Annisa

Annisa
patah hati 2



Nisa masih di sana, memandang makam sang suami yang sudah selesai di rapih kan,


matahari mulai naik menghangatkan bumi, tapi tidak dengan hati Nisa saat ini, foto sang suami yang di bingkai cukup besar itu masih ia peluk, belum rela rasa nya menyimpan nya di atas pusara,


seseorang hadir di sebrang nya Nisa melirik nya,


yoga berjongkok menyiramkan air dari doa yasin se malam, lalu ia menyimpan buket bunga kecil di atas pusara om nya,


bagaimana pun yoga merasa sedih, ia cukup dekat dulu dengan om nya apa lagi se waktu remaja.


"kamu senang Adnan pergi? “ Nisa berucap


yoga tau Nisa berbicara pada nya, karna kini hanya dia yang dekat jarak nya dengan Nisa, yoga menoleh..


"aku sudah berdamai dengan kehidupan ku Nisa, aku juga merasa sedih om berpulang, aku mencoba merelakan kamu dengan om Adnan, jadi jangan berpikir aku senang dengan kepergian nya, bagaimana pun aku kenal om ku sebelum kamu mengenal nya"


Nisa bangkit dari duduk nya,


"Adnan pun sudah melupakan masalah itu, tapi ingat yoga aku masih ada, aku bahkan yang mengobati luka di perut nya sampai ia sembuh"...


yoga pun bangkit, mereka berhadapan.


" aku ga minta kamu memaafkan aku Nisa, tapi setidak nya aku sudah minta maaf atas segala yang aku perbuat"


"bagaimana pun telah mencabut paku yang kamu tancapkan, bekas nya akan selalu ada"


yoga menunduk, ia menenangkan hati nya, berhadapan begini dengan Nisa bukan hal yang mudah, mulut nya bisa ia ucap sudah melupakan Nisa, tapi hati nya tidak bisa berbohong..


Nisa pergi meninggalkan yoga, Rendy dan keluarga yoga menunggu nya, yoga menerima semua yang Nisa katakan memang begitu kenyataan nya. ia menggoreskan luka begitu dalam di hati nya,


yoga ikut pulang ke rumah Nisa ia rindu putra nya selama ini Adnan lah yang diam diam mengirimkan foto Razky pada nya,


tampak canggung terlihat, yoga kesulitan menggendong putra nya yang sudah semakin besar


"kamu gimana sih. mamah ngeri liat nya, yang bener dong"


Riana terus mengomentari yoga,


"ya yoga kan ga biasa mah"


"coba duduk deh,


kalo anak kecil tuh tau, kita yg gendong posisi ga nyaman dia akan rewel"


yoga menurut, ia duduk, Riana memberikan lagi Razky pada nya,..


Razky tampak anteng di gendong sang papa, Nisa memperhatikan itu dari jauh,


begitu banyak pelayat yang masih datang, untung lah ada Tama yang sama sama mengenal mereka,


Nisa pergi ke kamar nya, yoga memperhatikan nya, "mah, apa Nisa ijinin kalo kita bawa Razky pulang? “


" yoga.. dimana pikiran kamu,


Nisa baru kehilangan suami nya, sekarang anak nya mau kamu bawa?? “


"Razky juga anak yoga mah, bukan anak Nisa aja"


"ya tapi jangan sekarang lah yoga kamu ngerti dong" ucap Riana memelas...


Tama, Rendy, dan ayah


sedang berbincang dengan beberapa rekan nya, slah satu dari mereka adalah kuasa hukum Adnan,


rekaman CCTV memperlihatkan sebuah mobil melaju cukup kencang dari arah belakang mobil Adnan, mobil seperti tidak me'ngerem sedikit pun, hingga ia menabrak mobil Adnan yang ada di depan nya, mobil Adnan terdorong, naas di depan nya ada mobil box yang sedang dalam kecepatan rendah. hingga mobil Adnan membentur belakang mobil box tersebut,


Adnan di kabarkan meninggal di lokasi,


saat Nisa mengirimkan pesan pada suami nya, evakuasi sedang di lakukan dan Adnan dalam perjalanan ke rumah sakit.


" dia juga mendapatkan luka cukup parah tuan. masih di rumah sakit, dan kabarnya kritis, polisi tidak menemukan tanda² orang itu mabuk atau dalam pengaruh obat, dugaan sementara rem nya memang blong dan mobil tidak bisa di kuasai"


mereka beberapa waktu terdiam,


"tuan, entah apa yang tuan Adnan rasakan, dia mendatangi saya sebelum pergi ke rumah tuan" ucap pengacara pada Tama


"apa yang dia katakan? “


sang pengacara melirik Rendy dan ayah Nisa


" almarhum bilang, bahwa jika ia meninggal, semua aset yang dia punya akan berpindah tangan pada istri nya Annisa riani,


itu sangat kebetulan bukan? “


"Adnan merencanakan semua nya dengan apik, ia sangat menyanyangi Nisa,


nanti kita urus semua nya, semua berkas di rumah, akan aku berikan semua data yang kamu perlukan" ucap Tama dengan senang hati


ayah terdiam, ia bukan senang mendengar nya,


bisa di pastikan bahwa Nisa pun tidak mengharapkan ini,


ibu hendak pergi melihat Nisa di kamar nya, ketika ia melintasi ruang tamu, ibu melihat yoga tertidur di kursi, Razky masih dalam gendongan nya juga nyenyak tertidur memeluk papah nya, cucu nya itu terlihat begitu nyaman dalam gendongan sejenis kangguru itu,


"ya, bagaimana pun yoga papah nya, mereka pasti punya ikatan batin yang kuat"


Riana mendekat pada ibu,


ia hendak pamit Riana, Tama dan juga yoga harus kembali, mungin nanti akan datang lagi berkunjung,


Riana melihat nya juga pemandangan yang ibu Nisa lihat


"MasyaAllah, bukan kah itu terlihat manis" Riana bergumam dalam hati nya, bibir nya tersenyum.


'bu... " sapa Riana,


"ya... "


"aduh saya tadi nya mau pamit, tapi yoga malah tidur"


ibu tersenyum,


"tunggulah sebentar lagi, kalau yoga di bangunkan, Razky pun akan bangun, dia nyenyak sekali kelihatan nya"


"iya bu, saya ga tega"


"mohon maaf ya bu Riana, keadaan nya seperti ini, kedatangan ibu tidak bisa kami jamu"


"ini bukan waktu nya menjamu bu, semua sedang berduka, saya ga permasalahkan hal itu,


kita di Terima datang di keluarga ini juga sudah bersyukur, tadi nya saya ragu, takut nya Nisa ga memperbolehkan kami datang"


"lupakan lah semua nya bu Riana,


saya rasa Adnan, ataupun Nisa sudah melupakan nya juga"


Riana mengangguk,


"kami kan pihak yang bersalah bu, jadi kami lebih cemas"


ibu tersenyum,


Riana, Tama, maupun yoga adalah orang orang baik, mungkin saat itu memang situasi yang sedang tidak baik..


.