
Tamu mereka sampai di depan ruang meeting bersamaan dengan Yoga dan Nisa, Yoga sudah tersenyum pada Jimmy saat ia melihat nya dari jarak cukup jauh.
"selamat datang tuan, bagaimana kabar anda..? “ Yoga menyalami Jimmy yang terlihat sangat fresh hari ini
" aku baik, bagaimana kamu tuan? “
Nisa tersenyum,
ternyata Jimmy bisa bahasa Indonesia lumayan baik. hanya logat nya saja masih kental ke Inggris an nya..
"kami baik tentu nya" jawab Yoga
Jimmy memiringkan kepala mengarah kan mata nya pada Nisa,
"apa ini nona Annisa riani? " tanya nya lucu..
"betul sekali, mari tuan perkenalkan bos baru kita ibu Annisa" Yoga memberi jarak agar Nisa dan Jimmy bersalaman,
"you are very beautiful" Jimmy membawa tangan Nisa untuk ia kecup, Nisa terperangah, ia buru buru menarik nya pelan
"terimakasih tuan" jawab Nisa tersenyum,
Yoga menggaruk belakang Kepala nya yang tak gatal, Dian melihat itu.. ia tersenyum ...
tidak terpikirkan dalam benak Yoga ia harus waspada seperti ini pada client nya,
Yoga melihat Jimmy terus menatap Nisa,
memilihkan bangku untuk Nisa duduki.. Yoga menengahi mereka agar tidak duduk bersebelahan.. Nisa mengikuti saja ia tidak mengerti apa apa..
"jadi, nona Nisa adalan nyonya Adnan?? “
tanya Jimmy
"maaf saya turut berduka walaupun itu telah lama, saya sungguh baru mendengar nya"
"tidak masalah tuan" Nisa tersenyum
pembicaraan berlangsung selama satu jam. Jimmy hanya ingin meyakinkan kabar yang ia dengar dari Tama tentang Adnan, dan ingin mengenal pengganti Adnan,
namun tidak ia duga.. Nisa sangat cantik, ayu, di tambah dengan mengenakan hijab nya ia tampak lebih terlihat mempesona...
"sudah jam makan siang nona, bagaimana jika aku mentelaktir anda makan? “ ucap Jimmy pada Nisa,
" ehmmmm" Yoga mengeraskan suara nya, Nisa melirik nya,
"maaf tuan. putra saya sedang kurang sehat di rumah.. saya berniat pulang setelah pertemuan kita selesai" Nisa beralasan
"owh sayang sekali ya?,
emh... kalau begitu mungkin lain kali saja, karna seperti nya saya akan tinggal lama di sini nona"
"begitu ya??
baiklah tuan tapi saya tidak bisa berjanji"
"tidak masalah nona..
kalau begitu saya akan pamit,
senang bertemu dan bekerja sama dengan nona"
"sama sama tuan... "
Jimmy pamit,
Nisa duduk kembali di kursi nya.. memeriksa pesan di HP nya,
Yoga terlihat senang sekali karena Nisa menolak makan siang dengan Jimmy,
" lihat wajah nya itu? kenapa senyum senyum begitu? " Nisa menggerutu dalam hati
"bukan karna kamu aku tolak ajakan Jimmy Yoga tapi memang aku sulit dekat dengan orang baru,
tapi.. kenapa aku tidak menerima saja ajakan Jimmy tadi ya??
aku mau tau bagaimana Yoga bertindak"
Dian telah selesai membereskan berkas, ia pamit karna akan istirahat
"istirahatlah Dian, aku sepertinya akan pulang, putra ku sedang kurang sehat"
"baik bu.. semoga lekas sembuh untuk tuan kecil Razky" ucap Dian sambil tersenyum
"amiiiinnn. terimakasih"
Yoga ikut bangkit, mereka berjalan menuju ruangan nya, Nisa malah tidak duduk dulu, meraih tas nya ia akan langsung pulang..
yoga mengikuti nya ia meraih kunci mobil di meja,
"apa kita akan makan siang dulu? “ tanya Yoga
" makan siang? kita? emang kamu mau kemana?“
Nisa berbalik menghentikan langkah nya
"aku mau antar kamu pulang, kamu kan ga bawa mobil, tadi dateng sama aku"
"huft....
aku kan bilang tadi aku ga mau bergantung sama kamu"
"Nisa aku sekalian makan siang, anter kamu pulang dulu" Yoga berkilah
"baiklah.. tapi aku ga mau kejadian ini terulang lagi" Nisa meneruskan langkah nya..
