Annisa

Annisa
keputusan yang sulit



ibu yang mendengar kabar dari Yuni segera menyusul ke rumah sakit,


ibu menangis melihat keadaan cucu nya


hasil rontgen akan keluar beberapa jam lagi,


"ayo aku antar pulang. biar nanti aku yang mengambil hasil rontgen nya"


Nisa melirik Fanny,


"Yoga kita bisa pakai taksi, kamu antar Fanny aja"


"aku ga mungkin biarin kalian pakai taksi.. biar Fanny ikut dulu ke rumah kamu, nanti baru kita pulang"


Nisa mengangguk,


suasana menjadi kikuk saat mereka akan masuk ke mobil, Fanny dan Nisa bingung siapa yang akan duduk di depan di samping Yoga,


"kamu di depan ya, aku di belakang sama ibu" Nisa mengalah, Fanny merasa tidak enak.. ia melirik Yoga, namun Yoga mengijinkan nya.


Yoga terus melirik Nisa dan Razky,


Razky tertidur, di gendongan mamah nya, Yoga melihat Nisa menangis,


" Nisa kamu ga apa apa? “


" engga, aku khawatir aja takut ada apa apa sama Razky "


"InsyaAllah ga apa apa sayang" ibu mengusap pundak putri nya,


Nisa mengangguk,


mereka telah sampai di halaman rumah Nisa,


"Yoga, ga usah turun, kalian langsung pulang saja,


maaf ya Fan, acara makan siang kalian jadi gagal karna kita"


Yoga yang sudah membuka pintu mobil nya langsung berhenti,


"ga apa apa mbak, Razky lebih penting, iya kan sayang?? " tanya Fanny pada Yoga


Yoga mengangguk,


"makasih ya.. " tanpa basa basi lagi, Nisa keluar mobil, rasa nya tidak ingin berlama lama berasa di satu udara dengan mereka...


"apa aku keterlaluan?? wajah Nisa terlihat begitu sedih, dan aku malah memanas manasi nya dengan kedekatan ku dengan Fanny" Yoga melamun, ia telah sampai lagi di kantor setelah tadi mengantarkan Fanny pulang,


Yoga dilema dengan ide nya sendiri


"gimana kalo Nisa bener bener nutup hati nya buat aku karna masalah ini??


bukan nya cemburu, Nisa malah menjauh dari ku?? "


Yoga sangat pusing memikirkan nya,


entah kenapa ide nya tentang bertunangan dengan Fanny muncul begitu saja, yoga sebenarnya hanya ingin tau reaksi Nisa mendengar itu, tapi apa yang ia lihat, Nisa malah seperti bahagia...


Nisa memandang wajah putra nya, ia menemani Razky tidur,


"mas.. aku rapuh kalo liat anak kita sakit begini, aku mohon datang lah mas, temenin aku di sini" menetes juga air mata nya.


"kenapa semakin hari semakin berat terasa, aku ingin seperti dulu.. apa perasaan itu wajar mas?? “


ibu tak tahan,


ia menangis, ibu hendak. membawakan Nisa teh hangat, kebetulan pintu kamar nya terbuka sedikit ibu mendengar nya berbicara sendiri


" Nisa "


ibu memanggil


"iya bu... masuk aja bu"


ibu tersenyum.


ia menenteng gelas teh nya memasuki kamar Nisa, Nisa bangun dari tiduran nya,


mereka berdua duduk di sofa,


"bu, apa wajar Nisa selalu kangen mas Adnan? "


"biasa nya kalo kita lagi sakit, atau ada masalah, kita selalu kangen orang orang yang udah ga ada Nisa, apa lagi seorang suami, bukan hanya jadi seorang suami, ia juga bisa jadi sahabat buat kita kan?? “


Nisa mengangguk


" Nisa, cerita sama ibu kalau ada sesuatu, jangan di pendam sendiri"


"engga bu, Nisa baik baik aja.. cuma setiap Razky sakit, Nisa ngerasa kalau ada mas Adnan mungkin kita bisa berbagi, kan ga sama antara suami istri sama ibu dan anak kaya Nisa ama ibu"


ibu tersenyum.


