Annisa

Annisa
terungkap



Hari


hari berganti,


dan pagi selalu datang,


walau ia tau


akan seterik apa sinar mentari di siang nanti,


ia juga tau jika akan ada badai hari ini,


namun ia tak gentar menghadapi nya,


ia tetap datang, memberikan waktu untuk penghuninya memulai kisah,


menjadi saksi bisu


tercipta nya kebahagiaan,


walau banyak juga yang enggan menyambut nya karena masalah yang mendera terlalu sulit di terima,


namun ia harus tetap datang....


Annisa


***


tokk tokk tokk,


"non permisi, bibi mau ambil baju kotor"


(bi yuni menunggu nisa membuka kan pitu, namun tidak ada jawaban)


"apa mungkin masih tidur ya?? tapi tumben non nisa belum keluar" (Bi yuni berbicara pada diri nya sendiri)


ia balik lagi ke dapur,


"nisa belum bangun bi?? (tanya ibu)


" belom seperti nya bu, saya udh ketok ga keluar"


" ya udah, tolong terusin masak ya, saya mau cek. dulu"


"baik bu"


tokk tokk tokk,


"nak.. kamu belom bangun?? "


ibu khawatir, tanpa mengetuk pintu lagi ibu membuka pintu kamar, kebetulan tidak di kunci..


"ya Allah nisaaa..... "


(ibu duduk, meraih tubuh putri nya yang tergeletak di lantai, nisa masih pakai mukena nya, berarti sudah sekitar setengah jam ia begini)


"ayahhhhh (ibu berteriak)


Rendy mendengar itu, ia bergegas keluar kamar, mencari tau suara ibu di mana,


pintu kamar nisa terbuka, Rendy segera ke sana


ayah menyusul di belakang


" bang nisa pingsan... (ibu sudah menangis memeluk tubuh putri nya)


Rendy sempat panik,


"angkat ke tempat tidur bang" (pinta ayah)


Rendy dan ayah memindahkan nisa,


ibu membantu nya membuka mukena yang nisa pakai, wajah putri nya begitu pucat,


"nak, kamu kenapa? kenapa akhir akhir ini sering sakit" (ibu merapihkan rambut putrinya itu)


"bang, panggil dokter ya (ayah memerintahkan rendy),


" iya yah, (rendy pergi ke kamar nya, meraih HP di atas meja kerja nya)


ayah mencoba membangunkan putri nya itu menggunakan minyak angin,


"badan nisa dingin ya bu.. (kata sang ayah) "


"iya yah, ibu khawatir... "


Rendy keluar dari kamar, ia sudah menelpon dokter,


"bang Rendy (bi yuni memanggil)


“iya bi ada apa? "


"bibi mau bicara sebentar"


"iya boleh


bi yuni merasa tak enak hati, ini akan jadi kabar kurang baik untuk keluarga ini,


" bang ren, bibi nemu ini di kamar non nisa"


(bi yuni mengeluarkan benda kecil berbentuk persegi panjang dari saku nya, Rendy tau itu apa alat tes kehamilan? di kamar nisa??? )


Rendy menerima nya,


tangan nya gemetar, jantungnya bergemuruh...


apa maksud semua ini, otak nya sulit mencerna..


Rendy menyimpan nya di saku celana,


"makasih bi"


"sama sama bang"


Rendy keluar rumah, ia menunggu dokter datang, tangan nya terkepal..


setahu nya Riko lelaki satu satu nya yang dekat dengan sang adik, bahkan Rendy menitipkan pada nya,


"pantes kamu buru buru pengen nikahin nisa ko, ternyata ini penyebab nya??? (Riko berbicara pada diri sendiri, ia emosi)


dokter pun datang,


Rendy membawa nya ke kamar nisa, nisa sudah siuman,..


" permisi ibu bapak, saya periksa dulu ya.. "


"silahkan dok, (ayah menyingkir memberi ruang untuk sang dokter)


nisa sempat menatap abang nya, ia merasa tatapan bang rendy berbeda,


ya, Rendy merasa menyesal memberi kebebasan pada adik nya, ini yang ia takut kan, terjadi juga kan??


ia juga kecewa pada nisa dan Riko, kepercayaan Rendy hilang begitu saja..


" apa yang mba rasa sekarang? (tanya sang dokter)


"kepala saya pusing dok, kalo kena cahaya silau"


"sudah berapa lama mba terlambat datang bulan?"


duarrr bagaikan petir si siang hari, nisa tak dapat menjawab pertanyaan itu,


"mungkin seminggu dok" (Rendy ikut menjawab)


nisa, ayah dan ibu sontak menatap Rendy,


dokter berfikir Rendy adalah suami nisa,


"wah, selamat kalo begitu, saya memprediksi kan kalo mba nisa sedang hamil"


ibu sungguh terkejut,


apa mksud perkataan dokter?


dan Rendy apa itu tadi, apa ia tau sesuatu??


wajah cantik nisa semakin pucat,


dokter sudah pergi,


ibu menangis di bangku meja rias nisa,


Rendy mendekat pada adik nya.


nisa ketakutan,


hari ini semua akan terungkap, itu sudah pasti.


