Annisa

Annisa
sakit



Nisa memejamkan matanya..


menyandarkan kepala ke belakang..


rasa takut nya alhamdulillah bisa terlewati. namun kaki nya masih lemas dan jantung nya masih belum berdetak normal...


"kenapa kamu cium aku? " tanya Nisa tiba tiba.. yoga memelankan laju mobil nya, ia syok dengan pertanyaan Nisa


"ya, abis nya kamu liatin aku ,


aku kan jadi kebawa suasana"


Nisa mencelos mendengar jawaban yoga,


"terus kamu kenapa liatin aku? “


Yoga melipat bibir nya menahan tawa, ia merutuki ucapan nya sendiri, mata nya bahkan tidak berani memandang Nisa...


" aku... emh.. aku melamun... "


Yoga tak tahan ia menyunggingkan senyuman..


"jangan senyum gitu Yoga, kamu ngeledek aku?? " Nisa malah marah. Yoga langsung diam.


"ya abis.. mana ada lagi gelap gelapan ngelamun.. terus biasa nya kalo orang ngelamun ga akan ngeuh kalo dia ngelamun"


Nisa tidak menjawab nya, ia cemberut...


mereka sampai di halaman rumah Nisa...


Nisa segera turun.. namun ia kembali,


"jangan ikut turun, kamu balik lagi aja ke kantor.. makasih udah anterin aku"


Yoga melongo dengan apa yang Nisa ucap kan..


Yoga menatap punggung Nisa yang semakin menjauh..


"Tuhan, jika ada takdir aku bersama nya, permudah jalan nya, aku sayang dia, aku ingin menebus kesalahan ku pada nya dulu, ijin kan aku membahagiakan nya dan anak kita"


hati nya meronta,


namun Yoga cukup senang kini, Nisa maupun keluarga nya mulai menerima kehadiran nya sebagai papah nya Razky


Nisa pun sudah tidak terlalu menjauh dengan nya.. harus nya itu akan jadi mudah bukan untuk nya bersatu dengan Nisa..


"bagaimana pun aku tidak bisa berharap banyak, luka di hati Nisa begitu dalam yang aku goreskan, dan mungkin dia juga belum bisa melupakan om Adnan"


***


"kamu ganggu aja ben"


Yoga melayangkan tatapan sinis pada assisten nya itu,


Beni menahan senyum.


Yoga baru saja kembali, setelah mengantarkan Nisa pulang, ia pergi makan sian sendirian..


"bos kan bilang cepet cepet betulin lift nya" jawab Beny,


"ya tapi kecepetan, kamu tau kan Nisa baru baik sama saya, selama ini dia judes terus.. "


"tapi bos.. saya rasa tuan Jimmy ada feeling sama bu Nisa" ucap Beny mengompori,


"saya juga punya pikiran begitu..


coba saja kalau dia berani.. ga peduli client penting atau bukan, kalo berurusan dengan Nisa benda cerita nya"


Beny mengangguk,


ia saksi hidup pertemuan Nisa dan Yoga,


bahkan mungkin karna ulah nya lah mereka bertemu.


**


"pah, udah lama Yoga di sana, kerja bareng sama Nisa.. tapi ko ga ada pergerakan hubungan dia sih?? “ Riana merengek pada Tama agar ia memikirkan cara untuk lebih mendekatkan Nisa dan Yoga


" mah.. hubungan antara dua orang itu tidak bisa dipaksa.. biarkan mengalir dulu begini"


"pah, usia Yoga sudah matang 26tahun. dia juga punya anak, masa iya belum menikah??


kemaren mamah nya celine temen Yoga kuliah dulu nelpon.. katanya ketemu Yoga di tempat wisata sama anak istri nya, kan mereka jadi nanya kenapa ga undang undang Yoga menikah"


"bilang aja belom resepsi" Tama sedang membaca berita di HP nya, namun ia terdiam, tiba tiba mendapat ide.


"mah... "


"hmmmmm" jawab Riana


"kalo seseorang sudah ga ada di dekat kita.. kita baru tau kan, orang itu segimana penting nya buat kita?? “ tanya Tama..


" iya.. emang kenapa?? "


"papah punya ide mah.


gimana kalo kita pura pura kirim Yoga ke luar negeri, cuma untuk tau Nisa tuh punya perasaan ga sama Yoga.. "


Riana tersenyum, tau maksud dari suami nya..


