
tepat hari ini, 3hari sudah nisa pergi,
ibu masih sering melamun.. memikirkan anak nya, apakah ia hidup dengan baik??
pikiran nya mengatakan takut jika nisa sampai nekat menggugurkan kandungan nya, dan itu mengancam keselamatan nyawa nya,
ayah mulai hari ini pergi ke resto, ibu meminta nya pergi. karna jika di rumah, mereka akan seperti ini, menunggu nisa yang entah kapan pulang nya,
Rendy sampai melibatkan pihak kepolisian, meminta pertolongan, semoga nisa dapat di ketemukan secepat nya.
**
Riko di kantor,
tak henti henti nya menunggu, dan mencari kabar, ini jam 11 siang, sebentar lagi istirahat ia akan melanjutkan lagi pencarian nya,
Riko menuju pantry,
ia butuh kopi, dan rokok nya sebelum pergi,
sempat berhenti merokok karena nisa tidak menyukai itu, ia mulai lagi...
TV di pantry menyala, menyiarkan berita kriminal harian,
mengocek kopi nya perlahan, Riko mendengar sesuatu yang membuat nya meninggalkan kopi yang baru saja di buat nya,
sang reporter mengabarkan,
"pemirsa, baru saja kami menerima laporan, dari reporter kami di lapangan,
di temukan se sosok mayat perempuan dewasa di sungai, bawah jembatan xx, di perkirakan sudah 3hari lama nya, karena korban sudah mulai membengkak dan wajah nya hampir tidak bisa di kenali,
(tampil tayangan evakuasi korban oleh polisi)
"dari data yang kami dapat, korban memakai baju warna hitam, celana jeans, dan diperkirakan rambut se bahu, polisi masih mendalami penyebab yang membuat nyawa wanita muda itu melayang,
berikut kami tampilkan data korban yang di temukan di lokasi kejadian"
tangan Riko bergetar,
bagaimana mungkin korban itu adalah nisa??
KTP yang ada di layar TV itu jelas jelas milik calon istri nya
Annisa riani
jembatan yang di maksud, Riko mengetahui nya,
"nisa ga mungkin itu kamu kan?? “
ia hampir saja menendang TV itu karena tak percaya..
**
beny menerima laporan dari anak buah nya tentang penemuan mayat di jembatan itu,
ia tau benar, saat CCTV menyorot nisa, ia menggunakan baju hitam celana jeans seperti yang di sebutkan.
terlebih benar,
ada KTP, kartu kepegawaian dan beberapa kartu kartu lain nya yang di ketemukan di lokasi.
beny kesulitan,
bagaimana ia harus memberi tahu bos nya itu,
sejak kepergian nisa, bos nya tak datang ke kantor,
menghabiskan waktu di kamar, dan balkon nya,,
ia hanya melamun, bekas roko dan minuman kaleng di mana mana, bos nya tampak kacau, dan kini terlebih ada kabar itu..
"jadi, nona nisa bunuh diri?? "
pikiran nya berkecamuk, benar nona nya ini tidak bisa di tebak.
beny menunggu,
namun tak kunjung terbuka pintu yang ia ketuk,
dia di depan pintu kamar yoga sekarang,
nekat, dia menerobos nya, kamar bos nya semakin berantakan.
beny pergi ke balkon, kemarin ia menemukan bos nya itu di balkon..
"tuan... "
"apa kamu mau memberi kabar tentang kematian nya?? (yoga tau beny datang, namun tatapan nya tetap tertuju ke depan, seolah beny tida ada si sana)
" anda sudah tau tuan?? “
yoga mengangguk, ia menangis memeluk lutut nya, bagaimana mungkin wanita yang mulai ia cintai, bahkan tengah mengandung anak nya pergi begitu saja, tanpa pamit, tanpa pesan..
yoga semakin rapuh, bahkan mungkin ia bisa gila.
beny tak tahan melihat bos nya seperti itu.
***
Rendy syok, ia tak percaya akan kabar yang yoga sampaikan, Rendy sedang meeting tadi, saat Riko menelpon,
Riko datang ke kantor Rendy,
mereka pergi bersama..
"hati hati ko, santai oke"
Rendy sedikit takut, Riko ngebut mengendarai motor nya..
*gue ga bisa tenang ren, gue juga tau lo ga tenang,
Riko terus menerus berdoa dalam hati nya, ia sebenar nya tidak yakin, jika benar itu nisa, apa dia bisa menerima nya?? apa dia sanggup melihat nya..
sampai di TKP,
masih banyak orang berkerumun dan beberapa orang polisi, Riko dan Rendy menerobos,
"pak dimana korban?? " (tanya Rendy tak sabar pada seorang polisi) ,
"korban sudah di bawa ke RS, anda siapa pak?? (melihat kepanikan pria di depan nya)
" Annisa riani, adik saya pak"
"oya, silahkan anda langsung ke RS, baru saja ambulan pergi"
"terimakasih pak"
Riko dan Rendy menyusul ambulan yang di maksud pak polisi, dan mereka menemukan nya,
motor Riko kini berada di belakang ambulan itu yang meraung, memecah jalanan kota
"dek.. ga mungkin kamu yang di dalam kan?? "
Rendy tetap tidak percaya, se putus asa itu kah adik nya hingga harus mengakhiri hidup
mata Riko sudah basah,
ini sulit untuk mereka, "nisa mas datang"
**
beny menerima kabar, jika mayat yang di temukan sudah berada di RS, ia menyusul nya..
beny, Riko dan bang Rendy berbarengan sampai di RS, namun beny menghentikan langkah nya,
Rendy mengenai nya sebagai assisten yoga, ia takut Rendy curiga..
mengintip di balik tembok,
Rendy sedang berbicara dengan polisi di sana.
"pak, dimana korban yang di temukan di jembatan? “
" anda siapa? (tanya polisi)
"saya kakak nya pak, saya mendengar berita itu di TV, kebetulan adik saya tidak pulang sudah 3hari"
"baik, korban sedang di bersihkan, akan di masukan ke kamar mayat, jika sudah selesai nanti kami kabari untuk bisa saudara lihat,
ini barang barang milik korban"
polisi menyerahkan satu buah dompet, lengkap dengan isi nya yang sudah terbungkus plastik hasil pemeriksaan polisi,
Riko menahan diri nya untuk tidak menangis, karena dia tau itu dompet yang sering nisa bawa jika berpergian jarak dekat,
Rendy menerima nya, tangan nya bergetar, memejamkan mata nya, air mata nya meluncur juga.
ia buka bungkus plastik itu, dan membuka resleting dompet berwarna hitam itu,
jelas itu KTP dan identitas lain milik adik nya Annisa,
Rendy jatuh terduduk, ia menangis juga,
Riko pun menyandarkan punggung nya din tembok RS, ia takut tumbang..
merosot Riko pun terduduk lesu di lantai...
"gimana abang ngasih kabar ke ibu sama ayah dek, kamu tega, kenapa kamu begini???? "
Riko duduk memeluk lutut, membenam kan wajah nya di sana.. ternyata begini sakit nya di tinggalkan sedang sayang sayang nya, ia pun pernah merasakan hal yang sama saat ayah nya berpulang..
**
beny melihat semua nya itu,
berkesimpulan bahwa semua nya benar..
ia pergi, namun menugaskan seseorang untuk berjaga di RS, memantau perkembangan,
ia harus menemani bos nya , berjaga jaga