
meeting internal di mulai,
ada beberapa masalah yang harus di bahas,
Nisa pun mengajukan kebijakan kebijakan baru untuk perusahan nya ini,
ternyata pembahasan ini membutuhkan waktu yang tidak sebentar.. jika di lihat dengan seksama mungkin kepala Nisa mengeluarkan asap,
Yoga masih stay dengan cool nya. ia memang sudah terbiasa berlama lama dengan klien di ruangan seperti ini,
Yoga melihat Nisa memijat kening nya,
manager keuangan yang sedang membahas satu masalah pun terdiam melihat ekspresi bos nya, Nisa menyadari ruangan meeting yang tiba tiba sepi, ia mendongkakkan wajah nya.
"ada apa?? " tanya nya bingung
"maaf apa ibu sakit? “ ucap pak samsul
" kepala ku yang sakit" ucap Nisa memijat lagi kening nya,
"aku kan bilang apa, tadi kan mau aku bawa ke dokter ga mau" Yoga mendekat, tak canggung ia memijat kepala Nisa dengan lembut,
" yoga aku ga apa apa"
" kalo gitu kamu ke ruangan aja. biar kita beresin meeting nya"
"ga apa apa? “ Nisa bertanya
Yoga tersenyum.
" makanya aku kira kamu ga akan masuk kerja, aku udah siapin semua sendiri"
Nisa bangkit
"maaf ya, saya ke ruangan duluan"
"silahkan bu" semua berdiri mempersilahkan Nisa keluar ruangan,
"aku anter kamu pulang ya? biar nanti berkas yang harus di tanda tangan hari ini aku yang antar sore"
Yoga membuka pintu ruangan mereka, Nisa tersenyum mendapati buket mawar putih berukuran sedang di meja kerja nya,
"bunga siapa itu? “ tanya nya pada Yoga
" bunga cantik buat calon pengantin ku" Yoga menundukkan wajah nya, ia berbisik tepat di telinga Nisa,
"kapan beli nya? " tanya Nisa senang
"rahasia"
Yoga meraih buket bunga, dan memberikan nya pada Nisa, Nisa menerima nya,
"makasih ya"
Yoga menuntun Nisa untuk duduk di sofa, ia kembali memberikan pijatan di kepala Nisa Nisa tersenyum.
"apa kamu private memijat juga yoga? “
"apa nyaman?? “
tidak bisa Nisa pungkiri. ia merasa nyaman
" nyaman sekali"
"istirahatlah" ucap Yoga, Nisa menggenggam tangan Yoga yang ada di kening nya,
ia meminta Yoga duduk di samping nya,
Yoga menurut,
Nisa begitu saja bersandar tidur di dada Yoga sambil memeluk buket bunga milik nya,
"sayang, ap kamu ada masalah? " tanya Yoga pelan,
Nisa menggeleng,
"apa razky nakal? "
Nisa menggeleng lagi
"syutttt, jangan berisik. aku mau gini dulu, boleh kan?? “ Nisa menelusup kan wajah nya semakin dalam, ia bahkan terlihat nyaman dengan posisi kaki yang di angkat ke sofa
" lakukan apa yang kamu mau Nisa "
Yoga mencium puncak kepala nya, sebelah tangan nya mengusap punggung Nisa..
dan Nisa benar benar terlelap nafas nya begitu lembut dan teratur..
sepuluh menit berlalu,
Beny mengetuk pintu, ia mengitip sedikit, setelah melihat Yoga melambai ia masuk,
"bos ini hasil meeting tadi, kalau perlu sesuatu, saya di luar"
"iya ben makasih,
mungkin jam istirahat aku mau bawa Nisa pulang"
"siap bos, saya stanby di luar"
Yoga mengangguk, ia tak tega membangunkan Nisa untuk pulang,
setelah setengah jam Nisa tertidur yoga pun tak. sadar ikut terlelap,
namun Yoga tersadar, setelah sekelebat ia bermimpi mendiang om nya,
Yoga membangunkan Nisa perlahan,
entah mengapa hati nya merasa tidak enak, tubuh Nisa sedikit terasa hangat, Nisa pun tampak tidak bergeming Yoga membangunkan nya,
"Nisa... sayang... "
Yoga menepuk pipi Nisa lembut, namun tangan nya terkulai, buket bunga yang Nisa peluk jatuh.
