
adnan bangun dari duduk nya,
permintaan abang nya itu sangat tidak masuk akal,
"nisa sudah menunggu anak itu lahir bang, dia sudah mempersiapkan semua keperluan nya"
"bujuk lah dia" (tama enteng sekali bicara)
"bukan kah ini menguntungkan mu, kalian tidak terbebani oleh anak,
anak itu bukan anak mu adnan"
"asal abang tau, sebelum dia lahir, aku sudah menyayangi nya, bahkan aku ga mempermasalahkan ayah dari anak itu,
aku tidak hanya menerima nisa, jadi jangan harap abang meminta itu lagi"
"aku akan berikan berapapun yang nisa minta,
dia cucuku adnan"
adnan muak juga dengan kakak nya,
mood nya rusak, tidak mungkin ia bisa bekerja dengan mood berantakan seperti ini,
"mimpi saja bang, sampai kapan pun aku ga akan mengabulkan nya"
adnan pergi dari ruangan nya, meninggalkan kakak nya sendiri,
mengapa orang orang begitu egois, belum sampai ke lift, adnan berpapasan dengan yoga, seperti nya yoga akan ke ruangan nya
*sial tambah muak saja aku pagi ini.. (gumam adnan, adnan terus berjalan tidak menghiraukan keberadaan yoga)
"om.. (yoga memanggil nya)
ada yang harus aku bicarakan, om mau kemana?"
adnan berbalik dengan malas nya,
"bicara saja dengan ayah mu di ruangan ku, dia rajin sekali pagi pagi sudah merusak mood orang lain"
yoga terdiam, adnan pergi
"apa? papah ada di sana??
yoga bergegas ke ruangan adnan, dan benar, papah nya masih di sana.. "
***
nisa sedang mencatat bahan makanan yang ia butuhkan untuk beberapa hari ke depan,
mulai dari bumbu, bahan pokok, sayuran dan lainnya,
ini sudah pukul 11 siang, nisa tidak mendapat kabar apapun dari suami nya, dia berinisiatif memberinya pesan..
"mass, aku sudah selesai membuat daftar belanjaan"
terkirim,
centang dua,
namun belum di baca
"mungkin dia sibuk" ( nisa bicara pada dirinya sendiri)
beralih lagi ke daftar belanja, nisa tidak mau ada yang kurang, dia tidak bisa tiap hari keluar untuk belanja,
terlalu fokus dengan daftar nya, nisa tidak mendengar adnan pulang,
memandang punggung istri nya,
adnan teringat selalu kata katanya abang nya,
"apa aku harus bawa nisa pergi sejauh mungkin??, aku ingin hidup bahagia dengan nya, dengan anak kita" (terlintas d pikiran nya)
apa nisa aku bawa pulang ke rumah ibu dan ayah nya?, biar dia di jaga ketat di sana...???
merangkul nya dari belakang
nisa jelas kaget, ia tadi sendiri di rumah...
"ya ampun mas, nisa kaget"
"serius amat sih?? ampe ga denger mas buka pintu"
"heheee maaf ya, terus kenapa mas pulang?"
"kangen sama kamu (adnan mencium pipi nisa)
" hmmmm, brantakan kerjaan kalo gini terus"
adnan melepaskan pelukan nya, ia berpindah tempat, duduk menghadap nisa,
"sayang, kalo aku ajak kamu pulang, mau?? "
nisa jelas senang, tapi kenapa adnan mengajak nya mendadak begini?
"nisa mau mas" (dengan antusias nya)
"kalau hari ini mau?? "
"mauuu mas,
tapi, kenapa mas ajak pulang? ini mendadak sekali?? “
" nisa.. " (adnan menggenggam jari tangan istri nya), jujur mas khawatir tentang yoga, mas fikir jika kamu di rumah mu, banyak yang melindungi mu, bagaimana?? "
"apa dia melakukan sesuatu sama mas?? " (nisa langsung cemas) "
"dia ga akan berani sayang, ini hanya antisipasi"
"sekarang mas?? "
"iya mas tunggu kamu siap siap"
"emmmh, kita mampir ke bu Ratih dulu ya mas, nisa bilang dulu"
"tentu sayang... ",
nisa bergegas, ia sangat senang,.
menangkis kegundahan hati nya, tentang berita kematian nya, ia rindu, sungguh, biarlah nanti kita akan bertemu langsung,
"ibu, ayah, abang Rendy, nisa kangeeennnn, nisa akan pulanggg"
nisa mengemas beberapa saja baju, baju nya masih banyak di sana..
tadi nya ia berencana, nanti saja kalau ia sudah melahirkan, baru pulang
tapi sekarang ataupun nanti sama saja, malah lebih baik, kalau nisa melahirkan di sana, ada ibu yang menemani,
tak lupa ia menyiapkan baju suami nya,
"masss, mau baju yang mana yang di bawa??
" sini mas bantu,
baju santai saja sayang"
(adnan memilih nya, nisa memasukan nya ke tas)
"nisa senang sekali mass (memeluk adnan)
" mas juga sayang, degdegan mau ketemu mertua, heheee"
*ayo mudik🥰