Annisa

Annisa
pertanyaan sulit



Yoga melamun.


memejamkan mata, kedua jari nya ia kepalkan, bertumpu pada meja.


mengetuk ngetukan kepalan tangan ke bibir nya...


"Nisa..


gimana kalo aku hilang kendali tadi?


apa yang akan terjadi?,..


aku mendengar kamu mendapat undangan dari Jimmy, aku tentu curiga, aku tau Jimmy playboy,


lalu bagaimana jika aku tidak mengikuti mu tadi???


huffffttt.


yoga menyandarkan kepala nya di kursi,.


ia masih lemas, namun pikiran nya kalut tau Nisa dan Jimmy memiliki janji..


Yoga berbaring di sofa ruang kerja nya,


menyelimuti lagi tubuh nya rasa dingin itu datang lagi, ia menggigil..


bagaimana ia berusaha memejamkan mata Yoga tidak bisa tidur.. badan nya sungguh terasa sakit semua...


"hallo ben.. antar aku ke rumah sakit, aku merasa aneh dengan tubuh ku.. "


Beny melirik jam. ini jam 2malam..


"siap bos.. saya datang"


"aku di ruang kerja. "


"baik"..


Hanya Beny yang bisa ia andalkan kini,


beny masuk ke ruang kerja, melihat tuan nya tenggelam dalam selimut...


" bos... "


"ben dingin sekali bagaimana aku keluar dari selimut ini..? “


" bawa saja selimut nya bos,, bos bisa tidur di mobil sementara... "


"Pakaikan aku kaos kaki Ben" pinta Yoga


Beny melakukan nya, kaki bos nya memang terasa begitu dingin.


"maaf mengganggu mu tengah malam begini. kamu pasti bakal di marahi istri mu"


"hee. tenang saja bos, istri ku tau kamu menelepon"


mereka akhirnya pergi, Beny bertanya tentang Nisa, Yoga tidak mau mengganggu nya..


Nisa terbangun.. melihat jam dinding di kamar Yoga sudah pukul 04:45


Nisa tidur cukup nyenyak rupa nya..


ia bangun, membersihkan diri,.


"Yoga tidur di mana ya? “ Nisa bergumam.. di rumah ini pasti ada beberapa kamar,


Nisa keluar, ia akan meminjam mukena pada pekerja Yoga,


" nona sudah bangun? “


wanita yang nampak masih muda itu tersenyum menyapa Nisa,


"iya.. maaf boleh aku pinjem mukena? "


"ah iya nona, tapi apa tidak apa apa nona pakai punya saya? “


" memang kenapa? " tanya Nisa tersenyum.


"saya pekerja di sini nyonya"


Nisa mengerti,


"itu ga akan jadi masalah mba"


wanita bernama Rahmi itu tersenyum.


"baik nona. saya ambilkan"


Nisa menunggu.. rumah ini tampak sepi, Yoga pun sepertinya belum bangun..


"nona ini.. " Rahmi memberikan mukena nya..


"nona maaf, tuan Beny tadi berpesan.. pak Yoga ternyata harus di rawat, tekanan darah nya sangat rendah "


"apa? Yoga di rawat?


bukan nya dia semalam ada di sini? “


" tadi jam 2malam tuan menggigil lagi, memang sebelum nya sedang sakit kan nona"


"ok.. aku sholat dulu..


di Rumah sakit mana? "


"di rumah sakit xx nona.. "


"baiklah, Terima kasih"


Nisa sungguh tak bisa berkonsentrasi,


Yoga memang sedang sakit, dan dia menjemput nya semalam..


"ya Allah.. lindungi Yoga"


terselip doa begitu saja dari bibir Nisa.. entah mengapa ia jadi khawatir..


Nisa mencoba menghubungi Beny namun no nya tidak aktif.. no HP Yoga pun demikian..


Nisa di antar sopir Yoga dari rumah menuju rumah sakit,


"nona.. ruang VVIP anggrek no 17“


" terimakasih pak"


Nisa setengah berlari menuju ruangan, ia harus naik lift menuju lantai 5 rumah sakit itu.


keluar dari lift ia merasa lega karna melihat Beny di sana


"ben... "


Beny langsung berdiri melihat Nisa datang


"gimana Yoga? “


"bapak sedang tidur. tubuh nya menggigil se malam, bapak minta di bawa ke rumah sakit"


"kenapa ga bangunin aku?? “ Nisa marah


" ini permintaan bapak bu"


"aku mau masuk... " ucap Nisa memaksa..