"kalo Nisa ngerasa kehilangan, berarti dia punya perasaan sama Yoga gitu pah?? “


Tama mengangguk,


" ahhhh papah emang pinter..


jadi apa dulu papah juga mancing mancing mamah biar mau sama papah? "


"eits enak aja..


siapa yang dulu bilang suka duluan ke aku?? “ Ucap Tama yang membuat Riana malu.


" ich ko masih inget...?? "


"aku ga akan ngelupain itu, "


mereka saling tatap dan tertawa bernostalgia


"udah udah jangan di bahas.. itu memalukan" ucap Riana lagi...


**


"Nisa... "


"apa?? “


"ya. ada berkas yang harus aku tandatangani bukan?? "


"betul sekali nyonya... "


Yoga menggoda Nisa, ia mengirimkan pesan subuh subuh,


Nisa telah sampai di kantor jam 8, ia memang terbiasa datang pagi, namun sudah jam 10 Yoga belum datang juga..


"Dian"


"iya bu.. ada yang bisa saya bantu? “


" Yoga belom dateng kemana dia? “


tanya Nisa..


Dian tersenyum.


padahal kan bos nya itu bisa menelpon langsung Yoga,


"bapak belum ngasih kabar apa apa bu"


"apa dia sering telat begini?? “


" jarang bu, cuma memang biasanya bapak masuk aga siang setengah 9"


"ya sudah, makasih nya"


"sama sama ibu.. "


Nisa jadi kepikiran tentang Yoga.


ia mengecek HP nya namun tidak ada pesan sama sekali...


"mungkin dia kesiangan... " ucap Nisa menyimpan lagi HP nya..


Jimmy dari semalam mengirimkan pesan terus pada Nisa,


menurut Nisa ia sopan, Jimmy juga masih cukup muda untuk seukuran pebisnis sukses.. kurang lebih usia nya seperti Yoga,


pintu terbuka.. akhirnya Yoga datang,


"maaf aku telat"


Nisa menatap nya.. wajah Yoga seperti berbeda pagi ini.. ia pucat..


"banyak sekali telat nya' ucap Nisa, ia sudah kembali menatap ke layar laptop,


Yoga tidak menjawab...


ia duduk di depan Nisa seperti biasa nya..


namun tidak seperti biasa, Yoga jadi lebih pendiam.. Nisa jadi penasaran.. memiringkan kepala nya untuk menengok Yoga, Nisa mengerutkan alis nya, Yoga terlihat memijat kening nya..


"yoga... “


Yoga menoleh, Nisa memanggil nya..


" kamu pucet gitu?? kamu sakit?? “ Nisa bangkit dari duduk nya. ia berputar mendekat pada Yoga,


"entah lah aku ga enak badan.. badan ku dingin rasa nya.. "


Nisa memberanikan diri menyentuh kening dan leher Yoga memeriksa suhu.


"badan kamu panas Yoga"


Nisa panik,


"kalo sakit kenapa masuk kerja? “


Yoga tidak menjawab. ia tersenyum..


meraih telpon di meja nya Nisa memangil Dian,


" bu.. ada apa? " Dian datang, Nisa meminta nya memanggil dokter untuk memeriksa Yoga,


"badan nya panas Dian"


"bapak pucat sekali.. mungkin masuk angin, Dian punya kayu putih, apa mau di balur badan nya?? “


" iya Dian bawa cepat... "


Nisa memaksa Yoga untuk berbaring di sofa.. Yoga terlihat menghawatirkan, bibir nya terlihat kering, mata nya ber air..


"ibu ini... "


Dian menyodorkan kayu putih.. Nisa terdiam


"siapa yang mau balur nya?? “ tanya Nisa pada Dian


" aduh bu, saya ga berani" Dian tersenyum sungkan..


Nisa mendekat pada Yoga,.


"ya Allah ini darurat.. maaf kan aku"


Nisa membuka sepatu Yoga


Yoga seketika bangun..


"Nisa mau apa? ".


" mau balur kaki kamu,


sebelum dokter datang"


"no" Yoga menggeleng lemah..


"sudah diam"


Nisa melanjutkan membuka sepatu Yoga, membuka juga kaus kaki nya..


kaki Yoga sangat dingin..


Nisa mulai memberi telapak kaki Yoga kayu putih,


bukan efek kayu putih yang menghangat di kaki nya.. tapi Yoga terpesona dengan kepedulian Nisa hati nya yang menghangat..


Dian merasa ia harus meninggalkan kedua bos nya itu, ia pergi...


"Yoga, buka baju kamu.. "


Yoga terperangah... utuk apa membuka baju???