Annisa

Annisa
terungkap



ayah harus mendapat perawatan,


nisa mendapat kabar dari abang nya, ada kata kata yang melukai hati nya, lengkap sudah penderitaan nya,


"jangan keluar rumah se jengkal pun, abang akan nyuruh bisa yuni ngawasin kamu,


gara gara kamu ayah sakit,


abang juga akan memberikan surat resign ke kantor kamu, mulai hari ini dan seterusnya nya kamu abang kurung di rumah"


nisa tidak menjawab apa apa atas pernyataan abang nya, hanya air mata yang slalu emnetes tanpa ijin. nisa sadar ia salah.


ibu menunggu ayah di RS, sedangkan bang Rendy pergi ke kantor nya, ia juga akan mengurus surat cuti nya untuk beberapa hari, tidak bisa di pastikan ayah akan di rawat berapa hari,


tak mungkin ibu mengurus ayah sendiri..


ketika suara bel rumah nya berbunyi, nisa sedang mencuci piring, ia suntuk dari tadi hanya di kamar,


sedikit khawatir, nisa takut yoga yang datang,


ting nong,..


"biar bibi yang buka non"


nisa membersihkan tangan nya,


menunggu kabar dari bi yuni siapa yang datang,


"non, ada mas Riko, sudah bibi suruh duduk di ruang tamu"


ya allah, apa yang harus aku katakan pada nya, apa Riko sudah tau semua nya..


pikiran nisa berlarian lagi, di pandang nya cincin pemberian Riko,


ini harus ia hadapi, InsyaAllah dia kuat


nisa pergi ke ruang tamu, Riko bangun melihat nya datang,


Riko tersenyum,


ya dia selalu begitu, apa pun situasi nya dia slalu tersenyum.


"mass, (nisa menghampiri nya)


tanpa nisa duga, Riko memeluk nya


" kamu masih sakit ya, pucat sekali"


hanya mampu menganggukan kepala nya,


nisa menenggelamkan wajah nya di dada Riko


maaf mass, nisa mengecewakan kamu dan keluarga, tangan nya menggenggam baju yang Riko pakai, nisa tak berani membalas pelukan nya, nisa merasa bersalah,


melepaskan pelukan nya,


"mas dengar ayah di bawa ke RS, ayah kenapa? "


"tadi sesak, terus pingsan.. " (nisa tak berani menatap mata Riko langsung, dia Gelagapan)


"nisa, (riko menangkup pipi nisa dengan ke dua tangan nya) liat mas, (nisa tak berani ia menundukan kepala nya)


nisaaa (Riko memanggil nya lagi)


memberanikan diri, nisa menatap nya..


" ada apa? mas perhatikan kamu seperti murung, HP kamu sering ga aktif, pesan yang mas kirim pun kamu ga balas"


"ga ada mas, nisa ga apa apa, nisa lagi kurang sehat saja"


" mas tau kamu kurang sehat nisa, tapi bukan itu, kamu menyembunyikan sesuatu.


(nisa tak menjawab apa pun)


"siapa yang ngirim kamu bunga hari itu? "


nisa terkejut, Riko masih mengingat nya,


"bu Retno bilang, seseorang datang mengirim bunga, dan kamu membuang nya setelah menerima telpon, apa ada yang ganggu kamu nisa? "


nisa semakin gusar, sudah lah ia tak akan Berbohong lagi,


"iya mas, seseorang mengirim bunga, tapi nisa ga suka, jadi nisa buang"


"siapa??


" apa bunga itu pemberian dari pemilik perusahaan pratama?? "


tertangkap sudah diri nya kini,


"iya mas... "


"apa itu yoga?


kita bertemu dengan nya saat acara lamaran, dan mas memperhatikan kamu sangat tidak nyaman,


apa dia ganggu kamu? “


syukurlah, mas Riko belum tau semua nya, nisa sedikit lega..


" mas, dia ga ganggu nisa, cuma hari itu ngirim bunga aja, dia berterimakasih atas kerjasama kita, tapi nisa ga suka sama dia, jadi nisa buang aja bunga nya, udah itu aja"


Riko merasa bersalah, ia terlalu banyak bertanya,


"maaf nisa mas banyak bertanya, bukan mas bermaksud curiga atau ga percaya, cuma mas perhatiin kamu seperti menyimpan beban,


mas siap kalo kamu mau cerita, bukan kah kita sudah berencana menikah? , kita belajar saling terbuka oke"


nisa mengangguk, ia menangis, Riko memeluk nya lagi.


