
dokter akhirnya datang untuk mengecek ulang keadaan Nisa,
"ibu Nisa, ibu ga usah di rawat, tapi ibu harus cek up ya, saya resep kan obat untuk 3hari kedepan.. kalau ada keluhan serius setelah minum obat tolong langsung hubungi kami ya"
"baik dok, makasih banyak ya. ? “
" sama sama ibu, saya permisi ya"
Riana dan ibu tampak senang mendengar itu,
namun Yoga tidak berkomentar, ia memperhatikan Nisa dari sofa, ibu membantu nya bersiap,
"Yoga, " Riana memanggil putra nya, membawa nya ke luar ruangan,
"Yoga kamu jangan gini lah sama Nisa, kamu tau Nisa ga bisa tertekan, kalo kamu begini bisa bisa dia merubah lagi pikiran nya sama kamu gimana coba? “
Yoga menunduk,
" mah dari pagi yoga udah mau bawa Nisa ke dokter, dia malah ga mau, dia malah sempet ikut meeting"
"Yoga, kamu harus lebih Sabar, pelan pelan bicara nya jangan marah begini, kamu tau ga kalo. kamu marah. muka kamu nyebelin banget" Riana sangat jujur, karna itu untuk kebaikan putra nya juga
Yoga mengangguk,
mereka masuk lagi ke ruangan, Nisa sudah siap,
"apa administrasi nya sudah selesai? “ tanya Nisa
" udah sayang, beny udah beresin semua nya" yoga tersenyum, Nisa malah curiga dengan sikap nya yang langsung berubah begitu..
"ayo. kita pulang.. "
"aku gendong ya? “ Yoga sudah mendekat.. namun Nisa langsung panik
" Yoga aku bisa jalan.. atau lebih baik pake kursi roda aja" Nisa tentu malu, ini di depan orang tua mereka, belum tadi saat di kantor.. karyawan mereka pasti tau semua.
Yoga mengalah Nisa akhirnya jalan kaki dengan keluarganya,
Riana dan Tama kembali ke rumah Nisa, meneruskan maksud dan tujuan kedatangan mereka.
ayah sudah lebih dulu sampai rumah. karna ibu memberi kabar Nisa akan pulang,
ayah menyambut semua keluarga yang datang, Razky tampak anteng di gendong sang omah,
ayah memeluk putri nya,
"lambung bukan hanya pola makan yang kurang baik, tapi stres juga bisa memicu, apa yang kamu pikiran nak? apa kamu ingin cepat menikah?? “ ayah menggoda putri nya,
Tama dan Riana tertawa mendengar itu
" ayah, Nisa malu"
bang Rendy akhirnya datang, ia menuju rumah langsung setelah ibu mengabari bahwa keluarga Yoga telah datang,
semua berkumpul di ruang tamu,
bi yuni menyajikan makanan ringan juga cemilan.
"bu Riana.. lain kali kalau mau datang bilang dulu, jadi saya punya persiapan, kan malu nyuguhin seadanya begini sama calon besan"
Riana tertawa,
"itu tujuan saya bu, biar ibu ga repot repot"
mereka semua tertawa,
"sehubungan semua pihak keluarga inti telah datang, kita mulai saja ya" ucap Tama
Yoga terlihat gelisah, ia melirik Nisa beberapa kali,
"pak Rian, langsung saja pada inti nya ya..
kedatangan saya dan istri ke mari berniat ingin melamar putri bapak, Annisa riyani untuk putra Kami Yoga,
apakah bapak dan keluarga berkenan menerima putra Kami sebagai menantu di keluarga bapak kelak"..
ibu melirik suami nya, ayah tersenyum,
" kami sangat senang, dan menerima kedatangan bapak ibu Tama, tapi sebelum nya, saya hanya ingin menyampaikan,
beginilah kondisi kami, kami orang yang sederhana, mungkin jauh di katakan dengan keluarga pa'Tama..
dan juga saya ingin menyampaikan,
inilah Nisa putri semata wayang kami ke adaan nya, ia pernah menikah sebelum nya,
tentu untuk membahas masalah lama tidak usah lah ya? "
"ya karna kami pun sudah tau Yoga.. jadi tinggal kita tanyakan saja pada yang bersangkutan ya. "
Nisa melirik ke sana kenari,, semua mata tertuju pada nya, ia tersenyum kikuk
"ayo mah silahkan mamah yang tanya" Tama mempersilahkan istri nya untuk bertanya pada Nisa,
"ya Allah, kenapa jadi menegangkan seperti ini" Nisa bergumam dalam hati.