"Yoga lusa akan bertunangan bu,


akhirnya dia menemukan pasangan nya"


Nisa terlihat melamun mengatakan nya


"apa? bertunangan? dengan perempuan tadi? “


" namanya Fanny bu"


"apa benar yoga akan bertunangan??" ibu bertanya dalam hati,


"syukur lah kalau begitu,


tinggal kamu Nisa yang harus Moveon"


Nisa tersenyum kecut,


"cinta Nisa cuma buat Razky bu"


matanya menerawang memandang sang putra,


"baiklah, ayo istirahat, minum teh nya, dan tidur ya.. "


ia pergi ke ruang keluarga untuk menelpon Yoga,


"assalamu'alaikum bu"


"waalaikumsalam, Yoga.. "


"iya bu, apa ada sesuatu? "


"bagaimana hasil rontgen Razky?? “


" alhamdulillah semua baik baik saja bu, ga ada yang serius.. "


"alhamdulillah..


Yoga apa benar kamu akan bertunangan? “


" apa Nisa cerita bu? "


" iya, tadi ibu antar teh ke kamar nya,


Nisa sedang menangis"


"ada apa bu, apa Nisa sakit?? “


" engga, awalnya Nisa bilang kalau Razky sakit dia kangen Adnan, dulu kan Adnan yang suka ikut rawat Razky "


"iya bu.. "


"tapi Nisa juga cerita soal kamu mau bertunangan"


"maaf ya bu, entah ide itu muncul tiba tiba saja tadi saat Yoga ngobrol sama Nisa, awal nya Yoga cuma mau tau reaksi nya, tapi Nisa malah senang kelihatan nya"


ibu terdiam,


"tapi ibu melihat kesedihan di mata Nisa mengatakan pertunangan kamu"


"apa Yoga keterlaluan bu?


kebetulan sekali ada kejadian Razky, Yoga juga ga tau kenapa Fanny tiba tiba datang ke rumah sakit"


"entah lah, ibu juga bingung Yoga"..


Nisa sedang bersiap, ia sambil menemani Razky main mobilan nya,


" mama... "


Razky memanggilnya, memberikan satu mobil kecil pada Nisa..


"sayang mamah kerja dulu ya, Razky sama nenek ya"..


HP Nisa berdering, ia menimbang nimbang, ada apa gerangan Tama menelpon nya pagi ini.


" assalamu'alaikum "


"waalaikumsalam, Nisa apa kamu sehat? "


"alhamdulillah pah, Nisa sehat, gimana papah sama mamah? "


"alhamdulillah, nak kami sehat,


Yoga bilang Razky jatuh?? "


Nisa menoleh pada putra nya


"iya pah, kening nya luka, tapi alhamdulillah hasil rontgen ga apa apa"


"syukur lah nak, kami senang mendengar nya, oma kangen sekali sama Razky"


"iya pah.. " Nisa tersenyum


"Nisa.. papah nelpon ada sesuatu yang mau papah tanyakan.. "


"iya pah.. soal apa? "


"sejauh ini, bagaimana di kantor. apa kamu sudah banyak mempelajari soal bisnis? "


“alhamdulillah pah, Nisa sudah terbiasa dengan meeting, laporan keuangan , dan ya yang lain nya"


papah tersenyum.


"apa Yoga mengajari mu dengan baik?? “


" ya alhamdulillah pah, mana mungkin Nisa bisa kalau bukan Yoga yang kasih tau semua"


"syukurlah nak,


jadi begini Nisa, karna kamu sudah banyak tau, dan perusahaan itu milik kamu kini,


papah akan tarik Yoga ke sini lagi"


Nisa diam..


"maksud nya apa pah?? “


" ya tugas Yoga telah selesai ajari kamu, kemaren kan papah utus Yoga ke sana untuk sementara gantiin Adnan sebelum kamu siap ke kantor,


sekarang kami sudah tau segala nya, jadi papah akan tarik Yoga pulang"


"tapi pah, Nisa belum sepenuh nya bisa lepas begitu" nada suara Nisa terdengar cemas


"kamu harus siap Nisa, begitulah bisnis,


rencana nya papah akan kirim Yoga ke Australia, alhamdulillah perusahaan di sana semakin berkembang, papah ga mungkin bolak balik ke sana"


entah lah.. rasa nya Nisa sulit berpikir tentang semua ini,


"baiklah pah, nanti mungkin akan Nisa atur semua, dan persiapkan semua nya"


"kamu wanita tangguh Nisa, papah yakin di bawah kepemimpinan kamu perusahaan akan maju"


"amiiiinnnn pah.. "