirkan dia butuh aku, kamu pernah melaluinya, kamu tau kan saat cindy melahirkan"


Gio tersenyum.


"om, aku tidak habis fikir,.. wanita itu hamil anak yoga, dan kamu yang bertanggung jawab? “


" itu bukan urusan mu"


"wow santai om.. aku punya banyak wanita, ya tapi jelas cidndy tidak tau, jika om mau om tinggal pilih sesuai yang om mau"


"aku tidak seperti mu Gio, nikmati saja wanita wanita mu"


Gio mendelikan bahu,


"ini misi besar untuk ku, menjaga mu, agar yoga bisa memiliki wanita nya seutuh nya, nikmatilah di sini tidak buruk bukan??,


dan jika om perlu seorang wanita bahkan mungkin lebih, katakan lah, aku dengan senang hati membantu, ahahaaa"


Gio berbalik badan, hendak meninggalkan Adnan,


"kasihan cindy, dia cantik, berpendidikan tinggi, namun dia bodoh, mendapatkan lelaki seperti mu"


Gio tertawa kecil,


"ya, keponakan mu sungguh bodoh, dia bahkan tergila gila padaku"


Gio keluar dari kamar Adnan, sedikit membanting pintu, Adnan tersenyum miris, mengetahui bagaimana perjalanan cindy dan Gio dulu mendapat restu bang tama..


hari semakin sore, perawat sedang memeriksa nisa, mendengarkan segala keluhan nya


"ibu harus banyak minum, urine ibu pekat sekali, itu harus bening warna nya"


nisa hanya diam, wajah nya sungguh pucat,


"ibu juga belum makan, ibu harus sehat bayi ibu menunggu di ruang perawatan, nanti kita kesana untuk melihat nya ya... "


"sayang makan lah, aku suapi ya" ( yoga membujuk, nisa tidak menjawab ia memalingkan wajah nya menghindari tatapan yoga ia benci itu)


"saya mengerti Sus"


"saya tinggal dulu ya pak, panggil saya jika ada sesuatu"


"terimakasih"


***


ibu memakai baju steril, ia akan melihat cucu nya, jagoan nya...


walaupun tidak bisa langsung bertatap muka ibu merasa hati nya bahagia,


bayi nisa di dalam ruangan steril, ibu hanya bisa melihat nya melalui kaca,


"kamu mirip mamah mu nak, lihat hidung mu, itu punya mamah mu (ibu meneteskan air mata, ada selang kecil masuk di mulut kecil cucu nya, ia keracunan air ketuban, dan sudah sampai lambung, bibir nya terlihat kering, ibu tersenyum melihat cucu nya bergerak mengeliat "nisa, dia lucu sekali"..)


setelah ibu, Rendy tak mau kalah, ia pun ingin melihat keponakan nya, ayah juga sudah menunggu ia datang beberapa jam yang lalu


ibu berhamburan dalam pelukan suami nya,


" dia sangat lucu yah.. "


"itu sudah pasti bu, bagaimana nisa?? “


" kurang baik, nisa ga mau makan atau minum, dia ga mau bicara, hanya saat ibu saja menemani dia bicara, dia terus saja menanyakan adnan"


ayah menarik nafas dalam, dan menghembuskan nya kasar, ia lebih erat memeluk istri nya


"waktu setelah melahirkan adalah waktu yang istimewa untuk wanita, ia harus nya bahagia atas kelahiran putra nya, namun nisa tidak ia tertekan oleh keadaan.. ibu takut terjadi sesuatu yah"


"bu, jangan begitu, kita harus menyemangati nya, hanya kita yang nisa punya"


ibu mengangguk, ia sungguh rapuh..


yoga membawa nampan makanan untuk nisa, ia akan menyuapi nya,


"ayolah, kamu harus makan, kita akan menemui anak kita, dia sangat lucu nisa"


nisa menoleh pada yoga,


"dimana suami ku?? "


yoga jelas geram, kenapa hanya Adnan yang nisa tanyakan pada nya


"dia aman, tenang saja"


"jadi benar kamu melakukan sesuatu pada nya?"


yoga diam, tatapan nya sendu menatap nisa


"nisa aku akan membahagiakan mu,. lupakan dia, kota akan menikah, membesarkan anak kita bersama, lihat ini, aku sudah menyiapkan kamar untuk nya" ( yoga menyodorkan HP nya, nisa melihat nya, kamar yang telah di hias untuk bayi")


"apa kamu suka?? (tanya yoga) "


nisa menggeleng lemah, ia hancur


"baiklah, sekarang yang terpenting kamu harus makan"


yoga mendekat lagi, nisa menolak, mengerahkan sekuat tenaga ia medorong nampan itu, hingga terjatuh berhamburan di lantai,


"nisaaa" (yoga berteriak)


nisa menarik sudut bibir nya,


"aku tidak ingin satu butir nasi pun masuk kedalam tubuh ku, terlebih itu dari tangan mu, aku hanya ingin suami ku yang melakukan itu"


yoga memejamkan mata nya, nisa sungguh keras kepala, ia mengatur nafas, ingat dengan perkataan ibu, bahwa nisa tidak bisa mendapat perlakuan keras, ia menghindar, yoga keluar dari ruangan...