"silahkan.. " Beny membukakan pintu..


iya, Yoga sedang tidur,


Nisa tidak mau mengganggu nya.


namun gerakan Nisa membuat Yoga bangun,


"maaf, aku ganggu ya? “ Nisa merasa bersalah,


Yoga malah tersenyum,


" kamu di sini? “


"kamu bikin aku hawatir, kenapa ga bangunin aku? “


" apa kamu peduli aku sakit?? “


"yoga... jangan begitu... "


Beny mengetuk pintu..


ia membawa sarapan untuk bos nya,


"bu Annisa, bapak belum sarapan"


"sini, biar sama aku.. " Nisa bangun meraih nampan di tangan Beny,


"ayo Yoga kamu harus makan"


Beny tersenyum penuh arti pada bos nya.. Yoga melihat itu. ia begitu senang melihat perubahan sikap Nisa pada bos nya..


"Ben pulang lah. ini sudah siang, banyak suster yang bisa aku mintai tolong" ucap Yoga


"kenapa suster ? ada aku yang temenin..


kamu dari malam kan Ben? pulang dan istirahatlah"


Yoga meng iya kan ucapan Nisa..


sambil memberi waktu untuk kedua bos nya itu semakin dekat. Beny pamit undur diri..


"ayo Yoga makan"


Nisa menyendok bubur di mangkuk,


Yoga menerima nya..


"harus habis ya?


aku juga telpon ibu tadi waktu perjalanan ke sini, Razky pun sudah mau makan lagi"


Yoga menarik nafasnya dalam..


putra nya itu sudah satu tahun usia nya..


di tambah masa kehamilan Nisa ±10bulan..


sudah lama juga ternyata...


"Nisa"


"hmm... " Nisa sibuk meniup bubur yang hendak ia berikan pada Yoga,


"boleh aku bertanya?? "


"ya.. tapi sambil makan.. " Nisa menyuapi lagi Yoga,


"apa kamu ga berniat menikah lagi?? “


Nisa tidak bergeming.. ia mengaduk bubur seolah mencari kegiatan agar tidak bertatap mata dengan Yoga..


" aku belum kepikiran itu,


aku mau fokus sama Razky dulu.. "


"Nisa,


kamu fokus sama Razky, dan aku juga fokus sama Razky, kenapa kita ga sama sama fokus buat dia?? “


Nisa akhir nya memberanikan diri menatap Yoga. dia tau sangat arah tujuan percakapan ini..


" Yoga, kamu tau rasa nya di tinggal pergi selama lama nya oleh orang yang sedang kamu sayang sayang nya? “


Yoga mengangguk,


"aku hampir gila saat tau kamu meninggal dulu Nisa"


"itu lah yang aku rasa..


rasa nya masih kemarin mas Adnan meninggal, waktu begitu cepat berlalu, tapi engga dengan masalah hati,


entah lah. aku masih berharap mas Adnan sedang pergi, dan suatu saat akan kembali... "


bubur di mangkuk habis,


Nisa memberikan gelas untuk Yoga minum air nya,


"jadi apa arti nya perhatian kamu sama aku kalo ga berdasarkan perasaan? “


Nisa diam sejenak,


" Yoga..


suatu perhatian itu ga perlu rasa sayang layak nya pasangan...


aku perhatian sama kamu karna kita dekat, kamu ayah dari anak ku"


"jadi itu seperti perasaan pada teman? “ tanya Yoga telak,


" aku ga tau Yoga.. "


"kasih aku jawaban Nisa..


karna itu akan menentukan bagaimana aku harus hidup.. kamu tau aku begitu lama bergantung pada perasaan ku pada mu.. jadi aku harap ada ketegasan dalam hubungan kita.. "


Nisa diam.. tangan nya memutar tutup botol air mineral yang telah ia tuangkan tadi...


"Yoga, berbahagialah walaupun ga sama aku,


kamu berhak dapetin yang lebih, jangan stak di satu titik,..


kamu masih muda, mapan, dan wajah kamu juga ga jelek jelek amat"


Yoga cemberut mendengar itu.. Nisa hampir saja tertawa mengatakan nya,


"jadi itu penilaian kamu buat aku? “


" ya itu kenyataan nya"


"jawab sekali lagi Nisa..


kamu ga punya perasaan sama aku?? “


Nisa menggeleng lemah


" lalu, kenapa waktu malam saat Jimmy mau cium kamu kamu ga mau? kamu malah cium aku di mobil?? "


Nisa kelabakan,


pertanyaan macam apa itu?


"Yoga maksud kamu apa?,


" kamu ga punya perasaan sama Jimmy, makanya kamu ga mau di cium sama dia..


lalu sama aku? malah kamu yang cium aku"


"yoga itu karna obat"


"jika itu efek obat. apa bedanya di lampias kan sama aku atau Jimmy??? '