"mas akan ke RS, jenguk ayah, kamu mau ikut?? “


" bang Rendy minta nisa diam di rumah mas, mungkin nanti kita akan gantian jaga ayah"


"baiklah, kamu juga istirahat, biar cepet sehat"


nisa memaksakan senyum,


Riko pamit...


ya Allah, kenapa sulit untuk jujur,


nisa ga tega sama mas Riko.


yoga melihat mobil Riko keluar dari gerbang rumah nisa, ia sudah dua jam di sini, memperhatikan keadaan nisa, berharap nisa keluar rumah, yoga merindukan nya,


yoga juga melihat mobil riko datang tadi,


***


beberapa hari berlalu,


ayah sudah pulang, namun ia masih lemah,


nisa jadi seperti orang asing di rumah nya,


ibu dan bang Rendy sedikit mendiamkan nya,


beberapa hari ini pun mereka tidak makan bersama seperti biasa, ***** makan nisa menurun drastis, pipi nya nampak tirus,


nisa makan jika ia merasa sudah sangat lapar, itu pun harus ia keluarkan lagi karena mual,


kehamilan ini menyiksa nya


ayah pun hanya berbicara se ada nya pada nisa, tak ada canda, bahkan senyum pun tidak.


nisa semakin merasa bersalah saja.


open


nisa pun membatasi komunikasi nya dengan Mia dan luna, ia tidak mau lebih banyak orang lagi yang tau.


namun kabar resign nya membuat nisa tak bisa menghindar dari pertanyaan teman nya itu, Mia dan luna menelpon bergantian


"nisa, kamu sakit apa sih, ko sampai resign?? (tanya Mia penasaran)


" aku ga apa apa mia"


"apa karena mau nikah kamu resign?? "


nisa seperti mereka dapatkan ide, nisa meng iyakan saja hal itu, semoga Mia tidak curiga


"owhhh co cweet bnget sih kalian, jadi mas Riko ga ngijinin kamu kerja lagi ya?? "


"ya begitulah Mia (nisa tertawa kecil) "


"pacar yang posesif sekali, apa lg nanti sudah nikah ya ahahaaa"


biarlah, sejenak kabar itu yang mencuat di kantor nya, nisa tidak tahu kalo teras depan bang Rendy sedang berbicara dengan mas Riko..


***


Rendy ragu, dan tak tau bagaimana bahasa yang halus untuk menyampaikan kabar ini pada Riko, Riko bertanya pada nya kenapa nisa resign??


Riko memperhatikan calon abang nya itu, ia napak tegang,


"ren, lo baik baik aja?? ko diem aja gitu“


menghilangkan ke gugupan nya, Rendy menyeruput kopi yang bi yuni suguhkan.


" ko, ada hal penting yang mau gue sampein"


Riko mengangguk


" tenang aja bang, gue punya banyak waktu"


"nisa hamil"


Riko baru saja akan membawa cangkir kopi nya mendekat, namun ia urungkan,


apa maksud Rendy mengatakan itu, untuk sekedar becanda saja ini tidak pantas


"maksud lo apa ren? "


"nisa hamil"


"hamil?? (Riko menegaskan, ia takut telinga nya salah mendengar)


Rendy mengangguk,


mereka terdiam, Riko merasa tidak pernah melakukan apa apa pada nisa, mereka pernah berciuman saja, apakah itu membuat nisa hamil??


" gue masih ga ngerti ren"


"nisa di perkosa"


duarrrr,


bagai suara petasan berentet yang di nyalakan selepas akad nikah Riko terkejut, juga tak percaya kata kata abang nya itu.


"lo jangan becanda ren ini ga lucu"


"gue ga becanda ko,


usia kandungan nya udh 5 minggu.. "


bertumpu pada lutut nya, Riko mengetuk ngetuk ngetuk kepalan tangan nya ke mulut,


"siapa yang ngelakuin nya ren? "


Rendy menggeleng,


"nisa pun ga tau siapa lelaki sialan itu, dia bilang dia ga kenal"


otak Riko mendadak kram, ia ga bisa mencerna apa apa.


"nisa bilang kejadian nya waktu dia dateng ke hotel tempat luna tunangan,


Riko ingat, itu saat ibu nya di rawat, ia mengantar nisa pulang, karna nisa akan menghadiri pertunangan luna,


" gue inget ren, gue bego ga anterin nisa ke sana, mamah gue masuk rumah sakit saat itu, gue cuma bisa anter nisa pulang ke rumah, dan dia berangkat sendiri..


ya Allah nisa... ( Riko prustasi, ia menyandarkan punggung nya di kursi, ia juga merasa bersalah) "


"sudah harus seperti itu mungkin kejadian nya ko,


gue juga gagal lagi jaga adek gue satu satu nya, ini yang gue takutin, gue jaga dia se ketat mungkin, ini yang gue takutin ko, gue ga bisa jamin laki laki di luar sana semua nya baik"


Riko termenung,


mereka tak menyadari nisa sejak tadi di pintu, mendengar semua nya,


nisa berniat membuat teh hangat, saat bi yuni membuat kopi untuk abang dan Riko,


"masss (nisa memanggil Riko, bang Rendy dan Riko menoleh, nisa sudah menangis di sana)"


Riko menghampiri nya, memeluknya erat, tangis nisa pecah, akhir nya Riko tau juga..


"maafin nisa mas... ( mata Riko memerah, kenapa ini harus terjadi, di saat ia dan nisa sudah merencanakan pernikahan..


Rendy meninggalkan kedua nya, mereka butuh privasi,