"apa ini nisa?? (bang Rendy menunjukan tespek yang bi yuni berikan) "


nisa terkejut, kenapa benda itu ada pada abang nya??


mata nisa sudah berair,


"jawab.. (bang Rendy membentak, ayah tak dapat berkata apa apa)


nisa menundukan kepala nya, tangan nya meremas baju di bagian perut nya ("nak, bantu ibu" nisa bergumam dalam hati nya)


habis sudah ia hari ini.


"ini yang kamu mau nisa? kamu mau bebas dari abang untuk ini?? "


nisa menangis, ia hanya mampu menggelengkan kepala nya,


"pantas Riko ingin segera menikahi kamu, kalian sudah se jauh ini berbuat? “


nisa mendongkakkan kepala nya menatap sang abang,


" engga bang, abang salah faham" (nisa menjawab takut)


"salah faham apa? dia lelaki yang dekat sama kamu, dan kamu bilang abang salah faham? “


" bukan bang Riko yang melakukan nya bang"


ayah, ibu, dan Rendy menatap nisa tak percaya? ada lelaki lain selain Riko?


kenapa? sedangkan nisa sudah akan menikah dengan Riko?


"bukan Riko? lalu siapa? "


nisa menggeleng lemah..


"nisa ga tau bang.. "


"astaghfirullah nisa,... (Rendy prustasi, bagaimana adik nya hamil dan ia sendiri ga tau siapa yang menghamili?)


"nak, apa kamu di perkosa?? " (ibu bertanya)


jujur kata itu begitu begitu menyakit kan di hati nisa, nisa menangis lagi..


ayah pergi ke luar, ia begitu sedih dengan apa yang terjadi pada putri nya


"nisa ga minta abang dan ibu percaya, tapi dia bukan riko bang. nisa ga tau siapa dia,


ibu dan Rendy menyimak, bagaimana pun ini sudah terlanjur di ketahui, nisa harus mengatakan semua nya


" itu terjadi waktu nisa pergi ke pertunangan nya luna, nisa salah jalan waktu di hotel karena waktu itu ada beberapa acara,


tiba tiba ada lelaki yang tarik tangan nisa,


dan nisa di bawa ke kamar.. (nisa menangis Sesegukan)


ibu juga menangis meratapi nasib anak nya, memalingkan wajah nya, ia tak tau harus berkata apa, semisal Riko pelaku nya, kemungkinan terakhir adalah menikahkan mereka, namun nisa ga tau lelaki itu siapa? lalu bagaimana masalah ini terselesaikan????


"sejak kapan kamu tau kamu hamil nisa?? (ibu bertanya)"


"dua hari yang lalu bu.. "


"lalu kamu kemarin periksa kandungan ke RS?? (ibu menebak nya, tepat sasaran)


nisa mengangguk,


" berapa usia kandungan kamu nisa" (suara ibu bergetar)


"32 hari bu"


bang Rendy melamun,


entah bagaimana menyampaikan kabar ini pada Riko,


**


yoga mencoba menghubungi nisa dari tadi, namun HP nya tidak aktif,


ia takut kata kata nisa benar ia lakukan,


"hallo adi, bagaimana? “


" nona belum keluar rumah tuan"


yoga membuang nafas kasar,


di tatap nya foto hasil usg nisa, nisa mungkin tidak ingat, buku nya ada pada yoga, yoga sengaja melakukan nya, ia akan mengingatkan nisa untuk periksa setiap bulan nya


**


ayah menggigit kuku jempol tangan nya, di pandang nya taman belakang rumah melalui jendela dapur, kopi di hadapan nya mungkin sudah dingin..


ibu datang duduk lesu di sebelah suami nya,


"bagaimana kita bicara pada Riko bu? "


"entah lah yah, ibu belum bisa memikirkan nya"


menatap sang istri, mata nya sembab.. ayah memeluk nya, lelaki ber umur 52 tahun itu bernama rian, ia mengingat lagi masa lalu nya, bagaimana ia menentang orang tua nya untuk menikahi wanita yang menjadi istri nya ini,


mereka sempat berfikir nekat, melakukan hubungan terlarang, karena jika itu terjadi, dan kekasih nya hamil keluarga mau tidak mau harus merestui, karena keluarga rian keluarga terpandang, namun itu tidak mereka lakukan, rian dan arum memilih kabur, dan menikah, menjalani kehidupan dari bawah, dan kini di sinilah mereka hidup.


harta menjadi salah satu penghalang kedua nya untuk bersatu, istri nya ini yang bernama Arum adalah orang biasa,


ayah mengencang kan pelukan nya,


bagai mana kini mencari jalan keluar untuk nisa..