"Nisa sayang......
seperti yang sudah Nisa dengar tadi, kami mau bertanya, apa kah Nisa mau menerima Yoga jadi calon suami?? “ Riana tersenyum lembut pada calon menantu nya itu..
Nisa menarik nafas dalam dalam... ia menatap Yoga yang juga terlihat tegang..
Nisa tersenyum,
"ya mah, Nisa Terima Yoga jadi calon suami Nisa "
"alhamdulillah" seketika semua sama sama mengucap syukur,
"Nisa sudah tau kan bagaimana sikap dan sifat Yoga?? “ tanya Riana lagi..
" Nisa sudah cukup tau mah"
semua yang hadir, saling lempar senyum.
"lalu apa lagi, mari kita tentukan tanggal pernikahan nya" Riana begitu bersemangat, ia mengeluarkan amplop coklat berukuran sedang dari tas nya yang berisi foto prewedding Nisa dan Yoga, ibu dan ayah melihat nya.. bang Rendy pun nampak tidak sabar menunggu giliran..
di sela kerusuhan keluarganya
Yoga tersenyum pada Nisa, raut wajah cemas nya hilang, kini terlihat senyum di wajah Yoga begitu lepas..
keluarga sepakat acara akan di langsungkan 2minggu lagi dari hari ini.. Riana menyanggupi semua keperluan mulai dari persiapan undangan dan apa pun yang keluarga Nisa pinta..
setelah acara makan siang bersama yang kesiangan, sambil menyematkan cincin tanda keseriusan Yoga pada Nisa,
Riana dan Tama pamit, mereka akan menginap beberapa hari di rumah Yoga,
Yoga sendiri akan kembali ke kantor, ada berkas berkas yang harus ia tandatangani mewakili Nisa di kantor.
Nisa sebetulnya masih lemah karna efek dari lambung nya, namun rasa bahagia nya menutupi semua itu.
"istirahat ya sayang, aku terusin kerja dulu"
Nisa menerima pesan dari Yoga, dengan otomatis bibir nya tersenyum,
"maaf ya, aku jadi bolos hari ini" jawab Nisa
"it's okay sayang, aku terbiasa kerja sendiri"
***
duduk di ayunan bersama putra nya, Razky sangat suka, ia tidak pernah takut walau ayunan bergoyang sedikit kencang,
"sayang, kenapa semakin hari kamu terlihat mirip Papa mu? "
Nisa menyapu rambut razky dengan jari nya, tanpa ia sadari Yoga berdiri di pintu memperhatikan mereka,
"pa.. "
razky berceloteh, tangan mungil nya menggenggam rantai ayunan, ia berdiri dengan pinggang yang di pegang erat oleh Nisa
tangan razky menunjuk ke arah Papa nya. Nisa yang belum fokus pada Yoga terus menggoda putra nya,
Yoga melambaikan tangan pada razky seketika razki salah tingkah, ia ingin turun dari ayunan dan Nisa sedikit kewalahan,
"sayang, pelan... pelan... "
mendapat ucapan itu dari sang Mama, razky malah menangis.. ia ingin cepat datang pada Papa nya,
"razky denger mamah nak, noo noo noo" Nisa menggendong nya, meraih mainan untuk menenangkan Razky, Razky terus saja menoleh pada sang Papa
"ada apa sih nak? “ Nisa mengikuti gerakan tubuh putra nya, Yoga tersenyum saat tatapan mata nya bertemu dengan Nisa
" hmmm pantes aja anak nya ngamuk" ucap Nisa
"sini sayang gendong sama Papa"
"udah cuci tangan belom? kamu dari luar gendong Razky"
"udah sayang, ku tau peraturan kamu" Yoga tersenyum,
"aku di suruh Mama bawa sempel undangan untuk pernikahan kita, ibu di dalam lagi liat liat.
siapa tau ada yg cocok, biar bisa di pesan langsung, Mama sungguh tidak sabaran"