Yoga berusaha bangkit, Nisa ia baringkan di sofa,
"benny" Yoga berteriak, ia panik melihat wajah Nisa memucat,
Beny yang memang ada di meja Dian mendengar itu, ia dan Dian berlari masuk ke ruangan
"ibu... " Dian panik,
"siapin mobil, ayo ke RS" ucap Yoga..
"siap bos" Beny keluar ruangan menuju lantai dasar menyiapkan mobil
"Dian tolong bawa HP saya sama tas ibu, HP ibu juga bawa"
"iya Pak" Dian terdengar bergetar suara nya. ia memang melihat bos nya itu pucat sejak datang tadi.
Yoga mengangkat tubuh Nisa, membawa nya ke lantai bawah di temani Dian,
seketika suasana kantor rusuh, kabar simpang siur langsung mengudara,
Beny membuka pintu mobil, membantu Yoga masuk,
"hati hati ya mas Ben" Dian begitu cemas,
"oke, kita berangkat dulu"
"iya, bismilah, kabari aku ya? “ tambah dian..
Dian jadi sasaran karyawan lain yang bertanya tentang kejadian sebenarnya
" apa ibu Nisa hamil? biasa nya kalo yang ngidam kan lemah" seseorang mengemukakan opini nya
"eh ga gitu, bu Nisa ngeluh lambung nya kumat, memang dari pagi sudah terlihat pucat, tolong jangan bicara yang engga engga, kalo pak Yoga tau bagaimana? "
Dian meninggalkan mereka yang terlihat diam saat ia mengatakan itu,
"dasar netizen, sembarangan aja kalo Ngomong" Dian menggerutu terus
***
"Nisa kenapa kamu belum bangun?
jangan begini aku takut"
menggenggam tangan Nisa dengan pelan, Yoga mencium punggung tangan Nisa, dokter telah memeriksa, riwayat lambung yang Nisa miliki memang sedikit buruk,
Yoga mengusap pipi Nisa, syukurlah ia mulai sadar, "ya Allah alhamdulillah" ucap Yoga
Nisa masih terlihat bingung,
mengerjapkan matanya beberapa kali, ia melihat Yoga mengusap sudut matanya yang basah, ia. menangis
Nisa mulai sadar bahwa ia di rumah sakit,
ia tersenyum, "maaf ya... " ucap Nisa
"aku takut Nisa, aku takut kamu ninggalin aku' Yoga menyembunyikan wajah di balik genggaman tangan nya, ia seperti nya menangis.
Nisa merasa bersalah akan hal itu,
"kamu janji ga akan bilang kamu ga apa apa lagi? aku dari pagi bilang kan ayo ke rumah sakit, kamu nya ga mau aja"
entah mengapa airmata Nisa menetes begitu saja.. ia melihat Yoga benar benar khawatir pada nya, Nisa mencoba tersenyum, ia menarik tangan Yoga pelan untuk mendekat, Nisa ingin memeluk nya lagi seperti tadi di kantor..
Yoga memeluk nya,
"maaf Yoga maaf, aku janji ga akan gitu lagi"
Yoga merenggangkan pelukan nya, .
"kalo kamu sampai gini lagi, kamu berarti ga sayang sama aku juga razky"
"ya... "
pintu ruangan rawat Nisa di ketuk,
"assalamu'alaikum"
mamah Riana dan ibu ada di sana..
Yoga terkejut pasal nya ia tidak tau mamah nya di sini
"kapan datang mah? “ Yoga menyalami ke dua ibu nya itu,
" mamah mau bikin kejutan tadi nya, mamah mau lamar Nisa dan langsung ke rumah nya. ga lama sampe rumah Nisa kamu nelpon ibu, mamah jadi ikut kaget, langsung ke sini deh bareng bareng"
mamah mendekat pada Nisa dan memberikan kecupan di kening nya,
"apa masih pusing? “ tanya ibu
" udah engga bu, maaf ya ngerepotin " ucap Nisa
ibu tersenyum, Riana juga mengusap lengan calon menantu nya itu,
"kalo masih ada keluhan bilang aja sayang, jangan ada yang di tutupin"
"iya mah.. maaf ya..
emh.. Razky mana? “
" di luar sama opah nya" jawab Riana
"Nisa mau pulang ya.. Nisa ga betah di rumah sakit"
Yoga melipat kedua tangan nya di dada,
"terserah kamu aja, kalo kamu ga mau sehat pulang lah"
Yoga pergi begitu saja meninggalkan ruangan, Riana tersenyum kikuk pada ibu,
"nah sifat Yoga kumat lagi kalo udah menyangkut Nisa"