
Nisa bangun dari tidur nya, mimpi nya sangat aneh, "mass (nisa menangis)" nisa melihat yoga tidur di sofa, nisa ingin pergi, ia mencabut selang infus di tangan nya,
"awhhh, shhh, (nisa meringis, ada darah yang menetes, ia menutupi nya dengan tangan..)
pelan, nisa turun dari tempat tidur, ia tidak mau yoga bangun,
"nak kamu dimana? ayo kita pergi dari sini" (nisa berbicara pada diri nya sendiri ia masih takut melangkah, luka cesar nya terasa ngilu namun ia ingin membawa serta anak nya)
"Annisa.. (suara tegas itu menghentikan gerak nya, yoga mendekat, berdiri di depan nisa, yoga menyentuh kening nisa mengecek suhu tubuh nya, dia masih demam)
" kamu mau kemana?"
nisa tau, selama ini dia keras pada yoga, mungkin harus sedikit melunak agar yoga pun mau mendengarkan nya,
"yoga please, beritau aku dimana mas Adnan, aku membutuhkan nya (nisa memelas) "
"dia sudah mati nisa"
nisa tersenyum,
"jangan becanda yoga itu ga lucu"
"kamu pikir aku suka becanda?? "
nisa langsung terdiam, dengan sisa tenaga nya ia menarik baju yoga,
"dimana suami ku?? jangan macam macam"
"kamu tidak berubah nisa, ini yang aku suka dari kamu, sifat mu yang membuat aku tertantang"
"jangan mengalihkan pembicaraan, dimana mas Adnan" (nisa mengguncang tubuh yoga,)
"kamu perlu bukti?, kamu yakin kamu kuat melihat kondisi Adnan?"
"apa yang terjadi?? " (tanya nisa)
"Adnan menembak salah satu anak buah ku, dan ia dapat balasan nya“
" bohong"
yoga melepaskan tangan nisa yang ada di baju nya, ia meraih HP di meja
memperlihatkan foto trakhir Adnan yang terbaring di RS Adnan tidak sadarkan diri dalam tubuh nya begitu banyak alat terpasang, ada perban besar di perut kanan Adnan,
tubuh nisa semakin lemas,
ia bahkan hampir jatuh jika yoga tidak membantu nya,
"Adnan sudah mati nisa"
"bohong" (nisa membentak yoga)
kamu pembunuh yoga, jika benar mas Adnan mati, jangan harap aku akan bertahan"
"apa artinya dia buat kamu, ada aku di sini nisa, aku ayah dari anak kita"
"nisa dengerin aku" ( yoga menggenggam pergelangan tangan nisa)
aku sayang sama kamu, kita akan hidup bersama, bahagia selama nya"
"demi Allah, aku ga sudi, lepasin aku yoga, kamu akan menyesal melakukan ini sama aku",
nisa merosot, tubuhnya serasa tak bertulang, sakit di tubuh nya tidak sebanding sakit di hati nya,
yoga menggendong nya merebahkan nisa di tempat tidur, nisa menolak, namun tenaga nya kalah, nisa terus menangis, yoga meninggalkan nya,.
nisa melihat yoga meninggalkan HP nya di atas meja dekat tempat tidur, nisa mencoba meraih nya,
ia akan mengirim foto Adnan ke HP nya di rumah, nisa harus cepat, ia hafal no HP nya,
dan ternyata yoga menyimpan nya dengan nama "sayang" nisa melengos melihat itu,
ia menelpon HP nya, semoga ada yang menemukan nya
"bang, ibu, ini nisa, jangan balas pesan ini, ini no HP yoga"
(terkirim ) syukurlah, nisa menghapus semua pesan, dan riwayat panggilan nya, ia cepat menyimpan kembali HP yoga di atas meja,
nisa berbaring lagi,
Rendy, ayah dan ibu berkumpul di ruang tamu, TV tidak menyala, namun mereka juga tidak saling bicara, semua bergelut dengan pikiran masing masing,
ibu sedang melihat galeri di HP nisa, banyak foto dengan beberapa orang yang tak ibu kenal,
"apa mungkin ini bu Ratih dan keluarga nya? (pikir ibu) aku harus memberitahu nya, kalo nisa sudah melahirkan"
ibu meraih HP nya, hendak mengirim kan foto bayi yang sempat ia ambil diam diam di ruangan perawatan tadi,..
HP nisa berdering, telpon dari no baru,
Rendy dan ayah langsung menoleh, mereka mendekati ibu yang terlihat syok, ibu membuka pesan singkat yang nisa kirim menggunakan no HP yoga, ibu langsung menangis
"astagfirullah, adnannnn"
terpampang foto Adnan dalam perawatan,
Rendy merebut HP yang ada pada ibu nya,
ia terkejut, "brengsek" Rendy memaki namun ia berpusat pada lingkaran di ujung foto,
nisa sengaja menandai nya,
tertulis jelas keterangan di sana kata Australia, dan tanggal hari ini
"Australia?? apa Adnan di sana??"
Rendy bangkit, ia menelpon herry, mengirimkan foto Adnan, mereka janji bertemu sekarang juga
"ayah, bagaiman kondisi nisa melihat itu?? ya Allah nisa"