Annisa

Annisa
persiapan 1



Rendy memilih resto milik sang ayah untuk acara berbincang mereka, Adnan tampak takjub, resto bergaya moderen yang dimiliki ayah nisa ini cukup luas, bisa untuk menampung acara pernikahan,


ayah menyambut mereka, mempersilahkan anak dan menantu nya naik ke lantai dua, di sana lebih privasi,


"siapa yang menata semua nya bang? ini sungguh keren" (ucap Adnan sambil melihat kesana kesini)


Rendy tersenyum,


"aku dan ayah, kami bekerja sama dengan arsitek"


"apa nisa senang ke sini? "


"dia ga terlalu suka, ayah sering meminta nya"


"terlihat, dia ga begitu lihai di dapur"


mereka tertawa..


"emmh, mas Adnan... ( Rendy memanggil nya)


" bang, panggil Adnan saja, jangan pake mas"


"umur anda dia atas saya mas"


"tapi anda kakak saya, saya ga masalah bang, cuek saja.. ( Adnan tersenyum., ia ingin lebih santai berinteraksi dengan kakak ipar nya ini, Rendy berwibawa, Adnan menyukai nya)


kopi pesanan mereka datang, ayah membiarkan mereka berbicara berdua, ayah tau Rendy akan membicarakan hal serius dengan Adnan,


" jadi dia masih sehat ya??, aku menyesal tidak membunuhnya waktu itu" (kata Rendy)


"apa yang terjadi bang?"


Rendy menceritakan tentang awal kecurigaan nya pada yoga, beberapa bukti mengarah pada nya, tentang bunga mawar putih dan parfum,


Adnan tidak tau masalah itu, nisa tidak cerita,


"nisa ga cerita soal itu sama Adnan bang"


"mungkin nisa ga mau ngungkit masalah lelaki itu"


Adnan faham,.


"bang, boleh Adnan minta tolong?? "


"apa? InsyaAllah selagi aku bisa"


"Adnan tau betul sifat bang tama sama yoga, mereka sangat gila kalo menginginkan sesuatu, memang Adnan belum melihat gerak gerik dari mereka, tapi harus antisipasi bukan?? "


Rendy mengangguk,


"abang janji ga akan cerita sama nisa atau siapapun ya? "


" tentang apa? (Rendy bertanya)


"kemarin di kantor, bang tama datang, dia bilang sama Adnan, kalo nisa melahirkan mereka meminta bayi nya, bahkan bang tama bersedia memberi imbalan"


"gila, dasar ga ada Ahlak" (Rendy emosi)


"makanya Adnan bawa nisa pulang bang,


tadinya dia pengen nanti aja kalo udah lahiran pulang nya..


tapi Adnan khawatir"


"biarlah nisa di sini, ibu juga sangat senang"


"tapi Adnan mau balik dulu bang sore nanti"


Rendy diam, entah mengapa ia khawatir pada adik ipar nya ini,


"jam brp kamu pulang? "


"mungkin malam, (Adnan melihat Rendy diam)


kenapa bang? "..


" entah lah aku khawatir"


"abang tenang aja, yang penting nisa sudah aman,


abang simpan no ku ya, siapa tau kita akan ada perlu suatu saat"


"Rendy mengangguk,


" banyak yang harus Adnan beresin bang, perusahaan juga ga bisa Adnan tinggal lama, bang tama sudah jarang sekali ke kantor, kesehatan nya mulai menurun"


***


memarkirkan mobil nya dengan cantik,


yoga pulang, ia sangat bahagia mendapat kabar pesanan untuk anak nya datang,


mamah dan ayah nya sudah menunggu di ruang tamu, tama juga belum memberitahu apapun pada istri nya, biarlah yoga saja yang memberitahu nya nanti


"mah.. "


riana bangun, melihat anak nya datang,


"wahhh, ini lucu sekali.. (yoga duduk di lantai bersila kaki, riani melihat nya dengan tatapan aneh)


" jelasin sama mamah ada apa ini? "


yoga menoleh pada ayah nya, ayah nya mendelikan bahu,


yoga tersenyum pada mamah nya


"mamah tau Annisa? perempuan yang yoga cari, dan di kabarkan meninggal?? "


mamah mencoba mengingat nya,


"dia masih hidup mah, yoga ketemu sama dia, dan mamah tau, dia hamil anak yoga, dan sebentar lagi akan melahirkan,


mamah melirik tak percaya


" apa maksudnya ini?? “ (mamah tidak percaya)


"ya, tapi wanita itu sudah jadi istri Adnan" (papah bersaksi)


riana tambah bingung,


"Adnan?? Adnan siapa?? "


"Adnan adik ku,, siapa lagi" (kata tama)


"lalu bagaimana?? kenapa kamu nyiapin ini semua yoga?? "


"itu anak yoga mah, nisa juga milik yoga ga boleh ada siapa pun yang milikin dia"


"ya Allah yoga, kamu sadar nak, dia sudah jadi istri orang, "


"yoga ga peduli mah, yoga sayang banget sama nisa, sama anak yoga juga,


yoga mau hias kamar yoga,


buat nanti anak bayi dan nisa tidur"


yoga bangkit dari duduk nya, ia membawa beberapa barang sendiri ke atas, menuju kamar nya,


"pah, ini ga bener pah, kamu harus ngasih tau yoga, terus apa bener perempuan itu sudah menikah dengan adnan? "


tama hanya mengangguk


"kapan pah? kenapa kita ga tau"


"Adnan bilang belum ngasih tau kita karna kondisi nisa yang sedang hamil"


"apa dia tau nisa hamil anak yoga?? "


"belum lama, mereka bertemu di mall, dari situ semua nya terungkap"


riana terduduk, mata nya berlinang menatap pintu kamar anak nya,


"yoga, mamah mau kamu nikah sama tiara kenapa jadi begini??


terus Adnan dimana sekarang pah?? "


"entah lah, dia ga ke kantor dari kemarin"


"mamah memang mau punya cucu sayang, tapi ga gini cara nya apa kata orang orang??? "


perlengkapan bayi itu masih ada di ruang tamu,


tak lama yoga meminta pelayan membawa nya ke atas, entah apa yang ia lakukan di kamar..


"ya Tuhan masalah macam apa ini, Adnan tidak. mungkin memberikan begitu saja istri nya kan?? " (pikiran riana entah pergi ke mana ia melamun setelah nya)