"baiklah sayang... " ucap Yoga berbisik
Nisa langsung memegang lengan Yoga karna lift tiba tiba berhenti,
"Yoga kenapa lift nya?? “
"aku juga ga tau Nisa"
lampu lift tiba tiba mati,
dan itu sangat gelap,
"yoga... "
Nisa ketakutan..
"sebentar aku coba telpon Dian atau yang lain nya"..
na'as sinyal HP di dalam lift hilang,
Nisa terasa semakin kencang memegang lengan yoga... Yoga meraih tangan nya..
" tunggu sebentar ya.. sinyal nya hilang"
Nisa tidak menjawab, tubuh nya gemetar saking ketakutan nya.. ia terbayang adegan film film yang mengerikan saat di dalam lift,
"aku takut lift nya ga akan ke buka Yoga"
"kita berdoa semoga segera cepat bekerja lagi lift nya"
Yoga mendengar Nisa menangis...
"Nisa... kamu nangis? “
" aku takut yoga... "
Yoga begitu saja memeluk nya, Nisa pun tidak menolak, yoga terus mencoba menghubungi seseorang.. syukur lah bisa terhubung, dan benny dengan sigap ke ruang teknisi untuk mengecek lift dengan para ahli nya...
"Nisa kamu ga apa apa?? "
tubuh Nisa begitu gemetar Yoga jadi takut,
Nisa hanya menggeleng,
Yoga menenangkan nya, bibir nya menempel di puncak kepala Nisa..
"kenapa lama sekali sih... " Nisa menggerutu,
"sabar ya.. "
Nisa merasa Yoga mengusap kepala nya,
"ya Allah kenapa terasa nyaman? apa karna aku sedang panik?? “
Nisa memberanikan diri mengangkat kepala nya,
walaupun gelap namun dia bisa merasakan Yoga di dekat nya,
jantung nya berdetak kencang, tubuh nya gemetar,.
Nisa hendak menyebut nama Yoga, namun lampu lift menyala, dan mulai bekerja dengan normal..
" huftt syukur lah... " ucap Yoga,
Yoga melihat ke arah Nisa, mata mereka terkunci, Yoga jadi deg degan Nisa memandang nya begitu intens.. ini momen langka untuk nya,
Yoga memberanikan diri mendekat kan wajah nya, Nisa tidak beraksi, ia sempat bimbang,
jika Nisa sadar mungkin saja ia akan mendapatkan tamparan...
cup...
Yoga mendaratkan bibir di kening Nisa,
Nisa malah terpejam..
lift tiba tiba terbuka,
Nisa terkejut, ia mendorong Yoga pelan dan pelukan nya terlepas
Beny dan dua orang teknisi yang ada di depan tersenyum melihat pemandangan tadi,
beberapa orang sudah berkerumun di sana mendengar kabar bos mereka terjebak di dalam lift,
"lama amat sih. ada masalah apa. kamu tau Nisa takut gelap??"
Yoga ngomel.. tanpa berniat mendengar penjelasan Beny ia menuntun tangan Nisa untuk
keluar dari lift menerobos orang orang.
"yoga pelan pelan aku masih lemes"
ucap Nisa ia menarik tangan nya dari genggaman Yoga,
kata kata Nisa sedikit mengandung hal negatif menurut Yoga..
apa yang mereka sangka dengan kata "lemas" yang Nisa ucap kan
Beny terlihat menggaruk kening nya
"apa mau aku gendong? “ tanya Yoga tanpa merasa bersalah.
" apa?? “
Nisa marah.. ia jalan buru buru meninggalkan Yoga,
Yoga tersenyum, orang orang di sana memperhatikan tingkah mereka...