
Hari ini, setelah Nisa cuti 3 hari pernikahan abang nya, ia mulai pergi lagi ke kantor..
kepala nya sedikit pusing.. malam ia tidak bisa tidur, memikirkan kata kata nya pada Yoga, apakah benar yang ia katakan itu..?
Nisa di sibukan dengan beberapa meeting,
Yoga mendampingi nya. namun tidak seperti biasa Yoga terlihat acuh.. hanya bertanya sesuatu mengenai urusan pekerjaan..
jam istirahat datang.. Dian pamit untuk pergi keluar makan siang,.
Yoga bangkit dari duduk nya..
menerima telpon dari seseorang, ia pergi begitu saja membawa kunci mobil nya..
baru satu hari Yoga mendiamkan nya, namun entah mengapa Nisa merasa ada yang kosong di hari nya..
menyandarkan kepala nya di kursi..
Nisa membuka geleri HP nya, menggulir layar yang menampilkan foto mendiang suami nya, Razky keluarga,
di sana juga ada foto Yoga saat merayakan ulangtahun Razky, dan yang terbaru saat kemarin resepsi pernikahan bang Rendy,
Yoga meminta Nisa berfoto, mereka berdua dengan baju senada.. dan satu foto lagi bertiga dengan Razky,..
"kenapa Razky malah tambah mirip dengan papah nya?? " kepala Nisa tambah pusing
ia berniat merebahkan diri nya di sofa..
**
ibu tersenyum, melihat kedatangan Yoga ke resto suami nya,
ya.. mereka punya janji di waktu makan siang ibu akan mentraktir Yoga siang ini...
"bu.. maaf ya terlambat" Yoga mencium tangan ibu..
"ibu memang sengaja berangkat lebih awal, mau bantu ayah"
Yoga duduk berhadapan dengan ibu,
"nak, ibu dengar pembicaraan kalian tadi malam"
Yoga tersenyum kecil,
hati nya aga menciut, dia punya feeling, sepertinya ibu meminta nya untuk menjauhi Nisa..
"maaf ya bu, Yoga mengganggu se malam.. "
"engga Yoga,
ibu boleh tanya sesuatu? “
" tentu boleh bu" Yoga tersenyum begitu tampan..
"Yoga, ibu selama ini tidak diam saja,
ibu memperhatikan bagaimana kamu berusaha ada untuk Razky,
kamu telah banyak berubah dari saat pertama ibu kenal, dan bukan hanya kamu saja nak, mamah sama papah mu pun alhamdulillah sudah semakin baik pada kami.
Yoga, apa kamu bersungguh sungguh sama Nisa?? “
Yoga terdiam beberapa detik,
"bu. sejak saat yoga bertemu Nisa, sampai hari ini itu sudah hampir 2tahun..
Yoga ga pernah punya niat ngisi hati yoga sama yang lain..
entah lah, di mata Yoga hanya Nisa yang bisa bikin Yoga kagum,.
harus ibu tau,
setelah om Adnan meninggal, Yoga sering datang... dan memang baru saat Nisa gabung ke kantor kita semakin dekat, yoga sering sekali bilang sama Nisa kalo yoga sayang sama dia"
"Nisa bilang kamu udah punya pacar Yoga"
ibu menatap mata Yoga,
"bukan bu..
perempuan yang Yoga bawa ke resepsi bang Rendy hanya teman..
Yoga meminta nya membantu Yoga, agar Yoga bisa tau bagaimana perasaan Nisa sama Yoga"
ibu mengangguk, ia cukup mengerti,
di balik alasan itu bohong atau benar ada nya itu memang bukan urusan ibu,
"nak,
dulu setau ibu hanya Riko, kamu dan mas Adnan, yang ada di dekat Nisa,.
Nisa memang ga mudah dekat dengan lelaki.
Yoga jujur, ibu suka sama kamu untuk jadi pendamping Nisa,
kamu terlihat tanggung jawab, dan sayang tentu nya sama Nisa, apa lagi keluarga kamu.
boleh ibu ngasih saran nak?? “ ibu tersenyum mengatakan nya.
"apa itu?? “ Yoga sangat antusias
" kamu pernah dengar istilah,
semakin di kejar, akan semakin jauh..
tapi,
saat kita tidak berharap, sesuatu itu dengan sukarela datang"
Yoga mengangguk, namun ia belum tau arah tujuan perkataan ibu,
"beri Nisa sedikit jarak nak,
jangan terlalu di paksa untuk dekat...
ibu setidak nya tau sifat anak ibu,
bisa di bilang, cuekin Nisa, semoga dengan itu nanti dia mulai mikir tentang kamu.. "
"bu yoga takut.. "
"takut apa?? "
"jika yoga ngelakuin itu,
terus Nisa nya biasa biasa saja bagaimana?? "
ibu tertawa,
"ya berarti kamu harus benar benar mundur nak.. "
Yoga mengusap kedua telapak tangan nya ke wajah.. ibu tertawa lagi.. betapa lelaki di depan nya ini terlihat prustasi karna putri nya..
ibu tidak pernah menyangka..
masih ingat dalam pikiran nya bagaimana dia membenci Yoga karna putri nya..
sampai saat Nisa melahirkan pun ibu kesulitan menemani putri nya,
"Yoga, kamu ingat saat awal Nisa melahirkan??,
dia hampir saja depresi.. badan nya sangat kurus,
tapi sekarang ia sudah kembali, walaupun ga kaya dulu,
kamu sadar kan itu karna siapa?? "
Yoga terdiam, wajah nya langsung murung,
"yoga menyesal bu,
demi Tuhan, saat tau Nisa hamil yoga minta sama Nisa buat menikah, Yoga mau tanggung jawab"
"iya nak, tapi saat itu kamu tau Nisa mau menikah dengan Riko,
ya sudah, kejadian yang dulu jangan di ungkit lagi, ibu berbicara seperti itu hanya mengingatkan,
berarti Nisa ga bisa di paksa orang nya, dia akan nekat, ber lemah lembut lah pada nya,
ibu yakin Nisa juga punya perasaan sama kamu walaupun hanya 30% mungkin hati nya "
Yoga tersenyum.
"bu. makasih banyak,
Yoga banyak salah sama Nisa, maupun semua keluarga nya,
Yoga janji akan bahagiain Nisa, kalo yoga ingkar, ibu sama ayah boleh hukum yoga"
"ibu akan pegang kata kata mu"