Annisa

Annisa
isi hati nya



Sudah satu bulan nisa di sini, ia tak pernah keluar kamar, ia lebih suka menyendiri, juga seminggu kebelakang nisa harus tergantung dengan infus,


pagi ini riana selesai memandikan cucu nya, nisa menyiapkan baju,


"nisa, ayo kita turun, kita bawa razky berjemur" (ajak riana)


nisa tidak langsung menjawab, ia malas untuk keluar kamar, kedatangan nya kesini bukan untuk menikmati fasilitas rumah ini, nisa bertujuan ingin mengorek keberadaan suami nya, ia berharap mendapatkan itu di sini, itulah tujuan nya menerima ajakan yoga,


"nisa di kamar saja" (jawab nisa pelan)


riana tersenyum, ia tidak akan memaksa


"baiklah, mamah bawa razky berjemur dulu di bawah ya?? "


"iya mah hati hati"


"iya nisa"


nisa hanya menatap anak nya dari atas di balkon kamar nya, riana sedang menjemur putra nya,


ini hari libur, yoga ada di rumah,


ia masuk ke kamar nisa membawakan makan untuk nya,


"nisa"


nisa yang sedang melihat ke bawah terkejut mendengar sapaan dari yoga, ia masih saja takut pada yoga, terlebih ia sangat benci


"aku bawa sarapan, ayo aku suapin"


nisa melengos, yoga tidak pernah kapok berkali kali nisa menolak nya,


"ayo, ( yoga menyodorkan sendok yang berisi nasi dan lauk nya)


nisa diam tidak merespon,


" nisa.. (panggil yoga lagi)


yoga menarik lengan nisa pelan agar ia berbalik melihat ke arah yoga, nisa tidak suka di sentuh oleh nya, nisa menangkis sendok yang yoga pegang hingga terjatuh dan menimbulkan bunyi nyaring,


prankk,


riana yang di bawah pun mendengar nya, ia menoleh ke atas,


nisa bangun dari duduk nya,


"harus berapa kali aku bilang, aku ga mau makan sebutir nasi pun dari tangan kamu, kenapa kamu senang memaksa yoga"


riana mendengar itu, nisa pun setengah berteriak mengatakan nya,


yoga pun bangkit, menaruh piring di sofa,


"apa yang kamu harapkan dari Adnan nisa, aku bilang dia sudah mati"


"untuk mu dia mati, untuk ku tidak" (nisa menjawab dengan menggebu)


"harus aku kirim mayat nya ke sini agar kamu percaya hah?? "


nisa membelalakan mata nya, seketika mata nya perih, berlinang air mata nya


"jika itu terjadi aku lebih baik juga tidak hidup, aku mengharapkan kepulangan suami ku, lalu kamu mengharapkan apa dari ku yoga?? "


"aku tidak main main nisa, tunggu saja dia yang tidak akan pernah kembali"


"yoga" (riana menarik tangan anak nya,)


"sayang kamu ga boleh gitu ke nisa, nisa akan semakin marah"


"kurang sabar apa yoga sama dia mah, kenapa nisa ga mau buka hati nya buat yoga"


"yoga" (tama mengeraskan suara nya, membuat riana dan yoga terdiam)


tama pergi keluar kamar, menuju ruang kerja nya, yoga tau papah nya itu minta di ikuti, dia mengikuti papa nya ke ruang kerja,


riana melihat nisa, ia duduk melamun, menatap entah kemana, matanya kosong, ingin sekali dia memeluk nisa, namun pasti nisa menolak nya, riana juga perempuan, tindakan seperti itu tidak di benar kan,


riana menangis, semakin hari badan nisa semakin kurus, ia tidak pernah betul betul makan, riana pun sampai bingung, ia sering membujuk nya,..


riana meninggalkan nisa sendiri, ia akan membawa razki lagi ke kamar,


duduk di sofa di teras belakang rumah nya, riana menatap wajah tampan cucu nya,


"apa yang harus oma lakukan untuk menolong ibu mu nak?, oma tau ibu mu begitu tertekan, oma tak tega melihat nya, papah mu begitu egois kan?? oma tidak akan marah jika kamu pergi dengan mamah mu nanti, walaupun oma akan rindu, jika itu yang terbaik buat mamah mu,


oma janji akan membantu mamah mu keluar dari sini sayang"


riana mencium pipi cucu nya,


ia bangkit, membawa razki ke kamar nisa lagi..


nisa masih di posisi sama ketika riana di kamar nya lagi,


"nisa" (riana menyentuh dengan lembut bahu nisa)


seperti biasa nisa tidak merespon,


riana tidak tahan, ia memeluk bahu nisa, menangis di punggung nya,


"kamu merindukan suami mu hmm?,


Adnan laki laki yang baik nisa, dia banyak menolong ku, Adnan tumbuh tanpa kasih sayang orang tua, ia baru 3tahun saat ibu nya meninggal, usia itu pasti tidak akan mengenali wajah ibu nya, ia kesepian..


namun ia begitu baik, walaupun tidak mendapatkan pendidikan dari seorang ibu,..


aku mohon nisa, bertahan lah sampai Adnan kembali, setidak nya bertahan lah untuk anak mu, kamu tidak mau kan razki secepat ini kehilangan ibu nya,


bercermin lah nisa, lihat tubuh mu yang kurus ini, aku khawatir kamu akan sakit, bagaimana nanti razki??? "


"adnan sudah mati,


aku tidak khawatir tentang razky ada kalian keluarga nya, aku tidak menginginkan nya, lihat lah kami tidak di takdirkan bersama, bahkan air susu ku pun tidak ada untuk nya"


(jawab nisa datar, riana menangis mendengar itu)


"aku tau, razky lahir karna kesalahan, tapi jangan hukum dia, dia ga tau apa apa nisa"


nisa tidak menjawab, ia tidak mau berkata apa apa, hidup nya esok pun ia tidak tau bagai mana, apa lagi membesarkan anak nya, itu belum teraba,


razki punya yoga papah nya, punya keluarga yang mampu membesarkan dia dengan baik, hidup nya sudah pasti terjamin nisa tidak meragukan itu.