
Nisa meminta pelayanan mengganti sprai di kamar nya, ada jejak yoga di sana,
razky belum kembali dari tadi, entah bersama siapa putra nya itu,
"biarlah mereka keluarga nya, punya hak juga atas razky" (nisa bergumam dalam hati)
dua puluh menit berlalu, namun razky belum datang juga, nisa jadi khawatir, di mana putra nya itu?,
nisa keluar kamar, ini baru pertama kali ia lakukan, nisa bingung harus kemana, namun ia melihat satu pintu terbuka, nisa mencoba mendekat,
ada suara beberapa orang sedang berbicara, nisa berniat akan pergi,. namun ia mendengar yoga mengatakan sesuatu,
"yoga akan menikahi nisa pah"
deg, nisa menghentikan langkah nya, apa yang tadi ia dengar itu??
takut takut ia salah, nisa bersandar di dinding, melanjutkan pendengaran nya
"yoga, hentikan semua ini, nisa tidak. menyukai mu, apa kamu tidak bisa. melihat itu?? (kini suara tama yang nisa dengar)
" kenapa kalian semua tidak memihak ku? yoga akan membawa nisa dan razky pergi, yoga tidak mendapat dukungan di sini, yoga akan menikahi nisa, titik"
nisa, terkejut,
tidak, itu tidak boleh terjadi, nisa berbalik, ia kembali ke kamar nya,, menutup pintu kamar, ia menangis, adnan tidak kembali, dan yoga akan menikahi nya, apa apa an itu, itu adalah hal paling nisa Hindari, jagan kan menikah, menatap nya saja nisa tidak mau,
nisa melihat pisau di atas piring buah, seketika ia berpikir, ia akan mengakhiri hidup nya, nisa sudah tidak tau harus melakukan apa, ia lebih baik mati dari pada harus menikah dengan yoga..
meraih pisau itu dengan tangan kanan nya, nisa. membawa nya ke balkon, duduk di sofa,
ia membulatkan tekad,
"ibu, ayah, bang Rendy, maafin nisa, nisa ga sanggup, nisa hanya memberi beban untuk kalian, maaf.... "
sretttt, nisa memotong urat nadi pergelangan tangan nya, wajah nya sangat tenang melakukan itu, seolah tidak merasakan sakit, kepala nya tiba tiba serasa berputar, penglihatan nya mulai kabur, nisa melihat adnan di pelupuk mata nya
"masss" (nisa berbisik)
ia ambruk tidak sadarkan diri,
**
"om, gio sudah pulang, itu mobil nya"
(cindy menunjuk mobil suami nya yang terparkir di depan)
"lalu bagaimana? (tanya adnan)
" akan cindy hadapi, cindy sudah sakit hati"
"ayo, om akan menunggu di depan pintu"
cindy mengangguk,
mereka berjalan sedikit cepat,
cindy sudah berada di depan apartemen nya,
gio tidak ada di ruang tv,
seperti nya ia di kamar, cindy meminta pelayan nya untuk pergi, ia meminta nya membeli sesuatu,
gio ada di kamar, cindy membawa anak anak dan koper nya ke luar,..
adnan menerima nya,
cindy berjalan menuju kamar, ia melihat gio sedang tertidur, cindy tersenyum,
"lelahkah setelah bermain semalaman?? " cindy bergumam pelan,
cindy mengangkat pistol nya,
dor,
satu tembakan melesat di kepala suami nya, seketika gio mati, cindy meneteskan air mata,
ia tidak perduli akan hukuman yang ada di depan mata karna perbuatan nya,
cindy membersihkan pistol, menyimpan nya di tangan gio, seolah gio yang melakukan nya sendiri,
adnan terkejut mendengar itu, ia takut cindy terluka, namun tak lama kemudian cindy keluar sambil menangis, ia mengunci pintu, dan mengajak adnan untuk segera pergi dengan anak anak nya,
***
seorang pelayan melintas di teras belakang, ia melihat darah se tetes di lantai, berjongkok ia ingin memastikan lagi bahwa benar itu darah, padahal belum lama ia mengepel lantai, mungkin baru saja kering, tapi tadi tidak ada darah pikir jua,
"darah apa ini? hanya setetes, siapa yang terluka?? tanya nya pada diri sendiri, ia hendak bangun, bermaksud membawa lap pel lagi, namun darah menetes lagi, ia mendongkakkan kepala, itu dari atas,
ia mengingat nya, posisi bangunan di atas nya adalah kamar nona nisa dan razky
" astaghfirullah, si pelayan mengingat sesuatu, ia berlari ke dalam, mencari nyonya besar nya
"ibu... ibu... (ia setengah berteriak, riana yang sedang menggendong razky heran)
" ada apa bi?? “
"itu di atas, non nisa, darah.... "
"darah, darah apa? kamu ga jelas gitu kalo. ngomong"
"itu bu, ada darah netes di luar, dari kamar non nisa "
riana seketika melotot
"nisa??? " (tanya nya pada pelayan)
"iya bu"
"pegang razky" (riana memberikan cucu nya pada pelayan, ia se bisa mungkin cepat menuju kamar nisa sambil berteriak
"yoga... papah..... "
yoga mendengar itu, mereka keluar dari ruang kerja tama
"nisa.... " (riana ter engah, , tidak melanjutkan lagi ucapan nya, ia langsung menuju kamar nisa, tama dan yoga mengikuti nya)
menuju balkon, riana terpaku, kaki nya langsung lemas, ia terduduk...
"nisa..... (lirih, riana memanggil wanita ibu dari anak nya itu)
yoga datang,
" nisaaaa" (ia meraih tubuh nisa, yoga memeluk nya, darah sudah menggenang di lantai, wajah nisa sudah pucat, tubuh nya dingin, yoga membawa ny dalam dekapan, untuk pertama kali nya nisa tidak menolak ia peluk, namun dalam keadaan begini, yoga menangis, tama mengusap wajah ny kasar,
riana bersandar pada pintu, ia lemas, tangisan nya semakin kuat,,
"pah nisa masih hidup, denyut nadi nya masih ada (ucap yoga)
" ayo kita bawa ke RS yoga" (tama langsung menuju ke bawah, ia menyiapkan mobil, yoga mengangkat tubuh nisa yang tarasa sangat ringan, yoga menangis memeluk nisa, mereka dalam perjalanan ke rs....