
Nisa benar benar lelah..
entah fisik maupun hati nya, dulu menghadapi kenyataan orang yang ia sayang akan menikah rasa nya ga seperti ini,
tapi mengetahui Yoga akan pergi kenapa dia yang seakan ga rela.
Nisa membuka pintu ruangan nya dengan malas,
beberapa hari ini entah kenapa Yoga datang lebih awal dari nya,
Nisa menunduk saat Yoga menatap nya,
"ko masuk kerja, Razky gimana? “ tanya Yoga
" ada ibu di rumah.. "
Nisa duduk sedikit menjatuhkan tubuh nya,
"Yoga papah telpon aku tadi"
"oya.. apa katanya? “
" papah bilang kamu mau di tugasin di Australia "
"jadi papah sudah cerita?
udah seminggu yang lalu papah bilang sama aku, cuma aku belum kasih jawaban.. "
"lalu kapan kamu mau pergi? “
"mungkin setelah pertunangan ku Nisa"
Nisa mengangguk,
"baiklah, ayo kita selesaikan semua nya Yoga,
aku ga mau jadi penghalang kehidupan mu"
"maksud kamu? “
Yoga mendekat pada Nisa,
" kamu udah ngajarin banyak hal buat aku soal bisnis, pertunangan kamu juga besok kan?
kamu akan pergi setelah bertunangan, berarti waktu nya sebentar lagi kan? “
"kamu yakin?? " Yoga semakin mendekat, ia memutar kursi yang Nisa duduki agar menghadap pada nya, Yoga mengungkung nya
"aku yakin,
tugas kamu sudah selesai Yoga"
"tatap mata aku Nisa,
apa benar kamu akan baik baik saja, kalau aku lepas kamu"
"aku yakin, lagian ini resiko aku kan? sebagai pemilik perusahaan ini"
"yakin hanya itu?? " tanya Yoga
"lalu bagaimana dengan urusan hati Nisa?? "
"maksud kamu apa? “ Nisa bingung,
Yoga mendekat, ia meraih tengkuk Nisa dan memberikan kecupan di bibir nya sedikit lama,
Yoga melepaskan nya, jarak antara mereka masih sangat dekat, Yoga menatap lekat mata Nisa, Nisa tidak menolak perlakuan nya ini,
mencoba mengulangi nya lagi, kini Yoga bermain di sana, ia merasa Nisa membalas nya,
ciuman itu tidak terburu buru, namun kedua nya begitu menikmati,
Nisa menyentuh dada Yoga, ia menghentikan nya, mendorong nya pelan untuk menjauh,
"maaf" Nisa menunduk
"kenapa kamu ga nolak Nisa? "
"entah lah Yoga"
Yoga melirik bibir Nisa beberapa kali, ingin sekali ia mengulangi nya,
" Yoga, ayo kita kerja, mungkin kamu perlu menyerahkan dokumen dokumen penting perusahaan buat aku?? “
Yoga mengangguk,
ia menjauh lagi dari meja Nisa,
"Nisa bodoh, apa yang kamu lakukan?? apa nanti pikiran Yoga tentang kamu??? “
Nisa sulit berkonsentrasi,
ada Dian juga membantu Nisa merapihkan dokumen dokumen rahasia,
" ada Beny dan Dian yang bisa kamu percaya Nisa, mereka sudah aku sumpah untuk setia pada perusahaan kita "
"aku ga meragukan kalian"
***
Yoga terus memperhatikan Nisa, benar kata ibu Nisa terlihat tidak bersemangat,
"jadi dimana besok acara pertunangan kalian?? “
Nisa menyendok makanan nya, ia dan Yoga sedang makan siang,
"di suatu tempat" jawab Yoga
"papah ga ngomongin soal pertunangan kamu tadi di telpon, mamah bilang kangen pada Razky, mereka akan datang kan?? “
Yoga terdiam,
" ini sebenar nya hanya antara aku dan Fanny saja, ga ada acara, nanti saja sekalian lamaran acara nya"
"kamu akan pergi Yoga, apa akan meninggalkan Fanny?? “
" ya paling nanti aku pulang saat mau menikah, setelah menikah akan aku bawa Fanny ke Australia "
"jangan tunda lama lama Yoga, LDR itu sulit"
Yoga tidak merespon, membuat Nisa menoleh pada nya, mata mereka bertemu, Nisa langsung membuang pandangan nya,
"aku udah selesai, aku ke toilet dulu ya" Nisa pamit, perasaan macam apa ini, hati nya begitu lemah
makanan nya belum habis, tapi Nisa sudah meninggalkan nya,
memandang kaca di depan toilet, Nisa menertawakan diri nya sendiri..
"hey kamu yang minta sama yoga buat lupain kamu, dan cari yang lain, sekarang, saat dia akan pergi kenapa kamu malah ingin melarang nya?? “
Nisa membasuh wajah nya agar terlihat fresh..
ia kembali ke meja nya,
" sudah selesai? " tanya Yoga
"ya.. kamu udah? ayo balik ke kantor, pekerjaan kita masih banyak"
Yoga hanya bisa menurut,
mereka kembali ke kantor dan benar benar bekerja sampai sore hari..
**
Nisa membuat kopi,
ada bang Rendy datang berkunjung dengan istri nya..
setelah menikah alhamdulillah bang Rendy langsung pindah ke rumah yang ia beli sejak membujang, Irma istri bang Rendy sangat menyukai Razky mereka sedang bermain dengan ibu...
"makasih dek"
Nisa tersenyum. ia menyuguhkan kue juga untuk abang nya,
"abang denger Yoga akan ke luar negeri? “
" iya bang, perusahaan di sana sedang berkembang, papah mengirim Yoga ke sana"
"itu akan memerlukan waktu yang lama, bisa bisa Yoga menetap di sana" bang Rendy mengambil sepotong kue, ia memakan nya.
"ya mungkin bang.. "
"kamu yakin udah menguasai semua nya Nisa?
bisnis itu begitu banyak tantangan banyak hal baru di setiap proses nya"
"ya mau bagaimana lagi bang,
papah juga memerlukan Yoga, terlebih yang di Australia benar benar bisnis mereka, yang di sini kan bagian mas Adnan"
Rendy mengangguk,
"lalu bagaimana hubungan kalian?? “
Nisa menatap abang nya,
" hubungan apa? “
" ya, hubungan pribadi?? “
"ga ada apa apa antara kita bang,
besok juga Yoga akan bertunangan dengan pacar nya yang ia bawa di pernikahan abang kemarin"
"bagus lah, setidak nya dia jadi ga ngejar ngejar kamu lagi kan dek? walaupun abang melihat dia telah banyak berubah"
Nisa diam,
"oiya, bang mobil yang dulu mas Adnan pakai saat kecelakaan sudah selesai di perbaiki, apa Nisa jual saja ya? " Nisa mengalihkan pembicaraan.. dada nya terasa sesak akhir akhir ini membicarakan Yoga