
"tuan, saya datang ke sini ingin meminta maaf atas semua yang anak saya lakukan, (tama memulai percakapan mereka)
saya tau, anak saya sangat keterlaluan, apa yang harus saya lakukan untuk menebus nya? “
ayah terdiam, ibu meremas jari tangan nya di bawah meja, mereka sedang berbicara di kantin..
" yang kami harapkan adalah yoga yang meminta maaf, bukan hanya nisa, kami pun terluka oleh tingkah laku nya"
"akan saya beritahu dia, saya tidak menyangka akan begini, kemarin saat mendengar nisa ditemukan tak bernyawa, saya kita sudah di situ akhir yoga"
"anda tau soal itu? (tanya Rendy) lalu anda diam saja tuan?, tidak ada kata maaf yang terucap dari yoga saat pertama kali kejadian itu"
tama diam,
"dan anda tau?? pemerkosaan, yang berakhir dengan kematian, anda pikir kami tidak berduka saat itu?? " (Rendy sengaja menjabarkan semua nya, ia pikir orang tua yoga tidak tau semua nya)
"lalu anda diam saja?? tidak memberikan anak kebanggaan anda pelajaran, lihat kini dia berulah lagi, "
HP tama berdering, riana menelpon dari ruang rawat nisa,
"pah cepat kesini penting (nada bicara nya cemas)
" maaf, istri saya menelpon, ada sesuatu di kamar rawat nisa"
Rendy, langsung bangkit, ia meninggalkan ibu dan ayah nya, tidak boleh ada sesuatu lagi pikir nya,
tama membuntuti nya, di susul oleh ibu dan ayah,
"tidak ada penolakan nisa, dia anak ku, aku janji kita akan bahagia" (yoga bersikeras ingin membawa nisa pulang, riana bingung, ternyata seperti ini yoga menghadapi nisa, riana melihat nisa menangis, ia tak tega)
tama dan Rendy datang,
"pah... " (riana mendekat pada suami nya)
"ada apa yoga?"
"pah, yoga sudah membereskan administrasi, yoga akan membawa nisa pulang ke rumah papah, dia akan di rawat di sana"
mendengar itu Rendy maju, mencengkram kerah baju yoga,
ayah dan ibu terkejut melihat itu, mereka baru datang tidak mengerti,
"berengsek, lo pikir lo siapa, se enak nya bawa anak orang pergi, dia adek gue, kami lebih berhak"
bughhh, satu kepalan tangan mendarat di pipi yoga,
nisa tersentak ia kaget,
"abanggg, (ibu berteriak)
" pahhh" (riana mengguncang tangan suami nya)
Rendy mencengkram lagi kerah baju yoga
"lo tuh lebih mirip binatang, ga punya perasaan, lo tau, orang tua lo datang untuk meminta maaf pada kami, sedangkan lo selalu buat ulah"
razky menangis, nisa menunduk menatap putra nya,
semua perhatian teralihkan pada bayi tampan itu,
"please stop" ( kata nisa) Rendy melepaskan tangan nya, nisa memberikan sufor pada anak nya, ia terdiam tidak ada kata lagi yang terucap, semua pun diam, ibu menangis, nisa seperti prustasi tatapan matanya kosong, tubuh nya berayun menenangkan anak nya,
riana meminta tama untuk keluar,
semua keluar, memberi ruang untuk nisa,
"masss datang lah, aku mohon, aku sangat membutuhkan mu, bawa aku pergi dari sini sejauh mungkin, aku ga sanggup menghadapi ini sendiri"
wajah nya boleh saja datar, namun air mata menetes disana, nisa bisa gila dengan semua ini,
"yoga pikirkan lagi apa yang kamu bilang, nisa butuh keluarga nya di sini" (mamah ikut emosi)
"keputusan yoga sudah bulat mah"
riana menatap arum yang sedang menangis dipelukan suami nya, ia mendekat
menangkupkan tangan di depan dadanya,
"ibu, ijinkan kami membawa nisa pulang"
arum kaget, riana memihak pada putaran nya
"apa? apa anda bukan wanita? dimana hati anda nyonya, anda pernah melahirkan bukan?? anda punya anak bukan?? ya anda punya segala nya, namun ternyata anda tidak punya hati"
"ibu... demi Allah, saya bersumpah saya sendiri yang akan merawat nisa dan cucu saya, anggap lah ini sebagai permohonan maaf kami, akan aku anggap nisa sebagai anak ku sendiri"
"aku ibu nya, kenapa kalian tega memisakhan aku dengan anak ku lagi, kami baru saja bahagia dengan kepulangan nisa, apa kalian pikir kami tidak mampu membesarkan cucu kami?? "
riana semakin mendekat, ia memeluk arum,
"tolonglah, aku janji akan membawa Adnan kembali bersama nisa, pegang janjiku, " (riana berbisik di telinga arum, arum diam, benarkah yang riana katakan?? harus kah ia percaya??)
riana melepaskan pelukan nya, mereka saling tatap, mata riana pun berlinang,
"kalian bisa datang kapan pun kalian mau, kami pun menyayangi nisa, kami tidak akan hanya menyayangi cucu kami, percaya lah pintu rumah kami terbuka lebar untuk kalian" (riana menatap lekat mata arum, seolah ia berkata nisa akan baik baik saja, riana mengangguk meyakinkan nya,
arum membuang pandangan nya, ini tidak mudah, ia harus kehilangan lagi nisa, tapi riana menjanjikan Adnan kembali, berarti dia tau sesuatu)