Annisa

Annisa
bertemu



"handphone kamu ga aktif dek?? (Riko bertanya)


" maaf mas, aku lupa isi batrai nya"


mata nisa berkaca kaca,


Riko mengelus pipi nya, nisa menghindar, Riko sedikit terkejut,


"maaf mas.. "


nisa merasa jijik pada diri nya sendiri, ia sudah tak ada harga nya lagi, bahkan mungkin sudah tak pantas untuk Riko


"istirahat lah, apa perlu mas bawa ke dokter? "


"ga apa apa mas, nisa baik baik aja"


"baik lah, cas HP nya dek, mas khawatir, jadi mas bisa telpon kamu"


"iya.. (nisa tersenyum se ada nya, menghindari kontak mata dengan Riko)


" mas kerja dulu ya, biar mas yang kasih kabar ke kantor kalo kamu sakit, assalamu'alaikum "


nisa mengangguk, Waalaikumsalam...


Riko merasa nisa berbeda, ia tak seceria biasa nya, apa mungkin karna sakit??


nisa juga tadi menghindar Riko menyentuh pipi nya, apa nisa marah karna Riko mencium nya di mobil kemarin malam??


pikiran Riko sedikit terganggu, semoga ini hanya perasaan nya saja


rena hanya melamun, ia mengaduk aduk sarapan nya yang terlambat,


ibu dan ayah pergi ke restoran,


ia sendiri, bi yuni pun pulang setelah tugas nya selesai..


sekelebat wajah lelaki berengsek itu terekam di mata nya, nisa ingat sorot mata itu, ia tak akan pernah lupa,


mengusap wajah nya dengan telapak tangan, nisa memikirkan bagaimana hubungan nya dengan Riko, ia baru saja dekat dengan Riko,.


untuk sementara ia akan pendam semua sendiri, ia akan menakar seberapa kuat ia bertahan,


membereskan piring makan nya, nisa kembali ke kamar, ia melihat catatan yang lelaki itu buat,


dia bilang aku harus menghindar jika tak sengaja bertemu,


tidak, yang akan aku lakukan adalah menyobek cek ini, melemparkan kepingan nya di wajah nya, nisa merasa sangat terhina, ke sucian nya de beli dengan cara seperti ini.


yoga berjalan, membuka satu ruangan yang ia ketahui adalah sebuah kamar, tirai tipis berwarna putih berkejaran tertiup angin, samar ia melihat wanita tertidur membelakangi nya, wanita itu menangis, pelan, sangat menyayat...


yoga terbangun dari tidur nya,


wajah nya di penuhi keringat,


mimpi macam apa itu tadi?? yoga sedikit ketakutan, ini jam 2.45 subuh ia turun dari ranjang nya, membawa sebotol air minum, meneguk nya hampir habis..


teringat lagi pada mimpi nya, tangisan itu seperti suara tangisan Annisa, namun kenapa wanita di mimpinya tak terlihat jelas, yoga prustasi, ia memijat kening nya, kepalanya terasa pusing,


hingga pagi datang, ia tak bisa tidur,


**


hari berganti, nisa bertekad menjalani hidup seperti biasa, percuma saja ia terpuruk, mungkin si berengsek itu sedang bersenang senang.


Riko datang menjemput nya,


mereka pergi ke kantor bersama


"bagaimana? apa sudah baikan?? " (tanya Riko)


"nisa lebih baik mas, makasih udh khawatir"


"jangan sungkan dek"


hari hari berjalan seperti biasa nya, nisa sudah kembali ke nisa yang dulu,


abang nya heran, ada apa dengan adik nya itu??


"nisa kangen bang Rendy"


Rendy tersenyum puas, adik kecil nya itu merasakan juga rasa kangen pada nya


**


sahabat nya Mia sempat bertanya, mengapa ia tak datang di pertunangan luna, padahal setau Mia, nisa sudah dalam perjalanan malam itu,


nisa memberi alasan ia kurang sehat, ia pulang lagi ke rumah malam itu..


nisa menyiapkan mental nya, ia hari ini bersama bu Retno dan satu rekan nya lagi pak arif ada jadwal meeting ke perusahaan xx, mempresentasikan program apa saja yang mereka punya, untuk perkreditan.


yoga bersiap, beberapa malam ini tidurnya terganggu, mimpi yang sama selalu hadir pada nya,..


hari ini akan ada meeting dengan bank yang akan bekerja sama dengan perusahaan nya, bagian keuangan di pratama group mengajukan pinjaman untuk para karyawan nya..


yoga tinggal di rumah besar ini sendiri, orang tua nya ada di kota sebelah, papih nya yang tak lain pak pratama memberikan nya tanggung jawab memegang kendali di perusahaan,


papi hanya sebulan sekali ke kota ini, itu pun kalo dia mau,


setelah sarapan,


yoga berangkat ke kantor, beny sudah siap siaga di depan,


di mobil


"ben.. (yoga memanggil assisten nya itu)


" iya bos?


"siapa wanita saat malam itu??


beny tau arah pembicaraan bos nya,


" saya ga tau bos, gadis itu datang, saat saya menunggu wanita yang saya pesan, saya kira dia wanita itu,


tapi setelah saya bawa masuk gadis itu, beberapa menit kemudian, gadis pesanan saya baru datang"


yoga tambah gusar, betul kan ini kesalahan, dia membuat anak orang lain ternoda, dengan cara yang keji pula..


tak ada obrolan lagi di dalam mobil, beny meminta maaf untuk hal itu,


memasuki ruangan nya, jam berapa kita akan meeting dian? (yoga bertanya pada sekretaris nya)


jam 9 pak, sebentar lagi,


di bawah gedung, nisa arif dan bu Retno sampai di perusahaan pratama group ya perusahaan ini lah yang akan bekerja sama kali ini,


menunggu sang receptionist, nisa melihat sekitar, gedung yang sangat megah, ia membaca ada 300an karyawan di kantor pusat yang akan mengajukan pinjaman, belum lagi kalo ini sudah berjalan, kantor cabang akan segera menyusul..


"ibu,bapak, mari ikuti saya, akan saya langsung antar ke atas ke ruang meeting, pak bos sudah siap"


nisa arif dan bu Retno mengikuti gadis ber rambut pendek itu, menaiki lift mereka berhenti di lantai 8 lantai teratas di gedung perkantoran ini,


langsung memasuki ruang meeting, sudah ada beberapa orang dari bagian ke uangan dan ke pegawaian,


nisa , arif dan bu Retno menyalami semua nya,


mereka duduk di tempat yang telah di sediakan nisa duduk di dekat pintu ruangan, bu Retno yang lebih senior di samping nya,


nisa sedikit gugup, walaupun ini bukan pertama kali menjadi tugas nya, namun ini perusahaan terbesar tahun ini yang akan bekerja sama.


kurang lebih 5menit mereka menunggu, akhir nya bos nya datang juga, nisa ikut bangkit, menyambut kedatangan bos di perusahaan pratama group itu,


seketika tubuh nya kaku, melihat siapa yang masuk ke ruang meeting,


mata itu, nisa mengenali nya, lelaki berperawakan tinggi, tubuh nya proposional, sangat pas dan gagah dengan jas yang ia kenakan,


staff yang hadir di ruangan, menundukan kepala nya memberi hormat, namun tidak dengan nisa, ia terpaku, tangan nya mengepal kuat menahan amarah nya, hingga kuku kuku nya memutih,