
"Nisa, lusa, aku akan bertunangan dengan Fanny"
Nisa menatap Yoga, Yoga terlihat sungguh sungguh mengatakan nya
"itu kabar baik Yoga, aku senang mendengar nya" Nisa tersenyum sumringah, senyum yang jarang sekali Yoga lihat dari Nisa saat mereka berhadapan,..
"kamu senang?? “
" tentu Yoga, bukan kah ini yang pernah aku bilang sama kamu?
jadi kado apa yang harus aku siapkan untuk kalian?? "
Yoga sungguh tidak suka itu, ia menatap mata Nisa, benarkah Nisa senang mendengar ini, raut wajah nya mengatakan itu,
tanpa berkata lagi Yoga bangkit,
ia keluar ruangan nya dengan sedikit membanting pintu saat menutup nya.
Nisa tersenyum kecut,.
entah mengapa airmata nya ingin keluar, hati nya bergejolak, jantung nya bergemuruh,
bukan kah ini yang pernah ia bilang pada Yoga, tapi kenapa saat Yoga mengabulkan nya hati Nisa tak karuan..
**
entah kemana Yoga pergi, ia belum kembali saat jam makan siang, Nisa yang sangat malas pergi ke luar memutuskan memesan makanan dari resto sang ayah,
"ayah kenapa ada 2box makanan nya? Nisa kan pesen satu? “
Nisa menelpon ayah nya,
" sayang satu lagi buat Yoga, kalian se ruangan kan?? "
Nisa menatap bungkus makanan yang baru saja datang itu,
"baiklah.. makasih ya yah.. "
"sama sama nak"
Nisa mulai makan,
bersamaan dengan kedatangan Yoga,
"Yoga ayah kirim makanan buat kamu"
Nisa menggeser bungkus makanan, Yoga memperhatikan nya,
"makan lah mumpung masih anget"
"aku mau makan sama Fanny, kita udah janjian"
Nisa mengangguk, ia melanjutkan makan,
namun HP nya berbunyi,
telpon dari bi Yuni di rumah..
"hallo bi"
"non... maafin bibi ya.. Razky jatoh, nangis nya kencang sekali bibi takut"
"ya Allah.. sekarang gimana Razky nya bi?? “
" kening nya bengkak kebiruan non, maaf hickkk" bi Yuni menangis, Nisa mendengar putra nya menangis di sana..
"ada apa?? " Yoga panik.
"Razky jatoh.. aku harus pulang.. " Nisa bangun, langsung membereskan tas nya..
"Nisa... "
"ayo aku antar, aku takut ada apa apa sama kami kalo nyetir sendiri dalam keadaan panik,
kita bawa ke rumah sakit"
Nisa mengangguk,
mereka beriringan untuk segera pulang...
"Yoga kamu udah janjian kan sama Fanny,
biar Beny aja yang antar aku pulang" Nisa menghentikan langkah nya saat menuju mobil
"Razky lebih penting Nisa"
Nisa tersenyum.
"apa kalau aku sakit kamu akan memprioritaskan aku dari pada Fanny Yoga? “ entah mengapa Nisa sangat ingin menanyakan itu, namun pertanyaan nya hanya sampai di kerongkongan
HP Yoga terdengar berdering, Yoga merogoh saku celana nya
" iya sayang..
maaf ya kita kayanya ga jadi makan, Razky jatuh, aku lagi di jalan pulang ke rumah Nisa,
aku mau bawa dia ke rumah sakit"
"maaf ya sayang.. "
Nisa membuang wajah mendengar itu,
seolah Yoga mengucap sayang pada Fanny pas di telinga nya..
tanpa ada pembicaraan antara mereka di mobil, mereka sampai..
Nisa ikut menangis melihat kondisi anak nya, ternyata bukan hanya Razky, bi ?Yuni juga terluka, lengan nya berdarah..
"bi gimana cerita nya? kenapa kalian jatoh?? "
"maaf non, Razky nangis, bibi gendong, bibi ajak ke belakang, bibi kepeleset pas turun tangga, kayanya Razky kena tangga nya non, bibi juga ga ngeliat pasti soal nya bibi juga jatoh"
"ya udah ga apa apa, ayo, bibi juga harus ke rumah sakit sekalian periksa.. "
"bibi ga apa apa non, Razky aja.. "
"engga bi.. bibi harus ikut"
tanpa berlama lama, mereka pergi..
benjolan di kening nya begitu besar ke unguan, Razky menangis sampai sesegukan,
Yoga menggendong nya,
putra nya itu sangat kuat, Yoga sampai kewalahan,
bi Yuni menerangkan bagaimana proses musibah itu terjadi, pada dokter.
Razky seperti kesakitan pada pundak nya, karna saat tangan nya bergerak ia menangis sangat kencang.
Yoga melihat Nisa menangis,
ia mendekat, mengusap punggung Nisa memberi ketenangan,
"ga akan terjadi apa apa sama anak kita, percaya lah"
"aku selalu takut, Razky lagi susah makan aja pikiran aku udah kemana mana, apa lagi ini.. dia pasti kesakitan"
Yoga memeluk Nisa, jujur ia juga sangat cemas, Razky belum bisa bicara mengadu rasa sakit nya, apa lagi benjolan di kening nya, Yoga sangat tidak tega.
"apa harus rontgen dok? “ tanya Yoga
" akan kami lakukan jika orang tua meminta nya pak, agar memastikan hasil nya"
"lakukan lah dok"
"baik Pak"
Nisa tidak enak diam,
ia mondar mandir di depan ruang rontgen, Razky terdengar menangis,
"kenapa lama sekali sih? kasihan putra ku"
Yoga pun tampak kesal,
tanpa Yoga duga, Fanny datang menyusul nya,
"sayang apa yang terjadi apa parah?? “
" kamu ke sini? " tanya Yoga
"ya aku khawatir"
"kita cuma mastiin kalo Razky ga apa apa, aku minta rontgen"
"mba Nisa. yang sabar ya" ucap Fanny
Nisa menoleh, ia gagal fokus pada tangan Fanny yang melingkar di lengan Yoga,
"makasih" dengan senyum seadanya Nisa memalingkan wajah..
entah kenapa hari ini begitu menyesakkan dada.